Renungan Pagi 9 September 2025

SEUMPAMA RAGI

Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” Matius 13:33.

“Kerajaan surga saat ini baru dapat dirasakan, tetapi tak dapat terlihat secara kasat mata. Demikianlah, pekerjaan Roh Allah di dalam diri diibaratkan seperti ragi…” 13LtMs, Ms 82, 1898, par. 1.

“… dalam perumpamaan Juruselamat, ragi digunakan untuk menggambarkan kerajaan surga. Ragi menggambarkan kuasa kasih karunia Allah yang menghidupkan dan yang membawakan pengaruh yang mengubahkan.” COL 95.3.

“… Ragi—sesuatu yang sepenuhnya berasal dari luar—harus dimasukkan ke dalam adonan sebelum perubahan yang diinginkan dapat terjadi di dalamnya. Jadi, demikianlah kasih karunia Allah harus terlebih dahulu diterima oleh orang berdosa sebelum ia dapat dilayakkan untuk kerajaan kemuliaan…” COL 96.2.

“Sebagaimana ragi, ketika dicampur dengan adonan, akan bekerja dari dalam ke luar, demikian pula melalui pembaruan hati, kasih karunia Allah bekerja untuk mengubah hidup. Perubahan lahiriah semata tidak cukup untuk membawa kita selaras dengan Allah. Banyak orang mencoba memperbaiki diri dengan memperbaiki kebiasaan buruk ini atau itu, dan mereka berharap dengan cara ini menjadi orang Kristen, tetapi mereka memulai dari tempat yang salah. Pekerjaan pertama kita adalah dengan hati.” COL 97.1.

“Kristus (juga) menggunakan ragi untuk menggambarkan roh prasangka dan pikiran jahat … Sebagaimana ragi menyebar melalui makanan tempat ragi itu disembunyikan, demikian pula ragi prasangka dan kedengkian jahat akan merusak seluruh diri—pikiran, tindakan, dan tabiat—di mana ragi itu diterima. Terhadap ragi ini, Ia meminta para pengikut-Nya untuk berhati-hati. Selain itu, Ia pun menggunakan ragi untuk menggambarkan Injil kerajaan. Dengan ragi ini, firman Allah, kebaikan sejati, kebenaran, dan damai sejahtera diperkenalkan. Hal ini membawa seluruh kasih sayang menjadi selaras dengan pikiran dan kehendak Allah. Ke mana pun ragi itu pergi, ragi kebenaran membuat perubahan dalam pikiran dan hati. Seluruh tabiat pun diubahkan. Semua orang yang menerima kebenaran ke dalam hati sebagaimana adanya di dalam Yesus, akan menyatakan kuasa raginya. Ketika kerajaan surga ditegakkan di dalam hati, seluruh tabiat menjadi serupa dengan tabiat Kristus; karena kebenaran adalah prinsip yang memberi hidup. Kuasa Allah bekerja, seperti ragi, untuk menaklukkan seluruh diri. Bahkan pikiran pun ditawan kepada kehendak Kristus…” RH 21 September 1897, par. 11.

“Seperti ragi, meskipun tersembunyi dalam tepung, dan hanya disimpan di satu tempat, membawa semua yang ada di sekitarnya ke dalam proses pengkhamiran, demikian pula karya kebenaran terus berlanjut secara rahasia, hening, dan mantap, meresapi seluruh daya jiwa. Dan pasti akan ada pengaruh kudus yang mengikutinya. Suatu konsistensi akan mengalir melalui seluruh kehidupan, menunjukkan bahwa itu adalah karya hati.” RH 21 September 1897, par. 12.

“Dalam perumpamaan itu, perempuan itu memasukkan ragi ke dalam adonan. Ragi itu diperlukan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan ini, Allah ingin mengajarkan kita bahwa, dari dirinya sendiri, manusia tidaklah memiliki sifat-sifat keselamatan. Ia tidak dapat mengubah sendiri dirinya dengan menjalankan kehendaknya. Kebenaran harus diterima ke dalam hati. Demikianlah ragi ilahi bekerja. Dengan kuasa yang mengubahkan dan kekuatan kuasanya, ragi ilahi menghasilkan perubahan dalam hati. Pikiran yang dibaharui, perasaan yang dibaharui, dan tujuan hidup yang dibaharui dibangkitkan. Pikiran diubahkan, daya hidup yang penting diaktifkan. Manusia tidak dibekali dengan daya-daya baru, tetapi daya-daya yang telah dimilikinya disucikan. Hati nurani yang sebelumnya mati dibangkitkan. Tetapi manusia tidak dapat membuat perubahan ini dengan kekuatannya sendiri. Perubahan ini hanya dapat dilakukan oleh Roh Kudus. Semua orang yang ingin diselamatkan, baik dari golongan yang tinggi atau rendah, kaya atau miskin, harus tunduk pada karya kuasa ini.” RH 25 Juli 1899, Pasal A, paragraf 3.

Another parable spake he unto them; The kingdom of heaven is like unto leaven, which a woman took, and hid in three measures of meal, till the whole was leavened.” Matthew 13:33 (KJV).

“The kingdom of heaven can be felt, but not seen. The inward working of the Spirit of God is compared to leaven…” 13LtMs, Ms 82, 1898, par. 1.

“.. in the Saviour’s parable, leaven is used to represent the kingdom of heaven. It illustrates the quickening, assimilating power of the grace of God.” COL 95.3.

“… The leaven—something wholly from without—must be put into the meal before the desired change can be wrought in it. So the grace of God must be received by the sinner before he can be fitted for the kingdom of glory…” COL 96.2.

“As the leaven, when mingled with the meal, works from within outward, so it is by the renewing of the heart that the grace of God works to transform the life. No mere external change is sufficient to bring us into harmony with God. There are many who try to reform by correcting this or that bad habit, and they hope in this way to become Christians, but they are beginning in the wrong place. Our first work is with the heart.” COL 97.1.

“Christ (also) used leaven to illustrate this spirit of evil surmising and evil thinking. As the leaven spreads through the meal in which it is hidden, so will the leaven of evil surmising and malice pervert the entire being—thoughts, actions, and character—where it is received. Of this leaven, he bids his followers beware. Again, he uses leaven to illustrate the gospel of the kingdom. With this leaven, the word of God, true goodness, righteousness, and peace are introduced. This brings the entire affections into conformity to the mind and will of God. Wherever it goes, the leaven of truth makes a change in mind and heart. The entire character is transformed. All who will receive into the heart the truth as it is in Jesus, will reveal its leavening power. When the kingdom of heaven is established in the heart, the whole character is conformed to the character of Christ; for the truth is a life-giving principle. The power of God is working, like the leaven, to subdue the entire being. Even the thoughts are brought into captivity to the will of Christ…” RH September 21, 1897, par. 11.

“As the leaven, though hidden in the flour, and deposited only in one place, brings all surrounding it under the leavening process, so the working of truth continues secretly, silently, steadily, to pervade all the faculties of the soul. And there is sure to follow a holy influence. A consistency will run through the whole life, showing it to be a work of the heart.” RH September 21, 1897, par. 12.

“In the parable the woman placed the leaven in the meal. It was necessary to supply a want. By this God would teach us that, of himself, man does not possess the properties of salvation. He can not transform himself by the exercise of his will. The truth must be received into the heart. Thus the divine leaven does its work. By its transforming, vitalizing power it produces a change in the heart. New thoughts, new feelings, new purposes are awakened. The mind is changed, the faculties are set to work. Man is not supplied with new faculties, but the faculties he has are sanctified. The conscience hitherto dead is aroused. But man can not make this change himself. It can be made only by the Holy Spirit. All who would be saved, high or low, rich or poor, must submit to the working of this power.” RH July 25, 1899, Art. A, par. 3.***