Ayat Bacaan 2 TAWARIKH 2, 3
…Untuk pembangunan tempat kudus, diperlukan persiapan yang besar dan mahal; sejumlah besar bahan yang paling berharga dan mahal dibutuhkan; namun Tuhan hanya menerima persembahan sukarela. “dari setiap orang yang terdorong hatinya (dengan sukarela), haruslah kamu pungut persembahan khusus kepada-Ku itu.” (Keluaran 25:2), adalah perintah ilahi yang diulangi oleh Musa kepada jemaat. Pelayanan kepada Tuhan dan semangat berkorban merupakan syarat pertama dalam mempersiapkan tempat tinggal bagi Yang Mahatinggi.
Panggilan serupa untuk berkorban diri disampaikan ketika Daud menyerahkan tanggung jawab untuk mendirikan bait suci kepada Salomo. Dari orang banyak yang berkumpul yang telah membawa persembahan mereka, Daud bertanya, “Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN?” (1 Tawarikh 29:5). Panggilan ini seharusnya selalu diingat oleh orang-orang yang terlibat dalam pembangunan bait suci.
Barangsiapa yang mengaku sebagai pengikut Sang Pekerja Agung, dan yang terlibat dalam pelayanan-Nya sebagai rekan kerja Allah, harus membawa ke dalam pekerjaan mereka ketepatan dan keterampilan, hikmat dan kebijaksanaan, yang dikehendaki Allah kesempurnaan dalam pembangunan kemah suci di bumi. Dan sekarang, seperti pada waktu itu dan seperti pada hari-hari pelayanan Kristus di bumi, pelayanan kepada Allah dan semangat berkorban harus dianggap sebagai syarat pertama dari pelayanan yang berkenan kepada-Nya. Allah menghendaki agar tidak satu pun benang keegoisan akan dijalin ke dalam pekerjaan-Nya…
Di suku Yehuda dan Dan ada orang-orang yang dianggap sangat “mahir” dalam seni kerajinan tangan. Untuk sementara waktu orang-orang ini tetap rendah hati dan tidak mementingkan diri sendiri; tetapi secara bertahap, hampir tidak terasa, mereka malah kehilangan pegangan mereka pada Allah dan kebenaran-Nya. Mereka mulai meminta upah yang lebih tinggi karena keterampilan mereka yang lebih unggul. Dalam beberapa kasus permintaan mereka dikabulkan, tetapi lebih sering mereka yang meminta upah yang lebih tinggi mendapat pekerjaan di negara-negara sekitar. Sebagai ganti semangat mulia pengorbanan diri yang telah memenuhi hati para leluhur mereka yang termasyhur, mereka justru memelihara roh ketamakan, keinginan untuk meraih lebih banyak dan lebih banyak lagi. Mereka melayani raja-raja kafir dengan keterampilan yang diberikan Tuhan, dan tidak menghormati Pencipta mereka.
Kepada orang-orang murtad inilah Salomo mencari seorang pekerja ahli untuk mengawasi pembangunan bait suci di Gunung Moria. Spesifikasi yang telah terperinci, secara tertulis, mengenai setiap bagian dari bangunan suci, sebenarnya telah dipercayakan kepada raja, dan ia seharusnya berharap kepada Tuhan dengan iman untuk mencari para pembantu dari antara orang-orang yang ditahbiskan, yang akan diberikan keterampilan khusus untuk melakukan dengan tepat pekerjaan yang dimaksudkan. Tetapi Salomo kehilangan pandangan akan kesempatan ini untuk menjalankan iman kepada Tuhan. Ia malah mengirim utusan kepada raja Tirus untuk mencari “seorang yang ahli mengerjakan emas, perak, tembaga, besi, kain ungu muda, kain kirmizi, kain ungu tua, dan yang juga pandai membuat ukiran, untuk membantu para ahli yang ada padaku di Yehuda dan di Yerusalem…” (2 Tawarikh 2:7). (2BC 1027.1, 2, 1028.3, 1027.4, 5).
2 TAWARIKH 2
Persiapan-persiapan untuk mendirikan Bait Suci
1 Salomo memerintahkan untuk mendirikan suatu rumah bagi nama TUHAN dan suatu istana kerajaan bagi dirinya sendiri. 2 Dan Salomo mengerahkan tujuh puluh ribu kuli, delapan puluh ribu tukang pahat di pegunungan, dan tiga ribu enam ratus mandur untuk mengawasi mereka itu. 3 Lalu Salomo mengutus orang kepada Huram, raja negeri Tirus, dengan pesan: “Perbuatlah terhadap aku seperti yang kauperbuat terhadap ayahku Daud, ketika engkau mengirim kayu aras kepadanya, sehingga ia dapat mendirikan baginya suatu istana untuk tinggal di situ. 4 Ketahuilah, aku hendak mendirikan sebuah rumah bagi nama TUHAN, Allahku, untuk menguduskannya bagi Dia, supaya di hadapan-Nya dibakar ukupan dari wangi-wangian, tetap diatur roti sajian dan dipersembahkan korban bakaran pada waktu pagi dan pada waktu petang, pada hari-hari Sabat dan bulan-bulan baru, dan pada perayaan-perayaan yang ditetapkan TUHAN, Allah kami, sebab semuanya itu adalah kewajiban orang Israel untuk selama-lamanya. 5 Dan rumah yang hendak kudirikan itu harus besar, sebab Allah kami lebih besar dari segala allah. 6 Tetapi siapa yang mampu mendirikan suatu rumah bagi Dia, sedangkan langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Dia? Dan siapakah aku ini, sehingga aku hendak mendirikan suatu rumah bagi Dia, kecuali sebagai tempat untuk membakar korban di hadapan-Nya? 7 Maka sekarang, kirimlah kepadaku seorang yang ahli mengerjakan emas, perak, tembaga, besi, kain ungu muda, kain kirmizi, kain ungu tua, dan yang juga pandai membuat ukiran, untuk membantu para ahli yang ada padaku di Yehuda dan di Yerusalem, yang telah ditunjuk ayahku Daud. 8 Kirim juga kepadaku kayu aras, sanobar dan cendana dari gunung Libanon, sebab aku tahu, bahwa hamba-hambamu pandai menebang pohon dari Libanon. Dalam pada itu hamba-hambaku akan membantu hamba-hambamu 9 untuk menyediakan bagiku sejumlah besar kayu, sebab rumah yang hendak kudirikan itu harus besar dan mentakjubkan. 10 Dan untuk tukang-tukang yang menebang pohon kuberikan gandum dua puluh ribu kor, jelai dua puluh ribu kor, anggur dua puluh ribu bat dan minyak dua puluh ribu bat, sebagai bahan makanan bagi hamba-hambamu itu.” 11 Dan Huram, raja negeri Tirus, mengirim surat balasan kepada Salomo, yang berbunyi: “Karena TUHAN mengasihi umat-Nya, Ia telah mengangkat engkau menjadi raja atas mereka.” 12 Lalu Huram melanjutkan: “Terpujilah TUHAN, Allah orang Israel, yang menjadikan langit dan bumi, karena Ia telah memberikan kepada raja Daud seorang anak yang bijaksana, penuh akal budi dan pengertian, yang akan mendirikan suatu rumah bagi TUHAN dan suatu istana kerajaan bagi dirinya sendiri! 13 Maka sekarang aku mengirim seorang ahli, yang penuh pengertian, yakni Huram Abi, 14 anak seorang perempuan dari bani Dan, sedang ayahnya orang Tirus. Ia pandai mengerjakan emas, perak, tembaga, besi, batu, kayu, kain ungu muda, kain ungu tua, lenan halus dan kain kirmizi, dan juga pandai membuat segala jenis ukiran dan segala jenis rancangan yang ditugaskan kepadanya dengan dibantu oleh ahli-ahlimu dan oleh ahli-ahli ayahmu, tuanku Daud. 15 Baiklah sekarang tuanku kirim kepada hamba-hamba tuanku gandum dan jelai, minyak dan anggur yang telah tuanku sebutkan itu. 16 Dan kami akan menebang kayu dari gunung Libanon sebanyak engkau perlukan dan membawanya kepadamu dengan rakit-rakit melalui laut sampai ke Yafo, dan engkau dapat mengangkutnya ke Yerusalem.” 17 Lalu Salomo menghitung semua orang asing yang laki-laki yang ada di negeri Israel sama seperti yang pernah dilakukan Daud, ayahnya. Maka terdapatlah seratus lima puluh tiga ribu enam ratus orang. 18 Dan dari antara mereka, tujuh puluh ribu orang dijadikannya kuli, delapan puluh ribu orang tukang pahat di pegunungan, dan tiga ribu enam ratus orang mandur yang harus menyuruh orang-orang itu bekerja.
Paralel: 1Raj 5:1-18; 7:13-14 (TB)
2 TAWARIKH 3
Salomo mendirikan Bait Suci
1 Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yakni di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu. 2 Ia mulai mendirikan rumah itu dalam bulan yang kedua, pada tahun keempat pemerintahannya. 3 Inilah ukuran dasar yang dipakai Salomo untuk mendirikan rumah Allah: panjangnya enam puluh hasta, menurut ukuran hasta yang lama dan lebarnya dua puluh hasta. 4 Balai di sebelah depan ruang besar rumah itu, panjangnya dua puluh hasta, menurut lebar rumah itu, dan tingginya seratus dua puluh hasta. Balai itu dilapisinya dari dalam dengan emas murni. 5 Ruang besar dipapaninya dengan kayu sanobar. Kayu itu disaputnya dengan emas tua; kemudian dipasangnya pohon korma dan untaian rantai di atasnya. 6 Ruang itu dilapisinya juga dengan batu permata yang mahal-mahal sebagai perhiasan, sedang emasnya emas Parwaim. 7 Demikianlah ruang itu, balok-baloknya, ambang-ambangnya, dinding-dindingnya dan pintu-pintunya disaputnya dengan emas dan pada dinding-dindingnya diukirkannya kerub. 8 Kemudian ia membuat ruang maha kudus; panjangnya dua puluh hasta, menurut lebar rumah itu, dan lebarnya dua puluh hasta juga. Lalu ia menyaputnya dengan emas tua seberat enam ratus talenta; 9 berat paku-paku lima puluh syikal emas. Juga kamar-kamar atas disaputnya dengan emas. 10 Ia membuat dua kerub berupa pahatan di ruang maha kudus dan melapisinya dengan emas. 11 Sayap kerub-kerub itu seluruhnya dua puluh hasta panjangnya; sayap yang sebelah kerub yang satu lima hasta panjangnya dan menyentuh dinding ruang, sedang sayapnya yang sebelah lagi juga lima hasta panjangnya dan menyentuh sayap kerub yang lain. 12 Begitu pula sayap kerub yang lain itu lima hasta panjangnya dan menyentuh dinding ruang, sedang sayapnya yang sebelah lagi juga lima hasta panjangnya dan bersentuhan dengan sayap kerub yang pertama. 13 Jadi sayap kedua kerub itu membentang sepanjang dua puluh hasta, sedang kedua kerub itu berdiri di atas kakinya dan menghadap ruang besar. 14 Kemudian ia membuat tabirnya dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan menggambarkan kerubim padanya.
Paralel: 1Raj 6:1-38 (TB)
(…For the building of the sanctuary, great and expensive preparations were necessary; a large amount of the most precious and costly material was required; yet the Lord accepted only free-will offerings. “Of every man that giveth it willingly with his heart ye shall take my offering” was the divine command repeated by Moses to the congregation. Devotion to God and a spirit of sacrifice were the first requisites in preparing a dwelling-place for the Most High.
A similar call to self-sacrifice was made when David turned over to Solomon the responsibility of erecting the temple. Of the assembled multitude that had brought their liberal gifts, David asked, “Who then is willing to consecrate his service this day unto the Lord?” This call should ever have been kept in mind by those who had to do with the construction of the temple.
Those who claim to be followers of the Master Worker, and who engage in His service as colaborers with God, are to bring into their work the exactitude and skill, the tact and wisdom, that the God of perfection required in the building of the earthly tabernacle. And now, as in that time and as in the days of Christ’s earthly ministry, devotion to God and a spirit of sacrifice should be regarded as the first requisites of acceptable service. God designs that not one thread of selfishness shall be woven into His work.
In the tribes of Judah and of Dan there were men who were regarded as especially “cunning” in the finer arts. For a time these men remained humble and unselfish; but gradually, almost imperceptibly, they lost their hold upon God and His truth. They began to ask for higher wages because of their superior skill. In some instances their request was granted, but more often those asking higher wages found employment in the surrounding nations. In place of the noble spirit of self-sacrifice that had filled the hearts of their illustrious ancestors, they cherished a spirit of covetousness, of grasping for more and more. They served heathen kings with their God-given skill, and dishonored their Maker.
It was to these apostates that Solomon looked for a master workman to superintend the construction of the temple on Mount Moriah. Minute specifications, in writing, regarding every portion of the sacred structure, had been entrusted to the king, and he should have looked to God in faith for consecrated helpers, to whom would have been granted special skill for doing with exactness the work required. But Solomon lost sight of this opportunity to exercise faith in God. He sent to the king of Tyre for “a man cunning to work in gold, and in silver, and in brass, and in iron, and in purple, and crimson, and blue, and that can skill to grave with cunning men … in Judah and in Jerusalem.” (2BC 1027.1, 2, 1028.3, 1027.4, 5)