Renungan Pagi 26 Agustus 2024

Ayat Bacaan 1 TAWARIKH 13

Tabut itu tetap berada di rumah Abinadab sampai Daud diangkat menjadi raja. Ia mengumpulkan semua orang pilihan Israel, tiga puluh ribu orang, dan pergi untuk mengangkut tabut Allah. Mereka menaikkan tabut itu ke atas kereta baru, dan membawanya keluar dari rumah Abinadab. Uza dan Ahio, anak-anak Abinadab, menarik kereta itu. Daud dan seluruh kaum Israel memainkan berbagai alat musik di hadapan Tuhan. “Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.” (2 Samuel 6:6, 7; 1 Tawarikh 13:9, 10). Uza marah kepada lembu-lembu itu, karena mereka tersandung. Ia menunjukkan ketidakpercayaan yang nyata kepada Allah, seolah-olah dia yang telah membawa tabut dari negeri orang Filistin, tidak dapat memeliharanya. Para malaikat yang menjaga bahtera itu memukul Uza karena dengan tidak sabar (lancang) menaruh tangannya di atas tabut Allah.
“Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada Allah, lalu katanya: “Bagaimanakah aku dapat membawa tabut Allah itu ke tempatku?” Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.” Daud tahu bahwa ia adalah orang yang berdosa, dan ia takut bahwa, seperti Uza, ia dapat dianggap bersikap lancang, dan mendatangkan murka Allah atas dirinya sendiri. “Tiga bulan lamanya tabut Allah itu tinggal pada keluarga Obed-Edom di rumahnya dan TUHAN memberkati keluarga Obed-Edom dan segala yang dipunyainya (seisi rumahnya).” (1 Tawarikh 13:12-14).
Allah hendak mengajar umat-Nya bahwa, meskipun tabut perjanjian-Nya itu merupakan teror dan kematian bagi barangsiapa yang melanggar perintah-perintah-Nya yang terkandung di dalamnya, namun tabut itu juga merupakan berkat dan kekuatan bagi barangsiapa yang taat kepada perintah-perintah-Nya. Ketika Daud mendengar bahwa rumah Obed-Edom sangat diberkati, dan bahwa semua yang dimilikinya berhasil karena tabut Allah, ia pun sangat ingin membawanya ke kotanya sendiri. Namun, sebelum Daud memberanikan diri untuk memindahkan tabut suci itu, ia menguduskan dirinya kepada Allah, dan juga memerintahkan agar semua orang yang memiliki otoritas tertinggi di kerajaan itu menjauhkan diri dari segala urusan keduniawian, dan segala sesuatu yang dapat mengalihkan pikiran mereka dari pengabdian yang suci. Demikianlah mereka harus menguduskan diri untuk tujuan membawa tabut suci itu ke kota Daud.
(4aSG 111).

1 TAWARIKH 13

Tabut dipindahkan dari Kiryat-Yearim

1 Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka. 2 Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: “Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita. 3 Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya.” 4 Maka seluruh jemaah itu berkata, bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu. 5 Lalu Daud mengumpulkan semua orang Israel dari sungai Sikhor di Mesir sampai ke jalan yang menuju Hamat, untuk menjemput tabut Allah dari Kiryat-Yearim. 6 Lalu Daud dan segenap orang Israel berangkat ke Baala, ke Kiryat-Yearim, yang termasuk wilayah Yehuda, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN yang bertakhta di atas kerubim. 7 Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru dari rumah Abinadab, sedang Uza dan Ahyo mengantarkan kereta itu. 8 Daud dan seluruh orang Israel menari-nari di hadapan Allah dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, ceracap dan nafiri. 9 Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Kidon, maka Uza mengulurkan tangannya memegang tabut itu, karena lembu-lembu itu tergelincir. 10 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Ia membunuh dia oleh karena Uza telah mengulurkan tangannya kepada tabut itu; ia mati di sana di hadapan Allah. 11 Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. 12 Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada Allah, lalu katanya: “Bagaimanakah aku dapat membawa tabut Allah itu ke tempatku?” 13 Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu. 14 Tiga bulan lamanya tabut Allah itu tinggal pada keluarga Obed-Edom di rumahnya dan TUHAN memberkati keluarga Obed-Edom dan segala yang dipunyainya.
Paralel: 2Sam 6:1-11 (TB)

(The ark remained in the house of Abinadab until David was made king. He gathered together all the chosen men of Israel, thirty thousand, and went to bring up the ark of God. They set the ark upon a new cart, and brought it out of the house of Abinadab. Uzzah and Ahio, sons of Abinadab, drave the cart. David and all the house of Israel played before the Lord on all manner of musical instruments. “And when they came to Nachon’s threshing-floor, Uzzah put forth his hand to the ark of God, and took hold of it, for the oxen shook it. And the anger of the Lord was kindled against Uzzah, and God smote him there for his error; and there he died by the ark of God.” Uzzah was angry with the oxen, because they stumbled. He showed a manifest distrust of God, as though he who had brought the ark from the land of the Philistines, could not take care of it. Angels who attended the ark struck down Uzzah for presuming impatiently to put his hand upon the ark of God.
“And David was afraid of the Lord that day, and said, How shall the ark of the Lord come to me? So David would not remove the ark of the Lord unto him into the city of David; but David carried it aside into the house of Obed-edom, the Gittite.” David knew that he was a sinful man, and he was afraid that, like Uzzah, he should in some way be presumptuous, and call forth the wrath of God upon himself. “And the ark of the Lord continued in the house of Obed-edom, the Gittite, three months, and the Lord blessed Obed-edom, and all his household.”
God would teach his people that, while his ark was a terror and death to those who transgressed his commandments contained in it, it was also a blessing and strength to those who were obedient to his commandments. When David heard that the house of Obed-edom was greatly blessed, and that all that he had prospered, because of the ark of God, he was very anxious to bring it to his own city. But before David ventured to move the sacred ark, he sanctified himself to God, and also commanded that all the men highest in authority in the kingdom should keep themselves from all worldly business, and everything which would distract their minds from sacred devotion. Thus should they sanctify themselves for the purpose of conducting the sacred ark to the city of David.
(4aSG 111).