Pelajaran Sekolah Sabat 7 Maret 2026

TEMA SEMESTER: PARA NABI BERBICARA (BAGIAN 2 – “YEHEZKIEL & DANIEL”)

Pelajaran 10, Sabat 7 Maret 2026

PERHUBUNGAN KITA DENGAN SESAMA

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Yohanes 13:34.

“Kasih adalah bagaikan tanaman yang lembut, dan harus dibudidayakan serta dipelihara, dan akar-akar kepahitan harus dicabut di sekitarnya agar kasih memiliki ruang untuk berkembang, dan kemudian ia akan membawa serta seluruh kekuatan pikiran, serta segenap hati, sehingga kita akan mengasihi Allah dengan segenap hati, dan mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri.” —Our High Calling, hlm. 173.

MINGGU

1. Siapakah orang Amon itu? Apa yang mereka lakukan terhadap kerabat mereka, orang Israel?

Kejadian 19:30, 38 Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya…. 38Yang lebih mudapun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapa bani Amon yang sekarang.

Yehezkiel 25:3, 6 Katakanlah kepada bani Amon: Dengarlah firman Tuhan ALLAH: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh karena engkau menyerukan: Syukur! mengenai tempat kudus-Ku, waktu kekudusannya dilanggar, dan mengenai tanah Israel, waktu itu dijadikan sunyi sepi, dan mengenai kaum Yehuda, waktu mereka harus pergi ke dalam pembuangan…. 6Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh karena engkau bertepuk tangan dan mengentakkan kakimu ke tanah, dan bergembira dalam hatimu atas kecelakaan tanah Israel.

“Tidak ada cara yang lebih pasti untuk melemahkan kerohanian kita selain dengan merasa iri, dan curiga satu sama lain, serta penuh dengan sifat suka mencari-cari kesalahan dan prasangka buruk. ‘Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.’ Yakobus 3:15-18.” —Testimonies for the Church, vol. 8, hlm. 242.

SENIN

2. Bagaimana orang Moab menunjukkan bahwa mereka membenci umat Allah, meskipun mereka berasal dari keluarga yang sama?

Yehezkiel 25:8 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Oleh karena Moab berkata: Sungguh, kaum Yehuda adalah sama dengan semua bangsa lain.

Kejadian 19:36, 37 Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka. 37Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah bapa orang Moab yang sekarang.

“Dalam pemberian Anak-Nya untuk penebusan kita, Allah telah menunjukkan betapa tingginya nilai yang Dia tempatkan pada setiap jiwa manusia, dan Dia tidak memberi kebebasan kepada siapa pun juga untuk berbicara dengan menghina orang lain. Kita akan melihat kesalahan dan kelemahan pada orang-orang di sekitar kita, tetapi Allah telah mengklaim setiap jiwa sebagai milik-Nya—yakni milik-Nya sejak penciptaan, dan bahkan dua kali lipat milik-Nya karena telah ditebus oleh darah Kristus yang berharga. Semua orang telah diciptakan menurut gambar-Nya, dan bahkan yang paling hina sekalipun haruslah diperlakukan dengan hormat dan kelemahlembutan. Allah akan meminta pertanggungjawaban kita bahkan atas satu kata pun yang diucapkan dengan menghina satu jiwa yang untuknya Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya.” —Thoughts from the Mount of Blessing, hlm. 56.

SELASA

3 . Bagaimana sikap orang Edom terhadap Israel, meskipun mereka sebenarnya bersaudara?

Yehezkiel 25:12 Beginilah firman Tuhan ALLAH: “Oleh karena Edom membalaskan dendam kesumat terhadap kaum Yehuda dan membuat kesalahan besar dengan melakukan pembalasan terhadap mereka.

Amos 1:11 Beginilah firman TUHAN: “Karena tiga perbuatan jahat Edom, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena ia mengejar saudaranya dengan pedang dan mengekang belas kasihannya, memendamkan amarahnya untuk selamanya dan menyimpan gemasnya untuk seterusnya,

Kejadian 36:1 Inilah keturunan Esau, yaitu Edom.

“Roh kebencian dan pembalasan dendam adalah berasal dari Setan, dan itu telah membawanya untuk membunuh Anak Allah. Siapa pun yang memelihara kedengkian atau ketidakbaikan berarti sedang memelihara roh yang sama, dan buahnya akan berujung pada maut. Dalam pikiran yang penuh pembalasan dendam, terselubunglah perbuatan jahat, seperti tanaman terbungkus di dalam benih. ‘Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.’ (1 Yohanes 3:15).” —Thoughts from the Mount of Blessing, hlm. 56.

RABU

4. Mengapa orang Filistin membenci umat Allah?

Kejadian 10:6, 14 Keturunan Ham ialah Kush, Misraim, Put dan Kanaan…. 14orang Patrusim, orang Kasluhim dan orang Kaftorim; dari mereka inilah berasal orang Filistin.

Yesaya 14:29 Janganlah bersukaria, hai segenap Filistea (Filistin / Palestina), karena walaupun gada orang yang memukul engkau sudah patah, tetapi dari keturunan ular itu akan keluar ular beludak, dan anaknya akan menjadi ular naga terbang.

“Ketika kita menghadapi konflik dengan musuh-musuh Kristus, maka kita tidak boleh mengatakan apa pun dengan roh pembalasan atau yang bahkan tampak seperti tuduhan yang menghina. Orang yang berdiri sebagai juru bicara Allah tidak boleh mengucapkan kata-kata yang bahkan Yang Mahatinggi di surga pun tidak akan gunakan ketika berhadapan dengan Setan. Kita harus menyerahkan kepada Allah pekerjaan untuk menghakimi dan menjatuhkan kutukan.” —Thoughts from the Mount of Blessing, hlm. 57.

KAMIS

5. Siapakah musuh utama Allah dan dengan demikian, secara tidak langsung, juga adalah musuh orang-orang yang beriman?

Yehezkiel 28:12, 14-16 “Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah…. 14Kuberikan tempatmu dekat kerub yang berjaga, di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya. 15Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu. 16Dengan dagangmu yang besar engkau penuh dengan kekerasan dan engkau berbuat dosa. Maka Kubuangkan engkau dari gunung Allah dan kerub yang berjaga membinasakan engkau dari tengah batu-batu yang bercahaya.

“Kristus sendiri, ketika menghadapi konflik dengan Setan mengenai tubuh Musa, ‘tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan.’ Yudas 9. Seandainya Ia melakukan hal itu, Ia akan menempatkan diri-Nya di posisi yang sama dengan Setan, karena tuduhan adalah senjata si jahat. Ia disebut dalam Alkitab sebagai ‘penuduh (pendakwa) saudara-saudara kita.’ Wahyu 12:10. Yesus tidak akan menggunakan senjata Setan ini. Ia menghadapinya dengan kata-kata, ‘Tuhan kiranya menghardik engkau.’ Zakharia 3:2, Yudas 9.” —Thoughts from the Mount of Blessing, hlm. 57.

JUMAT

6 . Batu sandungan apakah yang telah diletakkan Mesir di hadapan Yehuda pada zaman Yehezkiel?

Yehezkiel 29:2, 6; 17:1, 2, 12-15 “Hai anak manusia, tujukanlah mukamu kepada Firaun, raja Mesir dan bernubuatlah melawan dia dan melawan seluruh Mesir…. 6Dan semua penduduk Mesir akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN. Oleh karena engkau ibarat tongkat bambu bagi kaum Israel…. 17:1Maka datanglah firman TUHAN kepadaku, 2Hai anak manusia, katakanlah suatu teka-teki dan ucapkanlah suatu perumpamaan kepada kaum Israel…. 12“Katakanlah kepada kaum pemberontak: Tidakkah kamu mengetahui apa artinya ini? Katakan: Lihat, raja Babel datang ke Yerusalem dan ia mengambil rajanya dan pemuka-pemukanya dan membawa mereka ke Babel baginya. 13Lalu ia mengambil seorang yang berasal dari keturunan raja dan mengadakan perjanjian dengan dia sambil menyuruh dia bersumpah. Ia mengambil juga orang-orang berkuasa negeri itu, 14supaya kerajaan itu menjadi lemah dan jangan memberontak lagi, juga supaya memegang teguh perjanjian itu dan dengan demikian tetap ada. 15 Tetapi orang itu memberontak kepadanya dengan menyuruh utusannya ke Mesir, supaya ia diberi kuda dan tentara yang besar. Apakah ia akan berhasil? Apakah orang yang berbuat demikian dapat luput? Apakah orang yang mengingkari perjanjian dapat luput?

“Tuhan sedang menguji umat-Nya untuk melihat siapakah yang akan setia pada prinsip-prinsip kebenaran-Nya. Tugas kita adalah memberitakan kepada dunia pekabaran-pekabaran malaikat pertama, kedua, dan ketiga. Dalam menjalankan tugas kita ini, kita tidak boleh meremehkan ataupun takut kepada musuh kita. Mengikat diri kita dengan perjanjian dengan mereka yang bukan seiman dengan kita bukanlah hal yang sesuai dengan kehendak Allah. Kita memang harus memperlakukan dengan baik dan sopan santun barangsiapa yang menolak untuk setia kepada Allah, tetapi kita tidak boleh, sekali pun juga, untuk bersatu dengan mereka dalam persekutuan mengenai kepentingan yang khidmat dari pekerjaan-Nya. Dengan menaruh kepercayaan kita kepada Allah, kita harus bergerak maju dengan mantap, dan melakukan pekerjaan-Nya dengan tanpa pamrih yakni tidak mementingkan diri sendiri, dalam ketergantungan yang rendah hati kepada-Nya, dengan menyerahkan diri kita dengan segala yang menyangkut masa kini dan masa depan kita kepada pemeliharaan-Nya, sambil memegang teguh permulaan kepercayaan kita sampai akhir, mengingat bahwa kita menerima berkat surga, bukan karena kelayakan kita, tetapi karena kelayakan Kristus dan penerimaan kita, melalui iman kepada-Nya, akan kasih karunia Allah yang melimpah.” —Testimonies for the Church, vol. 7, hlm. 107.

SABAT

7. Apakah yang membuat Allah bersukacita ketika melihat adanya hal ini pada manusia?

Roma 12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

“Hukum kasih menghendaki pengabdian segenap tubuh, pikiran, dan jiwa untuk melayani Allah dan sesama manusia. Dan pelayanan ini, selain menjadikan kita berkat bagi orang lain, juga membawa berkat terbesar bagi diri kita sendiri. Sikap tanpa pamrih, yakni tidak mementingkan diri adalah yang mendasari semua perkembangan sejati. Melalui pelayanan yang tidak mementingkan diri yakni yang tanpa pamrih ini, kita menerima pengembangan tertinggi dari setiap kemampuan.” —Counsels to Parents, Teachers, and Students, hlm. 32.

UNTUK PEMBELAJARAN TAMBAHAN

Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama kita manusia harus dipupuk, karena itu sangat berharga bagaikan emas. Sekarang kita perlu menampilkan sebaik-baiknya tabiat agama yang murni dan tak tercemar, yang, baik dalam sifat maupun keinginannya, merupakan kebalikan dari keegoisan. Kasih yang seperti yang dicontohkan Kristus tidak tertandingi; nilainya melebihi emas, perak, atau bahkan batu permata. Kasih yang dimiliki Kristus harus didoakan dan diusahakan. Orang Kristen yang memilikinya memiliki tabiat yang mengatasi segala kelemahan manusia.” —Letter 335, 1905.

***