TEMA SEMESTER: KISAH PARA RASUL
PELAJARAN 4, SABAT 3 FEBRUARI 2024
Diubahkan oleh Kristus
| “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.” Kisah 4:13. |
“Orang-orang yang baru bertobat kepada iman yang baru bertambah dengan cepatnya, dan baik orang Farisi maupun orang Saduki sepakat bahwa jika guru-guru yang baru ini dibiarkan dengan tidak dikendalikan, maka pengaruh mereka sendiri akan berada dalam bahaya yang lebih besar daripada sewaktu Yesus berada di dunia ini.” –The Acts of the Apostles, hal. 60.
SADUKI
MINGGU
1. Siapakah orang-orang Saduki, dan apakah yang mereka percayai?
Kisah 4:1, 2; 23:8. Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. 2Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. …. 23:8Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya.
“Sementara murid-murid sedang berbicara kepada orang banyak, “mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang- orang Saduki. Orang-orang itu sangat marah karena mereka itu mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati.”
“Sesudah kebangkitan Kristus imam-imam telah menyebarkan ke mana-mana kabar bohong bahwa tubuh-Nya telah dicuri oleh murid-muridNya sementara pengawal Roma tertidur. Tidaklah mengherankan bahwa mereka menjadi tidak senang bila mereka mendengar Petrus dan Yohanes mengkhotbahkan kebangkitan Seorang yang mereka telah bunuh. Terutama orang Saduki amatlah tersinggung. Mereka merasa bahwa doktrin yang paling mereka sukai sedang berada dalam bahaya, dan bahwa reputasi mereka sedang dipertaruhkan.” –The Acts of the Apostles, hal. 60.
INTEROGASI
SENIN
2. Pertanyaan mengintimidasi apakah yang diajukan para imam kepada Petrus dan Yohanes?
Kisah 4:3-7. Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. 4Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki. 5Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem 6dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. 7Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: “Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?”
“Dengan keberanian yang kudus dan dalam kuasa Roh, Petrus menyatakan dengan tanpa ragu: “Ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—namun Ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain dari Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”
“Pertahanan yang berani ini menakutkan para pemimpin Yahudi. Mereka menyangka bahwa murid-murid akan dikalahkan oleh ketakutan dan kekacauan bila dibawa di hadapan Sanhedrin. Tetapi sebaliknya, saksi-saksi ini justru berbicara seperti Kristus telah berbicara, yakni dengan kuasa yang meyakinkan yang telah mendiamkan musuh-musuh mereka.” –The Acts of the Apostles, hal. 63.
SELASA
3. Batu apakah yang dimaksud rasul Petrus?
Kisah 4:11. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan–yaitu kamu sendiri–,namun ia telah menjadi batu penjuru.
Yesaya 28:16. sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah!
“Dalam hal ini Petrus berbicara dengan menggunakan gambaran yang dipahami oleh imam-imam. Nabi-nabi telah menyatakan tentang batu yang ditolak; dah Kristus sendiri, yang pernah berbicara pada suatu kesempatan kepada imam-imam dan tua-tua, berkata: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. Dan barang siapa jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan barangsiapa ditimpa batu itu, ia akan remuk.” Matius 21:42-44.” –The Acts of the Apostles, hal. 64. “Dalam mengutip nubuatan tentang batu yang ditolak, Kristus menunjuk kepada suatu kejadian yang sebenarnya dalam sejarah Israel. Peristiwa itu dihubungkan dengan pembangunan Bait Suci yang mula-mula. Meskipun peristiwa itu mempunyai penggunaan khusus pada masa kedatangan Kristus yang pertama kalinya, dan seharusnya mendapat perhatian utama di pihak orang Yahudi, namun hal itu juga mempunyai suatu pelajaran bagi kita. Ketika Bait Suci didirikan oleh Salomo, batu-batu besar untuk temboknya serta dasarnya seluruhnya disediakan di tempat penggalian batu; setelah batu-batu itu dibawa ke tempat pembangunan, tidak ada perkakas yang dapat digunakan mengolahnya, para pekerja hanya menaruhnya di tempatnya. Untuk dasarnya, satu batu yang luar biasa ukurannya dan aneh bentuknya telah dibawa, tetapi para pekerja tidak dapat menemukan tempat untuk batu itu, dan tidak mau menerimanya. Batu itu merupakan suatu gangguan bagi mereka sebab terletak dalam keadaan tidak dapat digunakan di tempat mereka bekerja. Lama sekali batu itu dibiarkan sebagai batu yang ditolak. Tetapi ketika tukang-tukang hendak meletakkan batu penjuru, lama benar mereka mencari sebuah batu yang cukup besar dan kuat, dan tepat benar ukurannya, untuk mengambil tempat tertentu itu, dan menanggung berat yang luar biasa yang akan dibebankan di atasnya. Sekiranya mereka mengadakan suatu pilihan yang kurang bijaksana untuk tempat penting ini, keamanan segenap bangunan akan terancam bahaya. Mereka harus mencari sebuah batu yang sanggup menahan pengaruh matahari, salju, dan topan. Beberapa batu sudah dipilih pada berbagai-bagai saat, tetapi di bawah tekanan berat yang luar biasa batu-batu itu remuk berkeping-keping. Batu-batu yang lain tidak dapat menahan ujian perubahan iklim yang tiba-tiba. Tetapi pada akhirnya perhatian mereka kemudian tertuju pada batu yang sudah begitu lama ditolak. Batu itu sudah kena udara, matahari dan topan, tanpa menunjukkan adanya keretakan sedikit pun. Para tukang menyelidiki batu itu. Batu itu telah menahan setiap ujian, kecuali satu ujian lagi. Jika batu itu dapat menahan ujian tekanan yang luar biasa, mereka memutuskan menerimanya untuk batu penjuru. Ujian diadakan. Batu itu pun diterima, dibawa ke tempatnya, dan ternyata paling cocok.” –The Desire of Ages, hal. 597.
DIUBAHKAN OLEH KASIH KARUNIA
RABU
4. Perubahan apa yang dapat dilihat oleh para penguasa dan rakyat yang terjadi pada diri Petrus dan Yohanes? Apa yang diputuskan oleh pihak berwenang?
Kisah 4:13-17. Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. 14Tetapi karena mereka melihat orang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. 15Dan setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, 16dan berkata: “Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem, bahwa mereka telah mengadakan suatu mujizat yang menyolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. 17Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersiar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapapun dalam nama itu.”
“Pada waktu imam-imam mendengarkan perkataan rasul-rasul yang tidak takut itu ‘mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.’” –The Acts of the Apostles, hal. 64. “Mereka semua sepakat bahwa tidak ada gunanya menyangkal bahwa orang tersebut telah disembuhkan melalui kuasa yang telah diberikan kepada para rasul dalam nama Yesus yang disalib. Mereka sebenarnya ingin sekali menutupi mukjizat itu dengan kepalsuan; tetapi pekerjaan itu dilakukan di siang hari dan di hadapan banyak orang, dan telah diketahui oleh ribuan orang. Mereka merasa bahwa pekerjaan ini harus segera dihentikan, jika tidak, maka Yesus akan memperoleh banyak orang yang percaya pada-Nya, lalu aib mereka pun akan terbuka, dan mereka pun akan dianggap bersalah atas pembunuhan Anak Allah.” –The Story of Redemption, hal. 252.
MENAATI ALLAH DI HADAPAN MANUSIA
KAMIS
5. Tanggapan bijaksana apakah yang diberikan para rasul terhadap perintah para penguasa? Saat ini, bagaimana anak-anak Tuhan harus berhubungan dengan perintah penguasa selama perintah ilahi dapat ditaati?
Kisah 4:18-20. Dan setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. 19Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. 20Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.
Matius 22:21. Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Keluaran 20:13. Jangan membunuh.
“Prinsip yang dipegang teguh oleh para murid ketika, sebagai jawaban atas perintah untuk tidak berbicara lagi dalam nama Yesus, mereka menyatakan, “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah,” adalah hal yang sama yang para penganut Injil di zaman Reformasi perjuangkan untuk dipertahankan.
“Kita tidak diminta untuk menentang pihak berwenang. Kata-kata kita, baik lisan maupun tulisan, hendaknya dipertimbangkan dengan hati-hati, jangan sampai kita tercatat sebagai orang-orang yang mengucapkan hal-hal yang akan membuat kita terlihat bertentangan dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Kita tidak boleh mengatakan atau melakukan apa pun yang akan menghalangi jalan kita. Kita harus maju dalam nama Kristus, menganjurkan kebenaran yang dipercayakan kepada kita. Jika kita dilarang oleh manusia untuk melakukan pekerjaan ini, maka kita dapat berkata, seperti para rasul, ‘Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.’” –The Acts of the Apostles, hal. 68, 69.
JUMAT
6.Mengapa rasul-rasul dilepaskan?
Kisah 4:21-23. Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena takut akan orang banyak yang memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. 22Sebab orang yang disembuhkan oleh mujizat itu sudah lebih dari empat puluh tahun umurnya. 23Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.
“Dengan senang hati para imam sebenarnya hendak menghukum orang-orang ini karena kesetiaan mereka yang tak tergoyahkan terhadap panggilan suci mereka, namun mereka takut pada orang banyak; ‘yang memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi.’ Jadi, dengan ancaman dan perintah yang berulang-ulang, para rasul pun dibebaskan.” –The Acts of the Apostles, hal. 67.
SABAT
7. Doa indah apakah yang dipanjatkan oleh orang-orang beriman kepada Tuhan?
Kisah 4:24-31. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: “Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. 25Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? 26Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya. 27Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, 28untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu. 29Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. 30Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.” 31Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.
“Murid-murid berdoa supaya kuasa kekuatan yang lebih besar lagi dapat diberikan kepada mereka dalam pekerjaan pelayanan; karena mereka melihat bahwa mereka akan berhadapan dengan perlawanan yang nekat sebagaimana yang ditemui oleh Kristus sewaktu Ia berada di bumi ini. Sementara doa mereka yang dipersatukan sedang naik ke surga dengan iman, jawabnya pun tiba. Tempat itu di mana mereka berkumpul pun bergoncang, dan mereka dikaruniai lagi dengan Roh Kudus. Hati mereka diisi dengan keberanian, mereka ke luar lagi untuk memasyhurkan sabda Allah di Yerusalem. “Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus,” dan Allah memberkati usaha mereka dengan ajaibnya.” –The Acts of the Apostles, hal. 67.
Untuk Direnungkan
“Prinsip ini harus tetap dipertahankan dengan teguh pada zaman kita. Panji kebenaran dan kebebasan beragama yang dijunjung tinggi oleh pendiri-pendiri jemaat Injil dan oleh saksi-saksi Allah selama abad-abad yang lalu sejak waktu itu, dalam pergumulan yang terakhir ini, telah diserahkan ke tangan kita. Tanggung jawab untuk pemberian yang besar ini terletak pada orang-orang yang telah diberkati oleh Allah dengan pengetahuan akan sabda-Nya. Kita harus menerima perkataan ini sebagai kuasa yang tertinggi. Kita harus mengakui pemerintahan manusia sebagai suatu peraturan yang ditentukan Ilahi, dan mengajarkan penurutan kepadanya sebagai suatu kewajiban yang suci, dalam lingkungannya yang sah. Tetapi apabila tuntutannya berlawanan dengan tuntutan Allah, maka kita harus menurut Allah lebih daripada manusia. Perkataan Allah harus diakui sebagai yang melebihi segala undang-undang manusia. “Demikianlah firman Tuhan” tidak boleh dikesampingkan oleh “Demikianlah kata gereja” atau “Demikianlah kata negara.” Mahkota Kristus harus diangkat melebihi mahkota raja dunia.” –The Acts of the Apostles, hal. 68.