TEMA SEMESTER: KISAH PARA RASUL
PELAJARAN 7: Sabat, 17 Februari 2024
Pengangkatan Tujuh Diakon
“Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu.” Kisah 6:3.
“Penunjukan ketujuh orang untuk mengawasi bidang khusus dari pekerjaan itu, terbukti menjadi berkat besar bagi jemaat. Para pegawai ini memberi perhatian yang teliti kepada keperluan-keperluan pribadi dan juga di bidang keuangan sidang, dan melalui pengelolaan mereka yang bijaksana serta teladan mereka yang saleh, mereka pun menjadi suatu pertolongan yang penting bagi teman sekerja mereka dalam menyatukan berbagai kepentingan jemaat yang bermacam-macam menjadi satu kesatuan yang utuh.” –The Acts of the Apostles, hal. 89.
FITNAH
MINGGU
1. Masalah apa sajakah yang timbul ketika jumlah orang percaya bertambah?
Kisah 6:1. Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.
“Demikianlah terjadi bahwa setelah jumlah murid-murid dilipatgandakan, musuh berhasil membangkitkan prasangka beberapa orang yang dulu biasa memandang dengan perasaan cemburu pada saudara-saudaranya di dalam iman dan mencari-cari kesalahan para pemimpin rohani mereka dan dengan demikian “timbullah persungutan di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani.” Penyebab keluhan tersebut adalah adanya dugaan kelalaian kepada janda-janda orang Yunani dalam pembagian bantuan sehari-hari. Ketidakadilan dalam bentuk apapun akan berlawanan dengan roh Injil, dan Setan berhasil dalam menerbitkan prasangka. Langkah-langkah penanganan yang tepat harus segera diambil untuk menghilangkan segala penyebab ketidakpuasan, supaya jangan sampai musuh menang dalam usahanya untuk menimbulkan perpecahan di antara orang-orang percaya.” –The Acts of the Apostles, hal. 88.
SENIN
2. Apakah yang Kitab Suci katakan tentang janda-janda?
Yesaya 1:17. belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!
Ayub 29:12, 13. Karena aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak ada penolongnya; 13aku mendapat ucapan berkat dari orang yang nyaris binasa, dan hati seorang janda kubuat bersukaria;
1 Timotius 5:3-5. Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4Tetapi jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam.
“Banyak ibu yang menjanda dan mempunyai anak-anak yatim, yang dengan berani telah berjuang memikul beban ganda yang mereka hadapi, seringkali bekerja keras melebihi kekuatannya agar anak-anaknya tetap bersamanya dan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hanya sedikit waktu yang dia miliki untuk mendidik dan mengajar anak-anak mereka, dan memiliki sedikit kesempatan untuk mengelilingi mereka dengan pengaruh-pengaruh yang akan mencerahkan kehidupan mereka. Dia membutuhkan dorongan, simpati, dan bantuan nyata.” –The Ministry of Healing, hal. 203.
PERMUFAKATAN
SELASA
3. Solusi apakah yang para rasul temukan di bawah bimbingan Roh Kudus? Karakteristik apa sajakah yang harus dimiliki oleh calon diaken?
Kisah 6:2, 3. Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: “Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja. 3 Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,
“Waktunya telah tiba, rasul-rasul itu menyatakan, ketika para pemimpin rohani yang telah memimpin sidang harus diringankan dari tugas membagi-bagikan berkat kepada orang-orang miskin dan dari beban yang sejenis, supaya mereka merdeka dalam membawa pekerjaan penginjilan. ‘Karena itu, saudara-saudara,’ mereka berkata, ‘pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.’ Nasihat ini diikuti, dan oleh doa dan pengurapan, tujuh orang yang terpilih telah ditentukan dengan penuh hikmat untuk mengerjakan kewajiban sebagai diaken-diaken.” –The Acts of the Apostles, hal. 89.
RABU
4. Siapa sajakah yang dipilih para rasul sebagai diaken-diaken, dan bagaimana mereka dengan sungguh-sungguh membaktikan diri dalam pelayanan kepada Allah?
Kisah 6:5, 6. Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. 6 Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan meletakkan tangan di atas mereka.
Ulangan 34:9. Dan Yosua bin Nun penuh dengan roh kebijaksanaan, sebab Musa telah meletakkan tangannya ke atasnya. Sebab itu orang Israel mendengarkan dia dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.
“Prinsip-prinsip yang sama dari kesalehan dan keadilan yang harus memimpin penghulu-penghulu di antara umat Allah pada zaman Musa dan Daud, harus juga diikuti oleh mereka yang diberikan tanggung jawab untuk bertugas pada tugas pengawasan di jemaat Allah yang baru dibentuk sesuai dengan peraturan Injil. Dalam pekerjaan untuk membereskan segala perkara dalam seluruh sidang-sidang, dan untuk mengurapi orang-orang yang cocok untuk bertindak sebagai pegawai-pegawai jemaat, rasul-rasul berpegang pada standar kepemimpinan yang tinggi sebagaimana digariskan dalam buku Perjanjian Lama. Mereka mempertahankan bahwa ia yang dipanggil untuk berdiri dalam tanggung jawab yang terkemuka dalam sidang ‘harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah, melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri dan berpegang kepada perkataan yang benar, yang sesuai dengan ajaran yang sehat, supaya ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya.’ Titus 1:7-9.
“Dengan demikian usaha Setan untuk menyerang sidang di tempat-tempat yang terpencil sekalipun dapat dihadapi dengan usaha yang dipersatukan dari semua pihak, dan rencana musuh untuk mengganggu dan membinasakan digagalkan.” –The Acts of the Apostles, hal. 95.
KAMIS
5. Kepada siapakah kuasa firman itu menjangkau?
Kisah 6:7. Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.
“Karena langkah ini adalah atas perintah Allah, hal itu segera terbukti dari hasil-hasil yang baik yang kelihatan. ‘Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.’ Pengumpulan jiwa-jiwa ini disebabkan oleh kebebasan yang lebih besar yang didapat oleh rasul-rasul dan karena semangat dan kuasa yang ditunjukkan oleh ketujuh diaken itu. Fakta bahwa saudara-saudara ini telah ditetapkan untuk pekerjaan yang terutama untuk menjaga keperluan-keperluan orang miskin, bukan berarti tidak melibatkan mereka dari mengajarkan iman itu. Sebaliknya, mereka telah sepenuhnya disanggupkan untuk memberi petunjuk kepada orang-orang lain dalam kebenaran, dan mereka terlibat dalam pekerjaan itu dengan kesungguh-sungguhan yang besar dan mencapai kesuksesan hasil ataupun kemajuan yang besar.” –The Acts of the Apostles, hal. 89.
JUMAT
6. Kesaksian apakah yang diberikan dalam firman suci tentang Stefanus? Bagaimana beberapa orang telah melanggar perintah hukum yang kesembilan untuk menentangnya dan menghancurkan pengaruhnya?
Kisah 6:8-14. Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. 9 Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini–anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria–bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, 10 tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. 11 Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah.” 12 Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. 13 Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: “Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat, 14 sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.”
“Stefanus, yang terkemuka dari ketujuh diaken, adalah seorang yang amat saleh dan luas iman. Meskipun ia seorang kelahiran Yahudi, ia berbahasa Yunani serta tahu betul adat istiadat dan cara-cara orang Yu-nani. Sebab itu ia mencari kesempatan untuk mengkhotbahkan Injil di rumah sembahyang orang Yahudi Yunani. Ia amat aktif dalam pekerjaan Kristus dan dengan berani memasyhurkan imannya. Rabi-rabi dan dok-tor-doktor hukum yang terdidik mengambil bagian dalam perbincangan dengan khalayak ramai dengan dia, mengharapkan dengan keyakinan suatu kemenangan yang mudah. ‘Tetapi mereka tidak sanggup me-lawan khidmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.’ Bukan saja ia berbicara dalam kuasa Roh Kudus, tetapi hal itu nyata bahwa ia adalah seorang murid nubuatan-nubuatan dan mempelajari segala perkara ber-dasarkan hukum. Ia sanggup mempertahankan kebenaran yang dian-jurkannya dan mengalahkan penentang-penentangnya. Kepadanya perjanjian digenapi, ‘Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dulu pembelaanmu: Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.’ Lukas 21:14,15.” –The Acts of the Apostles, hal. 97.
SABAT
7. Bagaimana wajahnya terlihat di mata para anggota dewan? Kesan mendalam apakah yang ditimbulkan oleh kematiannya terhadap mereka yang hadir?
Kisah 6:15. Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.
“Mati syahidnya Stefanus telah membuat kesan yang mendalam kepada semua orang yang menyaksikannya. Kenangan tentang meterai Allah ada di raut wajahnya: perkataannya, yang menjamah jiwa orang-orang yang mendengarnya, tinggal dalam pikiran orang-orang yang melihatnya, dan menyaksikan tentang kebenaran yang telah dimasyhurkannya. Kematiannya adalah suatu ujian yang pahit kepada sidang, tetapi hal itu membuat keyakinan pada diri Saulus, yang tidak dapat menghapus dari ingatannya tentang iman dan keteguhan orang yang mati syahid itu, serta kemuliaan yang terpantul di raut wajahnya.
“Juruselamat telah berbicara kepada Saulus melalui Stefanus, yang pertimbangannya jelas tidak dapat dibantah. Orang Yahudi yang terdidik itu telah melihat raut wajah orang yang mati syahid itu membiaskan terang kemuliaan Kristus yang kelihatan seakan ‘Sama seperti muka seorang malaikat.’ Kisah 6:15. Ia telah menyaksikan kesabaran Stefanus terhadap musuhnya dan keampunannya untuk mereka. Ia telah menyaksikan juga ketabahan dan kesabaran yang ceria dari banyak orang yang telah ia sebabkan untuk disiksa dan menderita. Ia telah melihat beberapa orang yang menyerahkan hidup mereka dengan sukacita demi mempertahankan iman mereka.” –The Acts of the Apostles, hal. 101, 116.
Untuk Direnungkan
“Sesudah kematian Stefanus, Saulus dipilih sebagai anggota dewan Sanhedrin dalam pertimbangan dari bagian yang telah dilakukan pada kesempatan itu. Untuk sementara waktu ia adalah alat yang berkuasa dalam tangan Setan untuk menjalankan pemberontakannya terhadap Anak Allah. Tetapi tidak lama kemudian penganiaya yang tiada berbelas kasihan ini ditugaskan untuk membangun jemaat yang setika itu sedang ambruk. Seorang yang lebih berkuasa daripada Setan telah memilih Saulus untuk mengambil tempat Stefanus yang sudah mati syahid, untuk berkhotbah dan menderita bagi nama-Nya, dan untuk menyebarkan secara luas kabar tentang keselamatan melalui darah-Nya.” –The Acts of the Apostles, hal. 102.