PATUNG YANG AMAT BESAR
“… Allah yang maha besar telah memberitahukan kepada tuanku raja apa yang akan terjadi di kemudian hari; mimpi itu adalah benar dan maknanya dapat dipercayai.” Daniel 2:45 bagian akhir.
“Terang yang agung terpancar dari Daniel dan para sahabatnya. Hal-hal mulia dikatakan tentang Sion, kota Allah. Demikian pula Allah telah merancangkan agar cahaya terang rohani bersinar dari para penjaga-Nya yang setia di zaman akhir ini. Jika orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama telah memberikan kesaksian kesetiaan yang begitu tegas, maka terlebih lagi umat Allah saat ini, yang telah memiliki terang yang telah terkumpul selama berabad-abad, harus bersinar terang, ketika nubuat-nubuat Perjanjian Lama menyingkapkan kemuliaannya yang terselubung tentang masa depan.” —Letter 32, 1899.
MINGGU
1. Apakah yang dipikirkan Raja Nebukadnezar sebelum ia tertidur? Apakah yang dilihatnya, dan apakah yang menyebabkannya menjadi sangat gelisah?
Daniel 2:29, 2-4 Sedang tuanku ada di tempat tidur, ya tuanku raja, timbul pada tuanku pikiran-pikiran tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan Dia yang menyingkapkan rahasia-rahasia telah memberitahukan kepada tuanku apa yang akan terjadi…. 2Lalu raja menyuruh memanggil orang-orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan para Kasdim, untuk menerangkan kepadanya tentang mimpinya itu; maka datanglah mereka dan berdiri di hadapan raja. 3Kata raja kepada mereka: “Aku bermimpi, dan hatiku gelisah, karena ingin mengetahui mimpi itu.” 4Lalu berkatalah para Kasdim itu kepada raja (dalam bahasa Aram): “Ya raja, kekallah hidupmu! Ceriterakanlah kepada hamba-hambamu mimpi itu, maka kami akan memberitahukan maknanya.”
“Kepada Daniel, Allah menyatakan terang maksud tujuan-Nya, yang telah tersembunyi selama beberapa generasi. Ia memilih agar Daniel melihat dalam penglihatan itu terang kebenaran-Nya, dan memantulkan terang ini ke kerajaan Babel yang sombong. Melalui raja yang lalim itu telah diizinkan untuk memancarkan terang dari takhta Allah. Kepada Nebukadnezar diperlihatkan bahwa Allah surga adalah penguasa atas semua raja dan penguasa di bumi. Nama-Nya lah yang akan disebut sebagai Allah di atas semua dewa. Allah menginginkan Nebukadnezar untuk memahami bahwa para penguasa kerajaan-kerajaan di bumi sesungguhnya adalah berada dibawah penguasa di surga.” —Letter 32, 1899.
SENIN
2 . Tanggapan apakah yang ia terima tiga kali dari para penasihatnya atas permintaannya? Apakah yang akhirnya ia lakukan?
Daniel 2:4, 5, 7, 10-18 Lalu berkatalah para Kasdim itu kepada raja (dalam bahasa Aram): “Ya raja, kekallah hidupmu! Ceriterakanlah kepada hamba-hambamu mimpi itu, maka kami akan memberitahukan maknanya.” 5Tetapi raja menjawab para Kasdim itu: “Aku telah mengambil keputusan, yakni jika kamu tidak memberitahukan kepadaku mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan dipenggal-penggal dan rumah-rumahmu akan dirobohkan menjadi timbunan puing; …. 7Mereka menjawab pula: “Silakan tuanku raja menceriterakan mimpi itu kepada hamba-hambanya ini, maka kami akan memberitahukan maknanya.” …. 10Para Kasdim itu menjawab raja: “Tidak ada seorangpun di muka bumi yang dapat memberitahukan apa yang diminta tuanku raja! Dan tidak pernah seorang raja, bagaimanapun agungnya dan besar kuasanya, telah meminta hal sedemikian dari seorang berilmu atau seorang ahli jampi atau seorang Kasdim. 11Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia.” 12Maka raja menjadi sangat geram dan murka karena hal itu, lalu dititahkannyalah untuk melenyapkan semua orang bijaksana di Babel. 13Ketika titah dikeluarkan supaya orang-orang bijaksana dibunuh, maka Daniel dan teman-temannyapun terancam akan dibunuh. 14Lalu berkatalah Daniel dengan cerdik dan bijaksana kepada Ariokh, pemimpin pengawal raja yang telah pergi untuk membunuh orang-orang bijaksana di Babel itu. 15katanya kepada Ariokh, pembesar raja itu: “Mengapa titah yang begitu keras ini dikeluarkan oleh raja?” Lalu Ariokh memberitahukan hal itu kepada Daniel. 16Maka Daniel menghadap raja dan meminta kepadanya, supaya ia diberi waktu untuk memberitahukan makna itu kepada raja. 17Kemudian pulanglah Daniel dan memberitahukan hal itu kepada Hananya, Misael dan Azarya, teman-temannya, 18dengan maksud supaya mereka memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit mengenai rahasia itu, supaya Daniel dan teman-temannya jangan dilenyapkan bersama-sama orang-orang bijaksana yang lain di Babel.
“Tidak puas dengan jawaban mereka yang mengelak, dan curiga, karena, meskipun mereka mengaku mampu mengungkap rahasia manusia, mereka tampaknya tetap tidak mampu membantunya, raja memerintahkan para orang bijaknya, dengan janji kekayaan dan kehormatan di satu sisi, dan ancaman kematian di sisi lain, untuk memberitahunya bukan hanya makna mimpi itu, tetapi juga isi mimpi itu sendiri…. Dipenuhi rasa takut akan konsekuensi kegagalan mereka, para kasdim itu pun berusaha menunjukkan kepada raja bahwa permintaannya itu tidaklah masuk akal dan ujiannya adalah melampaui apa yang pernah dituntut dari siapa pun juga.” —Prophets and Kings, hlm. 492.
SELASA
3. Bagaimanakah Allah menjawab doa hamba-Nya? Apakah yang dilakukan Daniel?
Daniel 2:19-24 Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam. Lalu Daniel memuji Allah semesta langit. 20Berkatalah Daniel: “Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan! 21Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian; 22Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya. 23Ya Allah nenek moyangku, kupuji dan kumuliakan Engkau, sebab Engkau mengaruniakan kepadaku hikmat dan kekuatan, dan telah memberitahukan kepadaku sekarang apa yang kami mohon kepada-Mu: Engkau telah memberitahukan kepada kami hal yang dipersoalkan raja.” 24 Sebab itu pergilah Daniel kepada Ariokh yang telah ditugaskan raja untuk melenyapkan orang-orang bijaksana di Babel; maka pergilah ia serta berkata kepadanya, demikian: “Orang-orang bijaksana di Babel itu jangan kaulenyapkan! Bawalah aku menghadap raja, maka aku akan memberitahukan kepada raja makna itu!”
“Bersama-sama mereka mencari hikmat dari Sumber segala terang dan pengetahuan. Iman mereka kuat dalam kesadaran bahwa Allah-lah yang telah menempatkan mereka di tempat mereka berada ketika itu, bahwa mereka sedang melakukan pekerjaan-Nya dan memenuhi tuntutan tugas-Nya. Di saat-saat kebingungan dan bahaya, mereka selalu berpaling kepada-Nya untuk mendapat bimbingan dan perlindungan, dan Dia telah terbukti sebagai penolong yang selalu hadir. Dengan pertobatan di hati, mereka kembali menyerahkan diri kepada Hakim bumi, memohon agar Dia berkenan memberi mereka keselamatan di saat mereka sangat membutuhkan pertolongan ini. Dan permohonan mereka tidak sia-sia. Allah yang telah mereka hormati itu, kini menghormati mereka.” —Prophets and Kings, hlm. 493.
RABU
4. Bagaimanakah Daniel memberikan penjelasannya kepada raja?
Daniel 2:25-28, 30 Ariokh segera membawa Daniel menghadap raja serta berkata kepada raja demikian: “Aku telah mendapat seorang dari antara orang-orang buangan dari Yehuda, yang dapat memberitahukan makna itu kepada raja.” 26Bertanyalah raja kepada Daniel yang namanya Beltsazar: “Sanggupkah engkau memberitahukan kepadaku mimpi yang telah kulihat itu dengan maknanya juga?” 27Daniel menjawab, katanya kepada raja: “Rahasia, yang ditanyakan tuanku raja, tidaklah dapat diberitahukan kepada raja oleh orang bijaksana, ahli jampi, orang berilmu atau ahli nujum. 28Tetapi di sorga ada Allah yang menyingkapkan rahasia-rahasia; Ia telah memberitahukan kepada tuanku raja Nebukadnezar apa yang akan terjadi pada hari-hari yang akan datang. Mimpi dan penglihatan-penglihatan yang tuanku lihat di tempat tidur ialah ini: … 30Adapun aku, kepadaku telah disingkapkan rahasia itu, bukan karena hikmat yang mungkin ada padaku melebihi hikmat semua orang yang hidup, tetapi supaya maknanya diberitahukan kepada tuanku raja, dan supaya tuanku mengenal pikiran-pikiran tuanku.
“Lihatlah tawanan Yahudi itu, dengan tenang dan percaya diri, di hadapan raja dari kekaisaran terkuat di dunia ketika itu. Dalam kata-kata pertamanya, ia menolak kehormatan untuk dirinya sendiri dan meninggikan Allah sebagai sumber segala hikmat.” —Prophets and Kings, hlm. 494.
KAMIS
5 . Apakah yang dilihat raja dalam mimpi itu?
Daniel 2:31-35 Ya raja, tuanku melihat suatu penglihatan, yakni sebuah patung yang amat besar! Patung ini tinggi, berkilau-kilauan luar biasa, tegak di hadapan tuanku, dan tampak mendahsyatkan. 32Adapun patung itu, kepalanya dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, 33sedang pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat. 34Sementara tuanku melihatnya, terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, lalu menimpa patung itu, tepat pada kakinya yang dari besi dan tanah liat itu, sehingga remuk. 35Maka dengan sekaligus diremukkannyalah juga besi, tanah liat, tembaga, perak dan emas itu, dan semuanya menjadi seperti sekam di tempat pengirikan pada musim panas, lalu angin menghembuskannya, sehingga tidak ada bekas-bekasnya yang ditemukan. Tetapi batu yang menimpa patung itu menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.
“‘Itulah mimpi tuanku,’ (Daniel 2:36), kata Daniel dengan yakin; dan raja, mendengarkan dengan saksama setiap detailnya, tahu bahwa itu adalah benar mimpi yang selama ini sangat mengganggu pikirannya. Dengan demikian pikirannya pun disiapkan untuk menerima maknanya dengan baik. Raja segala raja hendak menyampaikan kebenaran besar kepada raja Babel itu. Allah hendak menyatakan bahwa Ia-lah yang memiliki kuasa atas kerajaan-kerajaan di dunia, kuasa untuk menobatkan dan menggulingkan raja-raja. Pikiran Nebukadnezar hendak dibangunkan, bahkan jika mungkin, untuk menyadari tanggung jawabnya kepada Surga. Peristiwa-peristiwa masa depan, yang menjangkau hingga pada akhir zaman, hendak diungkapkan di hadapannya.” —Prophets and Kings, hlm. 497.
JUMAT
6. Apakah makna mimpi itu?
Daniel 2:37-44 Ya tuanku raja, raja segala raja, yang kepadanya oleh Allah semesta langit telah diberikan kerajaan, kekuasaan, kekuatan dan kemuliaan, 38dan yang ke dalam tangannya telah diserahkan-Nya anak-anak manusia, di manapun mereka berada, binatang-binatang di padang dan burung-burung di udara, dan yang dibuat-Nya menjadi kuasa atas semuanya itu–tuankulah kepala yang dari emas itu. 39Tetapi sesudah tuanku akan muncul suatu kerajaan lain, yang kurang besar dari kerajaan tuanku; kemudian suatu kerajaan lagi, yakni yang ketiga, dari tembaga, yang akan berkuasa atas seluruh bumi. 40Sesudah itu akan ada suatu kerajaan yang keempat, yang keras seperti besi, tepat seperti besi yang meremukkan dan menghancurkan segala sesuatu; dan seperti besi yang menghancurluluhkan, maka kerajaan ini akan meremukkan dan menghancurluluhkan semuanya. 41Dan seperti tuanku lihat kaki dan jari-jarinya sebagian dari tanah liat tukang periuk dan sebagian lagi dari besi, itu berarti, bahwa kerajaan itu terbagi; memang kerajaan itu juga keras seperti besi, sesuai dengan yang tuanku lihat besi itu bercampur dengan tanah liat. 42Tetapi sebagaimana jari-jari kaki itu sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat, demikianlah kerajaan itu akan menjadi keras sebagian dan rapuh sebagian. 43Seperti tuanku lihat besi bercampur dengan tanah liat, itu berarti: mereka akan bercampur oleh perkawinan, tetapi tidak akan merupakan satu kesatuan, seperti besi tidak dapat bercampur dengan tanah liat. 44Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya.
“Patung yang diperlihatkan kepada Nebukadnezar, meskipun melambangkan kemerosotan kerajaan-kerajaan di bumi dalam hal kekuasaan dan kemuliaan, juga secara tepat melambangkan kemerosotan agama dan moralitas di antara penduduk kerajaan-kerajaan tersebut. Ketika bangsa-bangsa melupakan Allah, maka sebanding pula mereka menjadi melemah secara moral.
“Babel runtuh karena dalam kemakmurannya ia malah melupakan Allah, dan justru mengaitkan kemuliaan kemakmurannya dengan pencapaian manusia.
“Kerajaan Media-Persia ditimpa murka surga karena di kerajaan ini hukum Allah telah diinjak-injak. Rasa takut akan Allah tidak ada di hati rakyat. Pengaruh yang dominan di Media-Persia adalah kejahatan, penghujatan, dan korupsi.
“Kerajaan-kerajaan yang muncul kemudian bahkan lebih bejat dan lebih korup lagi. Mereka merosot karena mereka meninggalkan kesetiaan mereka kepada Allah. Saat mereka melupakan-Dia, maka mereka pun semakin terpuruk dalam skala nilai moral mereka.” —(The Youth’s Instructor, 22 September 1903) Seventh-day Adventist Bible Commentary, vol. 4, hlm. 1168.
SABAT
7 . Bagaimana reaksi raja terhadap pekabaran Allah yang terkandung dalam mimpi itu? Apakah yang kemudian dilakukannya?
Daniel 2:46-49 Lalu sujudlah raja Nebukadnezar serta menyembah Daniel; juga dititahkannya mempersembahkan korban dan bau-bauan kepadanya. 47Berkatalah raja kepada Daniel: “Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.” 48Lalu raja memuliakan Daniel: dianugerahinyalah dengan banyak pemberian yang besar, dan dibuatnya dia menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babel. 49Atas permintaan Daniel, raja menyerahkan pemerintahan wilayah Babel itu kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sedang Daniel sendiri tinggal di istana raja.
“Nebukadnezar merasa bahwa ia dapat menerima makna yang disampaikan ini sebagai wahyu ilahi; karena kepada Daniel telah diungkapkan setiap detail dari isi mimpi itu. Kebenaran-kebenaran agung yang disampaikan oleh penafsiran penglihatan malam itu telah membuat kesan mendalam pada pikiran raja, dan dengan kerendahan hati dan kekaguman ia pun ‘sujud dan menyembah.’…
“Nebukadnezar melihat dengan jelas perbedaan antara hikmat Allah dan hikmat orang-orang yang paling terpelajar di kerajaannya.” —The Youth’s Instructor, September 8, 1903.
UNTUK PEMBELAJARAN TAMBAHAN
“Melalui tawanan Ibrani itu, Allah dinyatakan kepada bangsa-bangsa kafir di Babel. Bangsa penyembah berhala ini diberi pengetahuan tentang kerajaan yang akan didirikan Allah, dan yang akan dipertahankan-Nya melalui kuasa-Nya melawan segala kuasa dan tipu daya Setan. Daniel dan teman-temannya, juga Ezra dan Nehemia, serta banyak lagi lainnya, yang menjadi saksi bagi Allah dalam penawanan mereka. Allah menyebarkan mereka di antara kerajaan-kerajaan di bumi, agar terang mereka bersinar terang di tengah kegelapan kekafiran dan penyembahan berhala.” —Letter 32, 1899.