Renungan Pagi 29 Desember 2025

IMAN YANG BERANI DAN AKTIF SAMPAI AKHIR

Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.” Kisah 6:15.

“Di setiap zaman, para utusan pilihan Allah telah dihina dan dianiaya, namun melalui penderitaan mereka, pengetahuan tentang Allah justru telah tersebar luas…. Ketika Stefanus yang mulia dan fasih itu dilontari batu sampai mati… tidak ada kerugian bagi pemberitaan Injil. Terang surga yang memuliakan wajahnya, belas kasihan ilahi yang diilhami dalam doa terakhirnya, adalah bagaikan panah tajam yang meyakinkan Sanhedrin yang fanatik yang berdiri di sampingnya, dan Saul, orang Farisi yang menganiayanya, kemudian menjadi bejana pilihan untuk membawa nama Kristus di hadapan bangsa-bangsa bukan Yahudi, raja-raja, dan anak-anak Israel.” MB 33.2-3, CC 331.6.

“Besarlah upah di surga bagi barangsiapa yang menjadi saksi Kristus melalui penganiayaan dan celaan. Sementara orang-orang mencari kebaikan duniawi, Yesus justru mengarahkan mereka kepada upah surgawi. Tetapi, Dia tidak menempatkan semuanya ini di kehidupan masa depan; itu dimulai di sini.” MB 34.1.

“Stefanus, yang terkemuka di antara ketujuh diaken, adalah seorang yang sangat saleh dan beriman luas. Meskipun lahir sebagai orang Yahudi, ia berbicara bahasa Yunani dan akrab dengan adat istiadat dan kebiasaan orang Yunani. Karena itu, ia mendapat kesempatan untuk memberitakan Injil di sinagog-sinagog orang Yahudi Yunani. Ia sangat aktif dalam perjuangan Kristus dan dengan berani menyatakan imannya.” AA 97.1, CC 331.2.

“Stefanus sangat aktif dalam perjuangan Allah dan dengan berani menyatakan imannya. “Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi … Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.” Kisah 6:9-10. Para murid dari para rabi besar ini merasa yakin bahwa dalam diskusi publik mereka dapat memperoleh kemenangan mutlak atas Stefanus, karena ketidaktahuannya yang semula mereka duga. Tetapi, ternyata, ia bukan hanya berbicara dengan kuasa Roh Kudus, tetapi jelas bagi seluruh jemaat yang besar itu bahwa ia juga ternyata seorang ahli nubuat dan berpengetahuan luas dalam semua hal hukum. Ia dengan mahir membela kebenaran yang ia anut, dan sepenuhnya mengalahkan lawan-lawannya.” SR 262.1.

“Para imam dan penguasa yang menyaksikan pernyataan luar biasa dari kuasa yang menyertai pelayanan Stefanus ini malah dipenuhi dengan kebencian yang mendalam. Bukannya menyerah pada bobot bukti yang ia sajikan, mereka justru memutuskan untuk membungkam suaranya dengan membunuhnya. … Oleh karena itu mereka menangkap Stefanus dan membawanya ke hadapan dewan Sanhedrin untuk diadili.” SR 262.3.

“Orang-orang Yahudi terpelajar dari negara-negara sekitarnya dipanggil untuk membantah argumen terdakwa. Saul, yang telah dikenal sebagai penentang gigih ajaran Kristus, dan penganiaya semua orang yang percaya kepada-Nya, juga hadir. Orang terpelajar ini memainkan peran utama melawan Stefanus. Ia menggunakan kekuatan retorika dan logika para rabi untuk meyakinkan orang-orang bahwa Stefanus sedang mengajarkan ajaran-ajaran yang menyesatkan dan berbahaya.” SR 262.4.

“Tetapi Saul justru mendapati bahwa Stefanus adalah seorang yang berpendidikan tinggi seperti dirinya, dan yang memiliki pemahaman penuh tentang maksud Allah dalam penyebaran Injil kepada bangsa-bangsa lain. Ia percaya kepada Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, dan sepenuhnya teguh dalam hal hak-hak istimewa orang Yahudi; tetapi imannya luas, dan ia tahu bahwa waktunya telah tiba ketika orang-orang percaya sejati tidak hanya akan beribadah di bait-bait buatan tangan manusia; tetapi, di seluruh dunia, orang-orang dapat menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Tabir telah disingkirkan dari mata Stefanus, dan ia memahami sepenuhnya apa yang telah dihapuskan oleh kematian Kristus.” SR 263.1.

“Para imam dan penguasa tidak berdaya melawan hikmat Stefanus yang terang dan tenang, meskipun mereka sangat keras menentangnya. Mereka bertekad untuk menjadikan Stefanus sebagai contoh dan, sementara mereka dengan demikian memuaskan kebencian mereka yang penuh dendam, mereka pun mencegah orang lain, karena takut, untuk menganut kepercayaannya. Tuduhan diajukan terhadapnya dengan cara yang sangat mengesankan. Saksi-saksi palsu disewa untuk bersaksi bahwa mereka telah mendengar dia mengucapkan kata-kata menghujat terhadap bait suci dan hukum Taurat. Mereka berkata, “Sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.” (Kisah 6:14).” SR 263.2.

“Ketika Stefanus berdiri berhadapan dengan para hakimnya, untuk menjawab kejahatan penghujatan yang dituduhkan padanya, cahaya suci bersinar di wajahnya. “Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.” Banyak orang yang melihat wajah Stefanus yang bercahaya gemetar dan menutupi wajah mereka, tetapi ketidakpercayaan dan prasangka mereka yang keras kepala itu sungguh tidak mau terjamah.” SR 263.3.

And all that sat in the council, looking stedfastly on him, saw his face as it had been the face of an angel.” Acts 6:15 (KJV).

“In every age God’s chosen messengers have been reviled and persecuted, yet through their affliction the knowledge of God has been spread abroad…. When the noble and eloquent Stephen was stoned to death … there was no loss to the cause of the gospel. The light of heaven that glorified his face, the divine compassion breathed in his dying prayer, were as a sharp arrow of conviction to the bigoted Sanhedrist who stood by, and Saul, the persecuting Pharisee, became a chosen vessel to bear the name of Christ before Gentiles and kings and the children of Israel.” MbB 33.2-3, CC 331.6.

“Great is the reward in heaven of those who are witnesses for Christ through persecution and reproach. While the people are looking for earthly good, Jesus points them to a heavenly reward. But He does not place it all in the future life; it begins here.” MB 34.1.

“Stephen, the foremost of the seven deacons, was a man of deep piety and broad faith. Though a Jew by birth, he spoke the Greek language and was familiar with the customs and manners of the Greeks. He therefore found opportunity to preach the gospel in the synagogues of the Greek Jews. He was very active in the cause of Christ and boldly proclaimed his faith.” AA 97.1, CC 331.2.

“Stephen was very active in the cause of God and declared his faith boldly. “Then there arose certain of the synagogue, … disputing with Stephen. And they were not able to resist the wisdom and the spirit by which he spake.” These students of the great rabbis had felt confident that in a public discussion they could obtain a complete victory over Stephen, because of his supposed ignorance. But he not only spoke with the power of the Holy Ghost, but it was plain to all the vast assembly that he was also a student of the prophecies and learned in all matters of the law. He ably defended the truths he advocated, and utterly defeated his opponents.” SR 262.1.

“The priests and rulers who witnessed the wonderful manifestation of the power that attended the ministration of Stephen were filled with bitter hatred. Instead of yielding to the weight of evidence he presented, they determined to silence his voice by putting him to death.” SR 262.2.

“They therefore seized Stephen and brought him before the Sanhedrin council for trial.” SR 262.3.

“Learned Jews from the surrounding countries were summoned for the purpose of refuting the arguments of the accused. Saul, who had distinguished himself as a zealous opponent of the doctrine of Christ, and a persecutor of all who believed on Him, was also present. This learned man took a leading part against Stephen. He brought the weight of eloquence and the logic of the rabbis to bear upon the case, and convince the people that Stephen was preaching delusive and dangerous doctrines.” SR 262.4.

“But Saul met in Stephen one as highly educated as himself, and one who had a full understanding of the purpose of God in the spreading of the gospel to other nations. He believed in the God of Abraham, Isaac, and Jacob, and was fully established in regard to the privileges of the Jews; but his faith was broad, and he knew the time had come when the true believers should worship not alone in temples made with hands; but, throughout the world, men might worship God in Spirit and in truth. The veil had dropped from the eyes of Stephen, and he discerned to the end of that which was abolished by the death of Christ.” SR 263.1.

“The priests and rulers prevailed nothing against his clear, calm wisdom, though they were vehement in their opposition. They determined to make an example of Stephen and, while they thus satisfied their revengeful hatred, prevent others, through fear, from adopting his belief. Charges were preferred against him in a most imposing manner. False witnesses were hired to testify that they had heard him speak blasphemous words against the temple and the law. Said they, “For we have heard him say, that this Jesus of Nazareth shall destroy this place, and shall change the customs which Moses delivered us.” SR 263.2.

“As Stephen stood face to face with his judges, to answer to the crime of blasphemy, a holy radiance shone upon his countenance. “And all that sat in the council, looking stedfastly on him, saw his face as it had been the face of an angel.” Many who beheld the lighted countenance of Stephen trembled and veiled their faces, but stubborn unbelief and prejudice never faltered.” SR 263.3.***