BACAAN KELUARGA 2025: MAHKOTA KEHORMATAN
Bacaan 3, Jumat 9 Mei 2025

Hari ini, saya ingin berbagi kisah tentang seorang perempuan yang dikisahkan dalam Alkitab, yang bernama Naomi. Namanya berarti “menyenangkan” dalam bahasa Ibrani, tetapi kisahnya sama sekali tidak menyenangkan. Naomi menghadapi kehilangan yang sangat besar. Ia meninggalkan tanah kelahirannya, kehilangan suaminya, dan kemudian anak-anaknya, serta mengalami masa sepuluh tahun yang tragis. Ia beralih dari seorang warga negara menjadi seorang imigran, dari seorang istri menjadi seorang janda, dan dari seorang ibu menjadi seorang perempuan yang patah hati. Dapatkah engkau bayangkan bagaimana perasaan Naomi? Ia mendapati dirinya tanpa keluarga, tanpa rumah, tanpa kekayaan, dan tanpa kedudukan dalam masyarakat. Di Israel kuno, menjadi janda dianggap sebagai aib dan sering kali mengundang belas kasihan. (Ulangan 24:19).
Rasa Sakit
Kehilangan orang yang terkasih adalah rasa sakit yang luar biasa yang dapat melumpuhkan, mencekik, dan membuat kita tertekan. Kesedihan adalah respons alami manusia terhadap suatu kehilangan, dan kita tidak boleh menahannya. Menangis adalah proses yang penting; saya ingat ketika saya kehilangan ayah saya saat berusia 13 tahun—saya berjuang untuk menangis, dan pengalaman itu membekas dalam hidup saya. Menangis tidak dapat dihindari dan diperlukan untuk menyembuhkan luka dan memperbarui hidup kita.
Naomi pasti merasa sangat kesepian dan tidak terlindungi. Banyak dari kita, yang merasakan hal yang sama atau bahkan lebih buruk daripada Naomi, tidak dapat melihat jalan keluar dan berjuang untuk menemukan jalan menuju kebahagiaan, kenyamanan, dan kebaikan Allah. Namun sesungguhnya, kebenarannya adalah bahwa Dia selalu berada di sisi kita, terlepas dari situasi kita.
Kesedihan
Kesedihan merupakan proses yang sulit dan kompleks, terutama saat kehilangan orang yang terkasih. Saat menghadapi kehilangan seperti itu, kita mungkin mengalami naik turunnya emosi dan tantangan yang luar biasa. Proses berduka tidak mengikuti alur yang linier; proses ini dapat timbul secara berbeda pada berbagai waktu dan dapat berlangsung selama satu hingga empat tahun. Kita mungkin mengalami saat-saat marah, bersalah, sedih yang mendalam, dan akhirnya, menerima—meskipun bagian yang terakhir bisa memakan waktu lebih lama lagi. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberi diri kita mengerti tentang waktu dalam proses berduka.
Sister White membagikan pengalamannya: “Suami saya meninggal di Battle Creek pada tahun 1881. Selama setahun, saya tidak tahan sendirian. Suami saya dan saya telah melakukan pekerjaan pelayanan berdampingan, dan sulit untuk memahami mengapa saya ditinggalkan sendirian untuk melaksanakan tanggung jawab yang sebelumnya telah kami lakukan bersama. Bukannya pulih selama tahun pertama itu, saya malah hampir meninggal. Namun, saya tidak ingin berlama-lama memikirkan masa itu.” –Daughters of God, hlm. 219
Selanjutnya, mari kita bahas tahapan-tahapan yang terjadi pada kesedihan.
Kegelisahan dan Gangguan
Awalnya, ada rasa terkejut dan tidak percaya yang menyertai berita tentang kehilangan tersebut. Sering kali, kenyataan dari situasi tersebut membutuhkan waktu untuk dipahami, dan orang yang berduka mungkin merasa linglung, tidak dapat sepenuhnya memproses apa yang telah terjadi. Mereka pun mungkin sulit untuk mempercayainya.
Setelah syok awal, kenyataan harus dihadapi. Ketidakhadiran orang yang dicintai menjadi pengingat yang menyakitkan setiap saat. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk menerima kehilangan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk memproses kesedihan. Rasa sakit dan kematian adalah konsekuensi dari dosa yang ada di dunia. Mengakui rasa sakit kita kepada Allah akan membantu kita menerima kasih karunia-Nya yang mengubahkan, seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 62:9: “Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela.”
Rasa Marah
Kita dapat merasa marah terhadap berbagai orang dan situasi, termasuk kepada Allah, dokter atau tenaga medis, dan bahkan kepada diri kita sendiri. Kita mungkin bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan seperti: Mengapa Allah mengizinkan ini? Mengapa Dia tidak campur tangan? Mengapa mereka tidak melakukan ini atau itu? Mengapa saya tidak mengatakan atau melakukan ini atau itu atau sesuatu yang seharusnya saya lakukan? Kemarahan ini dapat menyebabkan ledakan amarah, keputusasaan, dan bahkan depresi. Penting untuk mengelola rasa marah ini dengan hati-hati, seperti yang diingatkan Alkitab dalam Efesus 4:26, “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”
Menyalahkan
Rasa bersalah adalah perasaan alami, umum, dan kompleks yang dialami selama masa berduka. Rasa bersalah dapat muncul karena berbagai alasan, seperti masalah yang belum terselesaikan dalam suatu hubungan, kegagalan memenuhi harapan orang lain, atau keinginan untuk membangun kembali kehidupan seseorang. Rasa bersalah ini dapat menyebabkan rasa kesendirian yang tak berdaya dan siksaan emosional. Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa kita telah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Rasa bersalah dapat mengganggu proses berduka, memperpanjangnya, dan menghambat penyembuhan kita. Penting untuk:
1. Kenali perasaanmu
Terimalah bahwa rasa bersalah adalah bagian alami dari proses berduka. Akuilah perasaan bersalahmu dan biarkan dirimu mengalaminya tanpa menghakimi.
2. Mengidentifikasi asal muasal rasa bersalah
Cobalah untuk mencari tahu apa yang secara spesifik menyebabkan perasaan bersalahmu. Apakah itu berasal dari sesuatu yang Engkau lakukan atau tidak lakukan sebelum kehilangan itu? Atau apakah itu merupakan respons terhadap situasi yang berada di luar kendalimu? Dengan memahami sumbernya maka akan dapat membantumu mengatasinya secara lebih langsung, sebagaimana yang dilakukan Daud dalam 2 Samuel 12:13.
3. Bicarakan tentang perasaanmu
Berbagi rasa bersalah dengan seseorang yang engkau percaya dapat membantu meringankan beban emosional. Seorang teman dekat, anggota keluarga, atau terapis dapat memberikan dukungan dan sudut pandang tambahan.
4. Maafkanlah dirimu
Rasa bersalah sering kali muncul karena rasa menyesal atau mencela diri sendiri atas tindakan di masa lalu. Cobalah untuk memaafkan diri sendiri atas kesalahan atau keputusan yang engkau yakini berkontribusi terhadap situasi tersebut. Ingatlah bahwa setiap orang melakukan kesalahan ataupun dosa, dan bahwa kita memiliki seorang pengantara kepada Bapa—yakni Yesus Kristus, yang benar (adil). (1 Yohanes 2:1).
Ingatlah bahwa kesedihan adalah proses yang unik bagi setiap orang; tidak ada cara yang “tepat” untuk bagaimana merasakan atau mengatasinya. Bersikaplah baik kepada dirimu sendiri saat engkau sedang berusaha memahami dan memproses perasaanmu.
Penerimaan
Penerimaan dalam kesedihan adalah proses emosional, personal, dan individual yang melibatkan pengakuan dan penerimaan terhadap kenyataan atas kehilangan sesuatu yang dialami. Ini bisa mencakup kematian orang yang dicintai, putusnya hubungan, kehilangan pekerjaan, atau jenis kesulitan lainnya.
Dalam kisah kita, Naomi menerima kehilangannya dan mengubah namanya dari “Menyenangkan” menjadi “Pahit.” Seperti yang dinyatakan dalam Rut 1:20, ia tidak puas menjadi korban; sebaliknya, ia mulai mencari tahu apa yang dapat ia lakukan. Merasa sedih dan kesepian, ia memutuskan untuk kembali ke Yehuda. Ia pergi bersama suami dan dua anaknya, tetapi sekarang ia harus kembali sendirian, ditemani oleh salah seorang menantu perempuannya. Dipenuhi dengan keberanian dan siap menerima takdirnya, Naomi kembali ke tanah airnya. Tekad Naomi untuk melihat hidupnya dengan jelas, menerima keadaannya, dan menggunakan pengaruhnya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi keturunannya—terlepas dari segala cobaan dan kehilangan yang telah dialaminya—mencerminkan kekuatan seorang perempuan yang setia kepada Allah. Ia bersedia menerima apa pun yang datang padanya, percaya tanpa syarat kepada Allah, bahkan di tengah kepahitan yang menyertai kehilangannya. Melalui teladannya, kita dapat menemukan kekuatan dan keberanian untuk mengatasi kesulitan kita sendiri.
Selama fase penerimaan ini, penting bagimu untuk membiarkan dirimu mengalami dan memproses semua emosi yang muncul selama masa berduka. Jangan menghakimi dirimu sendiri atas apa yang engkau rasakan; semua emosi itu valid, yakni memang benar adanya, dan merupakan bagian dari proses penyembuhan. Cobalah untuk menemukan lagi tujuan hidupmu dan ubahlah cara pandang ataupun arah hidupmu. Ini mungkin melibatkan pencarian peluang baru untuk pertumbuhan pribadi, berkontribusi pada jemaat atau komunitasmu, atau terlibat dalam kegiatan yang memberimu kegembiraan dan kepuasan. Terakhir, terimalah bahwa engkau memang tidak memiliki seluruh kendali atas banyak hal dalam kehidupanmu. Mengakui hal ini dapat membantu membebaskanmu dari perasaan bersalah yang tidak perlu. Fokuslah pada apa yang dapat engkau kendalikan—yakni bagaimana reaksi atau responmu terhadap emosi dan pilihan yang engkau buat untuk masa depan.
Adaptasi-Penyesuaian diri
Adaptasi adalah proses penyesuaian sosial terhadap lingkungan seseorang, yang penting untuk menemukan cara hidup baru setelah mengalami kehilangan sesuatu yang berarti dalam hidup. Kisah Naomi mengajarkan kita bahwa di saat-saat tergelap kita, sebenarnya selalu ada harapan dan potensi untuk penebusan. Tidak peduli seberapa hancurnya perasaan kita, Allah selalu dapat menebus dan memulihkan kita. Dalam belas kasihan-Nya yang tak terbatas, Dia telah memberi kita Kitab Rut, sebuah kitab yang berisi narasi yang penuh dengan harapan, di mana Naomi berubah dari seorang perempuan yang putus asa menjadi seorang perempuan yang penuh sukacita, beralih dari kesedihan menuju kebahagiaan dan dari kekosongan menuju kelimpahan. Allah dapat mengubah kepahitan menjadi berkat.
Naomi menunjukkan kasih sayangnya kepada kedua menantunya yang juga janda dengan mendesak mereka untuk kembali ke tanah air. Ia percaya bahwa meminta mereka untuk tetap di sisinya akan menjadi pengorbanan yang besar, karena itu berarti meninggalkan tanah dan saudara mereka sendiri. Memahami kesulitan mereka, ia mendorong mereka untuk kembali dan membangun kembali hidup mereka, membebaskan mereka dari kewajiban untuk merawatnya. Ia menawarkan mereka kesempatan untuk memilih jalan mereka sendiri sehingga mereka dapat menemukan ketenangan (tempat perlindungan) bagi mereka. Dalam budaya Yahudi, tempat perlindungan ini sering kali merujuk pada pernikahan (Rut 3:1), sesuatu yang tidak dapat disediakan Naomi karena ia tidak memiliki anak lagi. Ini menggambarkan kebaikan hati Naomi; yakni mengusahakan kesejahteraan orang lain yang adalah hukum dasar kehidupan di bumi dan di surga. Naomi menyeimbangkan kekuatan dan kepekaan, ketabahan dan tekad, serta kesabaran dan ketekunan dalam upayanya untuk memastikan semuanya kemudian berjalan lancar.
Marilah kita juga memulai perjalanan menuju Kanaan surgawi, sehingga, di sepanjang jalan, kita pun dapat menginspirasi orang lain untuk berkata: “Bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku.” Rut 1:16.
Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat engkau lakukan untuk mengatasi kesedihan:
1. Terimalah kenyataan kehilangannya. Mengatasi kehilangan dimulai dengan mengakui kenyataan tentang kehilangan yang memang telah engkau alami. Meskipun mungkin menyakitkan, menghadapi kenyataan memungkinkanmu untuk memproses rasa kehilanganmu dan membangun kembali hidupmu di atas fondasi yang lebih kuat.
2. Carilah dukungan. 1 Timotius 5:3-16 mengingatkan kita akan tanggung jawab kita sebagai jemaat terhadap para janda; ini mencerminkan Injil sejati yang disebutkan dalam Yesaya 58. Sahabat terkasih, engkau tidak perlu menghadapi kesedihanmu sendirian. Jalinlah hubungan dengan teman, keluarga, kelompok pendukung, atau terapis. Membicarakan perasaan dan pengalamanmu dapat membantumu untuk merasa tidak terlalu terisolasi dan menemukan cara yang sehat untuk menyesuaikan diri dengan kenyataan barumu.
3. Tetapkan rutinitas dan tujuan baru. Beradaptasi dengan kesedihan melibatkan penciptaan normalitas baru dalam hidupmu. Ini bisa berarti membangun rutinitas harian yang baru, menetapkan tujuan pribadi atau profesional yang baru, dan menemukan cara-cara baru untuk merasakan kegembiraan dan kepuasan.
4. Beri dirimu waktu. Beradaptasi dengan kesedihan adalah proses yang membutuhkan waktu. Jangan terburu-buru atau menghakimi diri sendiri karena tidak beradaptasi lebih cepat. Berikan dirimu waktu dan ruang yang engkau butuhkan untuk pulih dan mendapatkan kembali rasa damai dan tujuan dalam hidupmu.
5. Jaga dirimu baik-baik. Selama proses adaptasi, sangatlah penting untuk menjaga kesehatan fisik, emosional, mental, dan kerohanianmu. Utamakanlah persekutuanmu dengan Allah, hidupkanlh perawatan diri, dan cari cara yang sehat untuk mengelola stres ataupun tekanan hidupmu; seperti berolahraga, makan dengan baik, atau berpartisipasi dalam kegiatan yang membuatmu berbahagia.
Ingatlah bahwa adaptasi ataupun penyesuaian diri adalah perjalanan yang unik dan bersifat pribadi, yang mana dengannya setiap orang menemukan jalannya menuju penyembuhan dan pembaharuan. Bersikaplah baik kepada diri sendiri saat engkau sedang berupaya menciptakan cara hidup baru setelah menghadapi kehilangan.
Satu perhubungan yang baru
Setelah mengalami kesedihan karena kehilangan orang terkasih, engkau mungkin bertanya-tanya bagaimana untuk dapat memulai hubungan dalam suasana yang baru. Berikut ini beberapa kiat untuk membantumu menghadapi babak baru dalam hidupmu:
1. Beri Diri Waktu untuk Sembuh. Penting untuk meluangkan waktu guna menyembuhkan dan memproses emosi ataupun perasaanmu sebelum memulai suatu hubungan baru. Tidak ada jangka waktu yang ditetapkan untuk berduka, tetapi penting untuk siap secara emosional untuk membuka diri kepada seseorang ataupun sesuatu yang baru.
2. Pemeriksaan Diri. Sebelum memulai hubungan baru, luangkanlah waktu untuk merenungkan apa yang sebenarnya engkau inginkan dari sesuatu atau seorang pasangan dan apa yang telah engkau pelajari dari pengalaman masa lalumu. Perenungan untuk penyelidikan diri ini dapat membantumu untuk menetapkan harapan yang jelas dan membuat keputusan yang lebih tepat tentang perhubungan di masa mendatang.
3. Komunikasikan Kebutuhan dan Batasanmu. Saat engkau telah siap untuk mulai berhubungan dengan orang yang baru lagi, maka adalah hal penting untuk mengomunikasikan kebutuhanmu, harapanmu, dan batasanmu secara terbuka dan jujur. Ini membantu membangun fondasi yang kuat untuk hubungan yang sehat.
4. Lakukanlah dengan perlahan (dengan berhati-hati). Jangan merasa tertekan sehingga menjadi terburu-buru menjalin hubungan baru. Luangkanlah waktu untuk mengenal dan membangun hubungan yang bermakna sebelum membuat komitmen apa pun. Bergerak perlahan memungkinkanmu membangun dasar yang kuat untuk hubungan yang langgeng.
5. Menjaga Keseimbangan. Saat engkau membuka diri terhadap hubungan baru, pastikan bahwa engkau tetap menjaga keseimbangan yang sehat antara kehidupan pribadi, hubungan, dan kesejahteraanmu. Teruslah merawat dirimu dengan baik sambil mengeksplorasi perhubungan barumu dengan orang lain.
6. Terimalah Perasaanmu. Wajar saja jika engkau mengalami berbagai emosi saat memasuki hubungan baru setelah berduka, termasuk kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian. Biarkan dirimu merasakan emosi-emosi ini dan carilah dukungan jika diperlukan saat engkau menjalani tahap kehidupan baru ini.
Saudara-saudari terkasih, teladan Naomi mengilhami kita untuk mulai bergerak dari mana pun kita sedang berada, menuju jalan yang Allah kehendaki bagi kita, dengan iman bahwa Allah menyertai kita, dan akan memberikan kekuatan. “Sewaktu kita berjalan bersama Yesus dalam hidup ini, kita dapat dipenuhi dengan kasih-Nya, dan menjadi puas dengan kehadiran-Nya. Segala sesuatu yang dapat ditanggung oleh kodrat manusia, dapat kita terima dari sini.” –The Desire of Ages, hlm. 331. Kita harus menemukan ketenangan di dalam Yesus. Ketika kita terluka dan tersakiti, marilah kita mencari penghiburan di dalam Tuhan dan percaya kepada-Nya. Ingatlah bahwa, “Penderitaan ringan ini akan menjadi kuasa yang mengubahkjan, memurnikan, menguduskan, memuliakan, dan melayakkan untuk pengadilan di atas.” –Daughters of God, hlm. 218. Pembaca yang budiman, saya berharap dan berdoa agar engkau menemukan cinta kasih, kebahagiaan, dan kedamaian hati dalam Kristus Yesus. Amin.
* * * * *