Bacaan 1 – Sabat, 2 Mei 2026
Oleh Pr. Yony Delgado Cotrina (Peru / AS)
Saudara-saudari terkasih, telah ada berbagai upaya untuk mendefinisikan identitas manusia dari berbagai perspektif; namun, adalah tanggung jawab kita untuk menegaskan kembali hubungan yang tak terbantahkan yang ada antara identitas kita dengan tabiat Allah. Hubungan intim antara identitas kita dan Pencipta kita sedang mengingatkan kita bahwa, dengan mencerminkan kasih, keadilan, dan kekudusan-Nya, berarti kita sedang memenuhi tujuan penciptaan kita. Bahkan seorang ayah, di rumahnya sendiri, harus mewakili tabiat Allah. “Betapa banyak orang yang menghina Kristus dan salah menggambarkan tabiat-Nya di lingkungan keluarga!” –The Adventist Home, hlm. 177.
Mengapa kita kehilangan identitas kita? Jawabannya adalah:
“Keserupaan dengan dunia ini-lah yang menyebabkan umat kita kehilangan arah.” –Mind, Character, and Personality, vol. 1, hlm. 558.
Mengetahui tentang kenyataan ini, rasul Paulus memberi tahu kita:
“Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” Roma 14:12.
Marilah kita mulai dengan doa dan penghormatan di hadapan Allah.
1. Identitas Kita
Kisah dalam Alkitab menyajikan rencana ilahi Allah yang sesungguhnya: “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, …’” (Kejadian 1:26). Kemudian, Kejadian 1:27 menyatakan: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” “Allah telah memberikan kepada setiap orang, laki-laki dan perempuan, identitas pribadi dan individualitas yakni kepribadian masing-masing, sehingga mereka harus bertindak dalam takut akan Allah demi diri mereka sendiri.” –Daughters of God, hlm. 183.
“Manusia telah diciptakan menurut gambar Allah, baik dalam rupa lahiriah (tampilan fisik) maupun dalam tabiat… Sifatnya pada mulanya telah dibuat selaras dengan kehendak Allah.” –Patriarchs and Prophets, hlm. 45. Mari kita garisbawahi dua aspek identitas manusia ini: fisik dan tabiat.
Pertama, identitas kita adalah terkait dengan aspek biologis, yakni aspek fisik, dan itu adalah mencerminkan rancangan ilahi. Bentuk rupa manusia telah dirancang untuk mengekspresikan martabat, kesempurnaan, dan kemuliaan Sang Pencipta. Tubuh kita, kemampuan kita, dan kapasitas kita untuk berhubungan dengan orang lain mencerminkan tatanan dan harmoni yang berasal dari Allah. Pemazmur telah mengungkapkannya sebagaimana berikut ini: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku… ajaib apa yang Kaubuat.” Mazmur 139:13-14.

Kedua, ekspresi kita dalam perbuatan dan kata-kata, serta dalam emosi dan pikiran kita, haruslah mengungkapkan identitas ciptaan yang berpusat pada tabiat Pencipta kita: kasih, keadilan, kebaikan, dan kemampuan untuk memilih apa yang benar. “Ketika Adam dan Hawa ditempatkan di Taman Eden, mereka tidak bersalah dan tanpa dosa, dalam keadaan keselarasan yang sempurna dengan Allah.” –Christ Triumphant, hlm. 28. Mereka telah diciptakan sempurna dan selaras dengan Allah dan alam. Dijadikan serupa dengan gambar Allah berarti kita dipanggil untuk mencerminkan tabiat moral-Nya, mengembangkan kebajikan yang Dia sendiri miliki dan yang kita terima melalui kasih karunia saat penciptaan. “Manusia pada awalnya adalah dikaruniai kekuatan-kuasa yang mulia dan pikiran yang seimbang-baik.” –Steps to Christ, hlm. 17.
Sayangnya, umat manusia telah kehilangan identitas, nilai, dan martabatnya. Identitas kita sebenarnya bukanlah bergantung pada prestasi, status sosial, atau budaya semata, melainkan pada kenyataan bahwa kita telah diciptakan untuk mencerminkan tabiat Allah kita. Disinilah letak tanggung jawab moral kita: jika kita memang telah membawa citra-Nya, berarti kita dipanggil untuk hidup dalm keselarasan yang konsisten dengan kebajikan Sang Pencipta, untuk hidup lebih dekat kepada Allah. Satu-satunya harapan kita untuk pemulihan adalah dengan kembali kepada Pencipta dan Penebus kita. Melalui Yesus, identitas kita dapat diperbarui sehingga kita dapat dipulihkan, dan sekali lagi mendapat kesempatan untuk dengan setia mencerminkan tabiat ilahi.
Sebagai anak-anak Allah, haruskah ada peristiwa dalam hidup kita yang menyebabkan kita malah kehilangan identitas kita di hadapan Allah? Mungkinkah itu karena pernikahan? Allah dengan jelas menjawab bahwa, untuk menghindari konflik serius dalam pernikahan, maka:
“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya (Janganlah kamu berpasangan dengan orang-orang yang tidak percaya) … Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku … maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” 2 Korintus 6:14, 16-18.
Perhatikan pernyataan-pernyataan berikut: “Kita hanyalah manusia, dan satu manusia tidaklah memiliki kekuasaan hukum ataupun kewenangan untuk menghakimi hati nurani manusia lainnya. Setiap kita memiliki kepribadian masing-masing dan identitas pribadi sendiri yang tidak dapat diserahkan kepada manusia lain. Kita masing-masing adalah karya Allah.” –Mind, Character, and Personality, vol. 2, hlm. 708. “Sekarang kita harus bersatu…. Tetapi marilah kita ingat bahwa persatuan Kristen bukan berarti bahwa identitas seseorang harus ditenggelamkan dalam identitas orang lain, juga bukan berarti bahwa pikiran seseorang harus digiring dan dikendalikan oleh pikiran orang lain.” –Mind, Character, and Personality, vol. 2, hlm. 315.
Ketika kita dipanggil masuk ke dalam kehidupan kekal, maka, “dalam tubuh yang dimuliakan, identitas kita akan terpelihara dengan sempurna… Meskipun mereka mungkin sempat mengalami cacat, sakit, ataupun sempat mengalami kerusakan dalam kehidupan fana ini, namun dalam tubuh mereka yang dibangkitkan dan dimuliakan itu, identitas pribadi mereka akan terpelihara dengan sempurna.” –The Faith I Live By, hlm. 180.
2. Identitas Suami dalam Kepemimpinan Rumah Tangga
“Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.” (Efesus 5:23).
Ayat ini menunjukkan bahwa hal mewakili Kristus di rumah adalah mencakup tanggung jawab dan hak istimewa yang besar. Marilah kita terlebih dahulu merenungkan tentang mewakili Kristus di rumah—yang berarti melambangkan keagungan dan martabat Sang Pencipta dalam lingkaran kehidupan keluarga. Merupakan suatu hak istimewa untuk memimpin rumah sebagaimana yang dikehendaki Kristus. Karena itu, “Hendaklah setiap suami yang mengaku mengasihi Allah mempelajari dengan saksama kehendak dan tuntunan Allah dalam kedudukannya. Otoritas Kristus harus dijalankan dengan hikmat, dan dengan segala kebaikan dan kelemah-lembutan; demikianlah hendaknya suami menjalankan kekuasaannya dan meniru teladan Kepala Jemaat yang agung itu.” –The Adventist Home, hlm. 215.
Kedua, semua kepemimpinan membutuhkan komitmen, pengorbanan, dan pelayanan. Menjadi pemimpin keluarga sendiri adalah suatu hak istimewa sekaligus suatu tanggung jawab. Setiap keluarga harus memiliki seorang pemimpin. Setiap rumah tangga perlu dibimbing dengan bijak oleh seorang laki-laki yang takut akan Allah—yakni seseorang yang bukan tiran ataupun berperilaku bengis, melainkan sebagai pelindung dan pembimbing. “Semua anggota keluarga adalah berpusat pada sosok ayah. Dialah pembuat hukum, yang menunjukkan dalam sikapnya yang gagah berani kebajikan-kebajikan yang lebih tegas: energi, integritas, kejujuran, kesabaran, keberanian, ketekunan, dan kegunaan yang praktis dalam kehidupan sehari-hari.” –The Adventist Home, hlm. 212. Sosok ayah dalam keluarga adalah pemimpin yang harus membimbing keluarganya kepada Kristus; ini adalah pelayanan di mana tabiat Juruselamat harus dinyatakan. Sebagaimana Kristus menyatakan Bapa, “Kristus adalah pusat yang agung, dan mereka akan saling mendekati sebanding dengan seberapa dekat mereka berupaya mendekati pusat itu.” –The Desire of Ages, hlm. 296.
Bagaimana hal ini dapat berdampak secara nyata pada kepemimpinan kita? “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Kolose 3:19.
Saat kita berupaya menjadikan diri kita serupa dengan Kristus dalam kepemimpinan yang melayani di rumah, maka hikmat ilahi akan dinyatakan. Dalam interaksi kita dengan anggota keluarga, kita harus berusaha untuk melindungi mereka, dan membimbing mereka dalam kasih karunia, dan membangun mereka di dalam Kristus Yesus. Dalam kata-kata firman yang diilhami berikut ini, kita dapat menemukan daftar sebagaimana berikut: “Demikian juga kamu, hai suami-suami, (1) hiduplah bijaksana dengan isterimu, (2) sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka, (3) sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” (1 Petrus 3:7). “Allah telah menetapkan suami sebagai kepala istri dan sebagai pelindungnya. (4); dia adalah pengikat-rumah (pengikat antara anggota keluarga) dalam keluarga, (5) yang mempersatukan para anggota, sebagaimana Kristus adalah kepala jemaat dan dan adalah Juruselamat bagi tubuh rohani jemaat-Nya.” –The Adventist Home, hlm. 215.
“Ketika Roh Kristus mengendalikan suami, maka ketundukan istri hanya akan menghasilkan ketenangan dan manfaat, karena ia (suami) hanya akan menghendaki darinya (istrinya) hal-hal yang akan menghasilkan kebaikan, sama seperti yang Kristus kehendaki dari ketundukan jemaat-Nya kepada-Nya.” –Christ Triumphant, hlm. 145. Sang suami pun “terikat pada keluarganya oleh ikatan yang suci dan kudus.” –The Adventist Home, hlm. 213.
3. Laki-laki sebagai Imam di Rumah
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang (dengan tekun) kepada anak-anakmu …” (Ulangan 6:6-7).
Seorang ayah hendaknya berperan dalam keluarganya seperti halnya seorang imam di zaman Israel kuno. Di mezbah keluarga, ia hendaknya mempersembahkan kepada Allah, korban doa dan puji-pujian, sementara dalam hatinya ia harus senantiasa berdoa untuk kesejahteraan anak-anaknya.
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Amsal 22:6.
Peran ayah adalah sebagai pemimpin agama, pendidik, dan pemberi nasihat dari hati ke hati. “Suami dan ayah adalah kepala rumah tangga. Istri mengharapkan kasih sayang dan simpati darinya, serta bantuan dalam mendidik anak-anak; dan ini adalah benar adanya. Anak-anak adalah miliknya sekaligus milik istrinya, dan ia sama-sama tertarik pada kesejahteraan mereka. Anak-anak mengharapkan dukungan dan bimbingan dari ayah mereka; ia perlu memiliki pemahaman yang benar tentang kehidupan dan pengaruh serta pergaulan yang seharusnya mengelilingi keluarganya; di atas segalanya, ia harus dikendalikan oleh kasih dan takut akan Allah dan oleh ajaran firman-Nya, agar ia dapat membimbing langkah anak-anaknya di jalan yang benar.” –The Ministry of Healing, hlm. 390.
Sebagai seorang ayah, yang bertindak sebagai imam di rumahnya, hendaknya ia senantiasa mendekati Allah dengan iman dan pelayanan yang sungguh, mengajarkan anak-anaknya bagaimana takut akan Allah dan memberi teladan kesalehan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Di rumahnya sendiri, ayah hendaknya mewakili tabiat Allah. Ia hendaknya mengajak keluarganya untuk bersatu dengannya dalam ibadah pagi dan petang, agar semua dapat belajar mengasihi dan takut akan Allah.
“Sang ayah hendaknya berperan dalam menciptakan kebahagiaan di rumah. Apa pun kekhawatiran dan kerumitan tugasnya sehari-hari, jangan sampai hal itu menutupi kebahagiaan keluarganya; ia harus selalu masuk ke dalam rumah dengan senyuman dan kata-kata yang menyenangkan.” –The Ministry of Healing, hlm. 392.
4. Identitas Laki-Laki sebagai Suami dan Ayah
“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” (Efesus 5:25). Suami harus ingat bahwa ia adalah wakil Kristus di rumahnya. Ia harus menunjukkan kasih, kesabaran, perhatian, dan kesopanan sebagaimana yang ditunjukkan Kristus kepada jemaat. Kasih harus menjadi prinsip yang mengatur suami dalam segala tindakannya. Ia harus menunjukkan melalui perkataan dan perbuatannya bahwa ia menghargai dan menghormati istrinya. “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah, hormatilah mereka…” (1 Petrus 3:7). “Sebuah rumah yang dipenuhi cinta kasih, di mana kasih itu dinyatakan dalam kata-kata, tatapan mata, dan perbuatan, adalah tempat di mana para malaikat senang mewujudkan kehadiran mereka dan menyucikan tempat itu dengan pancaran terang cahaya dari kemuliaan.” –The Adventist Home, hlm. 109.
Jelaslah bahwa ada kebutuhan untuk menggunakan pengaruh sebagai suami dan ayah dalam takut akan Allah. Ia adalah pembimbing kerohanian rumah dan tidak boleh sama-sekali mempraktikkan roh yang tirani (bengis/kejam). Jelas pula bahwa otoritas suami dan ayah haruslah dihormati—“dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Efesus 5:33). Suami adalah kepala keluarga, dan istri harus mengakui wewenang suaminya; tetapi wewenang ini tidak boleh digunakan (suami) untuk mempermalukannya (istrinya), melainkan untuk melindungi dan mengasihinya, sama seperti Kristus adalah kepala jemaat dan telah memberikan nyawa-Nya untuk jemaat-Nya. “Suami adalah kepala keluarga, seperti Kristus adalah kepala jemaat, dan setiap tindakan yang dilakukan istri yang akan mengurangi pengaruhnya (suami) dan merendahkan kedudukannya yang bermartabat dan bertanggung jawab adalah tidak menyenangkan Allah.” –Testimonies for the Church, vol. 1, hlm. 307. “Suami hendaknya mempertahankan posisinya dalam keluarga dengan penuh kerendahan hati, namun tetap dengan ketegasan.” –Testimonies for the Church, vol. 1, hlm. 307.
“Setiap suami dan ayah telah dipanggil untuk mencerminkan tabiat Allah. Menjadi seorang laki-laki—ataupun suami—yang berkenan di hati Allah adalah komitmen sehari-hari: yakni untuk dapat memimpin tanpa mementingkan diri sendiri, membimbing secara rohani dengan kasih, dan menghormati keluarga sebagai harta Allah. Suami dan ayah adalah orang yang hendaknya mewakili Allah dalam keluarga, dan yang mempersembahkan hati yang menyesal akan dosa dan doa yang sungguh-sungguh kepada Allah. “Iman kita harus ditingkatkan, dan kita harus menjadi semakin menyerupai Kristus dalam perilaku dan watak kita, agar kita dapat bertahan, dan berhasil, dalam menolak godaan-godaan Setan.” –Testimonies for the Church, vol. 1, hlm. 307.
Kesimpulan
Identitas seorang ayah dan suami yang dikenan di hati Allah bukanlah dinilai dari kekuasaan atau dominasi, tetapi oleh pantulan tabiat ilahi dalam hidupnya—sebagai pemimpin yang melindungi, imam yang rohani, dan suami yang penuh kasih. Dengan meneladani citra Allah yang tersirat dalam perilakunya dalam menjalankan tanggung jawab, pelayanan, dan kasih yang seperti Kristus. Ketika suami menjalankan kepemimpinan ini sesuai dengan teladan ilahi, maka rumah tangganya akan menjadi bagai surga kecil di bumi.
Saudara-saudari yang terkasih, kita sungguh membutuhkan Allah di rumah kita agar kita dapat menikmati keluarga di mana kita semua mencerminkan citra Allah dalam identitas keluarga.
“Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:24).
Kiranya Tuhan memberkati keluarga kita. Amin!
***