IMAN HABEL YANG BERBEDA DENGAN KAIN
“Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.” Ibrani 11:4.
“Habel memilih iman dan ketaatan; Kain, ketidakpercayaan dan pemberontakan. Di sinilah seluruh persoalan bertumpu. … Habel sepenuhnya percaya pada jasa kurban penebusan Kristus. Iman inilah yang menghubungkannya dengan Allah. Janji tentang seorang Penebus meski masih nampak samar-samar namun telah dapat dipahami; tetapi persembahan korban itu pun memberikan terang pada janji tersebut. Kain memiliki kesempatan yang sama untuk mempelajari dan menerima kebenaran-kebenaran ini seperti halnya Habel. Allah tidak menerima yang satu dan menolak yang lain tanpa alasan yang memadai. Habel percaya dan taat; Kain ragu dan memberontak. Allah tidak memandang bulu, namun Dia akan memberi upah kepada yang taat, dan menghukum yang tidak taat.” PP 72.4, ST 6 Februari 1879, par. 6.
“Habel mengikuti petunjuk yang diberikan Allah dengan tepat. Hasilnya sudah diketahui. Tuhan menerima persembahan Habel, yang dipersembahkan dengan kerendahan hati dan iman kepada Anak Domba Allah yang akan datang. Ketaatannya diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Kain, yang marah karena persembahannya ditolak, malah membunuh saudaranya. … Kain dan Habel mewakili dua golongan manusia yang telah ada dari generasi ke generasi, dan akan terus ada hingga akhir zaman. Yang satu memanfaatkan korban yang dijanjikan untuk dosa; yang lain memberanikan diri untuk bergantung pada jasa-jasanya sendiri. …. Hanya melalui jasa-jasa Yesus saja, maka pelanggaran kita terhadap hukum Allah dapat diampuni. Barangsiapa yang merasa dapat bermoral tanpa pertolongan ilahi, yang merasa tidak membutuhkan darah Kristus, akan dikhianati ke dalam dosa-dosa yang berat. Jika mereka tidak dengan senang hati dan penuh syukur menerima darah yang menyucikan itu maka mereka akan berada di bawah kutukan. Tidak ada ketentuan lain yang dapat membebaskan mereka dari perbudakan dosa yang mengerikan. Harus ada pertobatan kepada Allah dan iman kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Inilah satu-satunya cara untuk memperoleh keunggulan tabiat, satu-satunya jalan menuju perkenanan ilahi. … Tuhan meyakinkan Kain bahwa jika ia berbuat baik, ia akan diterima. Namun, bukannya mengindahkan nasihat Allah, ia malah memilih untuk menempuh jalannya sendiri, mengikuti bisikan hatinya yang berdosa, dan hasilnya ada terbentang di hadapan kita.” ST 11 September 1884, par. 3 – ST 11 September 1884, par. 5.
“Demikianlah sepanjang masa orang fasik ataupun orang jahat membenci orang-orang yang lebih baik dari mereka. Kehidupan Habel yang taat dan imannya yang teguh merupakan teguran yang terus-menerus bagi Kain.” PP 74.2.
“By faith Abel offered unto God a more excellent sacrifice than Cain, by which he obtained witness that he was righteous, God testifying of his gifts: and by it he being dead yet speaketh.” Hebrews 11:4 (KJV).
“Abel chose faith and obedience; Cain, unbelief and rebellion. Here the whole matter rested. … Abel trusted wholly in the merits of the atoning sacrifice of Christ. It was this faith that connected him with God. The promise of a Redeemer was dimly understood; but the sacrificial offerings cast light upon the promise. Cain had the same opportunity of learning and accepting these truths as had Abel. God did not accept one and reject the other without sufficient reason. Abel believed and obeyed; Cain doubted and rebelled. God is no respecter of persons, yet he will reward the obedient, and punish the disobedient.” PP 72.4, ST February 6, 1879, par. 6.
“Abel followed the precise directions given by God. The result is well known. The Lord accepted the offering of Abel, presented in humility, and faith in the coming Lamb of God. His obedience was counted to him for righteousness. Cain, angry that his offering was rejected, killed his brother. … Cain and Abel represent two classes of men that have existed from generation to generation, and will continue to exist to the close of time. One availed himself of the promised sacrifice for sin; the other ventured to depend upon his own merits. His was the sacrifice of a sinner without the virtue of divine mediation, which is alone able to bring him into favor with God. It is only through the merits of Jesus that our transgressions of the law can be pardoned. Those who feel that they can be moral without divine help, who feel no need of the blood of Christ, are betrayed into grievous sins. If they do not gladly, gratefully, accept the cleansing blood, they are under condemnation. There is no other provision made whereby they can be released from sin’s terrible thralldom. There must be repentance toward God and faith in our Lord Jesus Christ. This is the only way to secure excellence of character, the only path to divine favor. … The Lord assured Cain that if he did well, he should be accepted. But instead of heeding the counsel of God, he chose to take his own course, to follow the promptings of his sinful heart, and the result is before us.” ST September 11, 1884, par. 3 – ST September 11, 1884, par. 5.
“So in all ages the wicked have hated those who were better than themselves. Abel’s life of obedience and unswerving faith was to Cain a perpetual reproof.” PP 74.2.***