TEMA SEMESTER: PARA NABI BERBICARA (BAGIAN 2 – “YEHEZKIEL & DANIEL”)
Pelajaran 16, Sabat 18 April 2026
PERAPIAN YANG MENYALA-NYALA
“Dan ia diperkenankan untuk berperang melawan orang-orang kudus dan untuk mengalahkan mereka; dan kepadanya diberikan kuasa atas setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa.” Wahyu 13:7.
“Banyak orang menganggap Sabat yang terdapat dalam perintah hukum keempat sebagai sesuatu yang tidak berarti; sementara sabat palsu, hasil ciptaan kepausan, justru dimuliakan. Sebagai pengganti hukum Allah, diangkatlah hukum manusia durhaka—hukum yang harus diterima dan dipandang sebagaimana halnya patung emas Nebukadnezar yang megah oleh orang Babel dahulu. Saat membuat patung yang besar ini, Nebukadnezar memerintahkan agar patung itu menerima penghormatan yang menyeluruh dari semua orang, baik besar maupun kecil, tinggi maupun rendah, kaya maupun miskin.” —Manuscript 24, 1891.
| MINGGU |
1. Apakah yang dilakukan Nebukadnezar, sehubungan dengan mimpi yang telah diberikan Allah kepadanya?
Daniel 3:1, 2 Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel. 2Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu.
“Dari perbendaharaannya yang melimpah, Nebukadnezar memerintahkan pembuatan sebuah patung emas besar, yang bentuknya secara umum mirip dengan yang telah dilihatnya dalam penglihatan, kecuali dalam satu hal khusus, yaitu bahan pembuatan atau materialnya. Karena terbiasa dengan representasi dewa-dewa kafir mereka yang megah, orang Kasdim belum pernah sebelumnya menghasilkan sesuatu yang begitu mengesankan dan agung seperti patung yang gemerlap ini, setinggi enam puluh hasta dan lebar enam hasta. Dan tidak mengherankan bahwa di negeri di mana penyembahan berhala tersebar luas, patung yang indah dan tak ternilai harganya, di dataran Dura, yang mewakili kemuliaan Babel dan keagungan serta kekuasaannya, harus dikuduskan sebagai objek penyembahan. Oleh karena itu, hal ini pun diatur, dan sebuah dekrit dikeluarkan bahwa pada hari peresmiannya, semua orang harus menunjukkan kesetiaan tertinggi mereka kepada kekuasaan Babel dengan membungkuk di hadapan patung tersebut.” —Prophets and Kings, hlm. 505.
| SENIN |
2. Apakah tujuannya? Ancaman apakah yang dia berikan?
Daniel 3:4-6 Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: “Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, 5demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu; 6siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!”
“Hari yang telah ditentukan pun tiba, dan kerumunan besar orang dari segala ‘bangsa, suku bangsa, dan bahasa’ berkumpul di dataran Dura. Sesuai dengan perintah raja, ketika suara musik terdengar, segenap orang banyak itu pun ‘sujud menyembah patung emas itu.’ Pada hari yang mengesankan itu, kuasa kegelapan tampaknya meraih kemenangan besar; penyembahan patung emas itu tampaknya akan terhubung secara permanen dengan bentuk-bentuk penyembahan berhala yang diakui sebagai agama negara di negeri itu. Setan berharap bahwa dengan demikian dapat menggagalkan maksud Allah untuk menjadikan kehadiran Israel yang ditawan di Babel sebagai sarana berkat bagi semua bangsa kafir….
“Kepada Nebukadnezar, yang diliputi rasa kemenangan, disampaikanlah kabar bahwa di antara rakyatnya ada beberapa orang yang telah berani menentang perintahnya. Beberapa orang kasdim, yang iri dengan kehormatan yang telah diberikan kepada para sahabat setia Daniel, melaporkan kepada raja mengenai pelanggaran terang-terangan mereka terhadap keinginannya.” —Prophets and Kings, hlm. 506.
| SELASA |
3 . Siapakah yang menjadi pusat perhatian dalam situasi itu? Mengapakah?
Daniel 3:8, 12 Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi… 12Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.”
“Tidak semua orang berlutut di hadapan simbol penyembahan berhala kekuasaan manusia itu. Di tengah kerumunan orang yang menyembah itu, ada tiga orang yang teguh bertekad untuk tidak menghina Allah di surga. Allah mereka adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan; dan mereka tidak mau tunduk kepada yang lain.” —Prophets and Kings, hlm. 506.
| RABU |
4. Apakah yang terjadi segera setelah itu? Apa jawaban para pemuda yang setia itu terhadap ancaman raja?
Daniel 3:13-18 Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja. 14berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? 15Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” 16Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. 17Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja. 18tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
“Ancaman raja sia-sia. Ia tidak dapat mengalihkan kesetiaan mereka terhadap Penguasa alam semesta. Dari sejarah leluhur mereka, mereka telah belajar bahwa ketidaktaatan kepada Allah adalah mengakibatkan kehinaan, bencana, dan kematian; dan bahwa takut akan Allah adalah permulaan hikmat, dan dasar dari semua kemakmuran sejati. Dengan tenang mereka menghadapi ancaman perapian itu, mereka berkata, ‘Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini, Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja.’ Iman mereka semakin kuat ketika mereka menyatakan bahwa Allah akan dimuliakan dengan menyelamatkan mereka, dan dengan keyakinan penuh kemenangan yang lahir dari kepercayaan yang mutlak kepada Allah, mereka menambahkan, ‘tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.’ (Daniel 3:16-18).” —Prophets and Kings, hlm. 507.
| KAMIS |
5 . Bagaimanakah reaksi Nebukadnezar terhadap kata-kata iman mereka? Apa yang ia putuskan untuk lakukan?
Daniel 3:19-23 Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. 20Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. 21Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. 22Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas. 23Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
“Ketika raja melihat bahwa kehendaknya tidak diterima sebagai kehendak Allah, ia ‘meluap dalam kegeraman,’ dan raut wajahnya terhadap orang-orang itu pun berubahlah. Sifat-sifat setan membuat wajahnya tampak seperti wajah iblis; dan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya, ia pun memerintahkan agar tungkunya dipanaskan tujuh kali lebih panas dari biasanya, dan memerintahkan orang-orang terkuatnya untuk mengikat pemuda itu, dan melemparkan mereka ke dalam tungku. Ia merasa bahwa dibutuhkan kekuatan yang lebih dari biasa untuk menghadapi orang-orang mulia ini. Pikirannya sangat yakin bahwa sesuatu yang luar biasa akan campur tangan untuk membela mereka, dan orang-orang terkuatnya diperintahkan untuk menghadapi mereka.” —Signs of the Times, 6 Mei 1897.
| JUMAT |
6. Apa yang dilihat raja? Apa yang kemudian dia lakukan?
Daniel 3:24-26 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!” 25Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!” 26Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
“Bagaimana Nebukadnezar mengetahui bahwa rupa Sosok Yang Keempat itu seperti Anak Allah? Yakni karena dia telah mendengar tentang Anak Allah dari tawanan Ibrani yang berada di kerajaannya. Mereka telah membawa pengetahuan tentang Allah yang hidup, yang memerintah segala sesuatu.” —Review and Herald, 3 Mei 1892.
| SABAT |
7. Apakah yang kemudian ditetapkan? Perintah apakah yang dikeluarkan oleh Raja Nebukadnezar?
Daniel 3:27-30 Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka. 28Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. 29Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” 30Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.
“Orang-orang Ibrani yang setia ini memiliki kemampuan alami dan budaya intelektual yang luar biasa, dan mereka pun menduduki posisi kehormatan yang tinggi; tetapi semua keunggulan ini tidak membuat mereka melupakan Allah. Semua kekuatan mereka adalah diserahkan kepada pengaruh pengudusan kasih karunia ilahi. Melalui teladan saleh mereka, dan integritas teguh mereka, mereka menyatakan pujian kepada Dia yang telah memanggil mereka keluar dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib. Dalam pembebasan mereka yang ajaib, di hadapan jemaat yang besar itu, kuasa dan keagungan Allah pun ditunjukkan. Yesus menempatkan diri-Nya di sisi mereka di dalam tungku api, dan dengan kemuliaan kehadiran-Nya telah meyakinkan raja Babel yang sombong, bahwa itu tidak lain selain Anak Allah. Terang surga telah bersinar dari Daniel dan para sahabatnya, sampai semua rekan mereka pun dibuat mengerti tentang iman yang memuliakan hidup mereka dan memperindah tabiat mereka.” —Review and Herald, 1 Februari 1881.
| UNTUK PEMBELAJARAN TAMBAHAN |
“Sebagaimana pada zaman Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, demikian pula pada periode akhir sejarah bumi, Allah hendak bekerja dengan dahsyat bagi barangsiapa yang berdiri teguh membela kebenaran. Dia yang telah berjalan bersama orang-orang Ibrani yang mulia di dalam perapian yang menyala-nyala itu akan bersama para pengikut-Nya di mana pun mereka berada. Kehadiran-Nya yang kekal akan menghibur dan menopang. Di tengah masa kesusahan—yakni kesusahan yang belum pernah terjadi sejak ada suatu bangsa—umat pilihan-Nya akan dapat tetap berdiri teguh. Setan dengan segenap pasukan kejahatannya tidak dapat menghancurkan orang-orang kudus Allah yang paling lemah sekalipun. Malaikat-malaikat yang unggul dalam kekuatan akan melindungi mereka, dan demi mereka, Allah akan menyatakan diri-Nya sebagai ‘Allah segala allah,’ yang mampu menyelamatkan sepenuhnya barangsiapa yang telah menaruh kepercayaan mereka kepada-Nya.” —Prophets and Kings, hlm. 513.
***