TELADAN AHLI WARIS KEKAYAAN SURGAWI
“Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.” Kejadian 26:12-13.
“Kerinduan akan negeri surgawi ini membuat para ahli waris sejati sangat mudah bergaul dalam urusan duniawi, seperti yang diilustrasikan dalam kehidupan Ishak. Ia pergi tinggal di tanah Filistin, dan menabur di tanah itu …dan diberkati TUHAN …” PTUK 23 Juli 1896, hlm. 466.3.“
“Kristus hendak memberikan kepada kita kekayaan kekal, dengan syarat ketaatan kita. … Petunjuknya adalah “kumpulkanlah bagimu harta di surga.” (Matius 6:20). Demi kepentingan kita sendiri, kita harus mengamankan kekayaan surgawi. … Jika manusia mencintai kekayaan duniawi lebih daripada mengasihi sesama mereka manusia, bahkan lebih daripada Tuhan, atau kebenaran firman-Nya, dan hati mereka hanya tertuju pada kekayaan mereka, maka mereka tidak dapat memiliki hidup kekal. … Kekayaan seharusnya kita gunakan untuk memajukan pekerjaan Tuhan … Dengan demikian, kita mengumpulkan berkat yang melimpah bagi diri kita sendiri.” RH June 10, 1890, par. 8, RH 18 September 1888, par. 17, 2SG 242.2 (RH 26 November 1857, par. 15), 2T 668.4.
“Barangsiapa masih berpegang teguh pada harta duniawinya, dan tidak mengatur dengan benar apa yang sedang dipinjamkan Allah kepadanya, akan kehilangan hartanya di surga, dan kehilangan hidup kekal… Jika kita kehilangan surga, berarti kita kehilangan segalanya; dan jika kita memperoleh surga, kita memperoleh segalanya. Kita tidak hanya akan memiliki hidup kekal di kerajaan kemuliaan, tetapi juga kekayaan kekal untuk selama-lamanya.” 2SG 243.1, 4LtMs, Ms 10, 1886, par. 15.
“Ia mengarahkan jiwa yang percaya kepada hal-hal yang tak terlihat—yakni kekayaan sejati, kekayaan yang tak terduga, kekayaan kekal yang telah Ia beli bagi mereka dengan pengorbanan yang sangat besar dari diri-Nya sendiri.” 2LtMs, Lt 9, 1873, par. 18.”Meskipun Ishak lebih perkasa daripada penduduk negeri tempat ia tinggal, ia rela meninggalkan mereka atas permintaan mereka, bahkan ketika ia sedang makmur berlimpah. Ia tidak mau berperang untuk sekedar memiliki harta duniawi… Ishak memiliki janji akan negeri yang lebih baik, yaitu negeri surgawi, dan karena itu ia tidak mau berperang untuk memiliki beberapa mil persegi tanah di bumi yang terkutuk oleh dosa ini. Mengapa ia harus melakukannya? Itu bukanlah warisan yang telah dijanjikan Allah kepadanya; dan mengapa ia harus berjuang untuk mendapatkan bagian di negeri tempat ia hanya seorang pengembara? Memang, ia harus hidup, tetapi ia membiarkan Allah yang mengaturnya untuknya. … Janji yang diberikan kepada para bapa ini juga diberikan kepada kita, oleh Allah yang sama. … Allah yang sama itu masih memperhatikan mereka yang menaruh kepercayaan kepada-Nya. … Warisan yang telah dijanjikan Allah kepada umat-Nya, keturunan Abraham, tidak dapat diperoleh dengan berperang, kecuali dengan senjata rohani—yakni perisai Kristus—melawan pasukan Setan. Mereka yang mencari negeri yang telah dijanjikan Allah, menyatakan… “bahwa mereka adalah orang asing dan pengembara di bumi ini. Mereka tidak dapat menggunakan pedang, bahkan untuk membela diri, apalagi untuk penaklukan. Allah adalah pembela mereka.” PTUK 23 Juli 1896, hlm. 466.4, 466.7, 466.9, 466.10.
“Then Isaac sowed in that land, and received in the same year an hundredfold: and the LORD blessed him. And the man waxed great, and went forward, and grew until he became very great.” Genesis 26:12-13 (KJV).
“This desire for a heavenly country made the true heirs very easy to get along with in temporal affairs, as is illustrated in the life of Isaac. He went to sojourn in the land of the Philistines, and sowed in that land, “… and the LORD blessed him …” PTUK July 23, 1896, page 466.3.
“Christ has presented to us eternal riches, on condition of obedience. … The instruction is to “lay up for yourselves treasure in heaven.” It is for our own interest, that we secure heavenly riches. … If men love their riches better than their fellow men, better than God, or the truth of his word, and their hearts are on their riches, they cannot have eternal life. … Riches may be used by us to advance the cause of God … In so doing, we gather to ourselves rich blessings.” RH June 10, 1890, par. 8, RH September 18, 1888, par. 17, 2SG 242.2 (RH November 26, 1857, par. 15), 2T 668.4.
“Those who will still cling to their earthly treasure, and will not make a right disposition of that which is lent them of God, will lose their treasure in heaven, lose everlasting life… If we lose heaven, we lose everything; and if we gain heaven, we gain everything. We will not only have eternal life in the kingdom of glory, but eternal riches for evermore.” 2SG 243.1, 4LtMs, Ms 10, 1886, par. 15.
“He points the believing soul to things unseen—the true riches, unsearchable riches, durable riches that He has purchased for them at immense cost to Himself.” 2LtMs, Lt 9, 1873, par. 18.
“Although Isaac was mightier than the people in whose land he dwelt, he went from them at their request, even when he was prospering abundantly. He would not strive for the possession of an earthly estate… Isaac had the promise of a better country, that is, an heavenly, and therefore he would not strive for the possession of a few square miles of land on this sin-cursed earth. Why should he? It was not the inheritance that the Lord had promised him; and why should he fight for a part in the land wherein he was only a so-journer? True, he had to live, but he allowed the Lord to manage that for him. … The promise which was made to the fathers is also made to us, by very same God. … That same God still cares for those who put their trust in Him. … The inheritance which the Lord has promised to His people, the seed of Abraham, is not to be obtained by fighting, except with spiritual weapons-the armour of Christ-against the hosts of Satan. They who seek the country which God has promised, declare that they are strangers and pilgrims on this earth. They cannot use the sword, even in self-defence, much less for conquest. The Lord is their defender.” PTUK July 23, 1896, page 466.4, 466.7, 466.9, 466.10.***