Renungan Pagi 9 September 2024

Ayat Bacaan 2 TAWARIKH 30

Selama bertahun-tahun Paskah tidak dirayakan sebagai perayaan nasional. Pembagian kerajaan setelah berakhirnya pemerintahan Salomo membuat hal ini tampak mustahil. Namun, penghakiman yang mengerikan yang menimpa sepuluh suku membangkitkan dalam hati sebagian orang keinginan untuk hal-hal yang lebih baik, dan pesan-pesan yang menggugah dari para nabi mulai memberikan pengaruh. Undangan untuk merayakan Paskah di Yerusalem diumumkan di mana-mana… dan para utusan kerajaan menemukan beberapa orang yang siap untuk menanggapi. Para pesuruh yakni pembawa undangan yang ramah itu biasanya merasa sedih. Orang-orang yang tidak bertobat “menertawakan dan mengolok-olok mereka. Namun, beberapa orang dari Asyer, Manasye dan Zebulon,” yang ingin mencari Allah untuk mengetahui kehendak-Nya dengan lebih jelas, “merendahkan diri dan datang ke Yerusalem.” 2 Tawarikh 30:10, 11. Di Yehuda, tanggapannya sangat menyeluruh; karena atas mereka ada “tangan Allah,” “yang membulatkan hati mereka untuk melakukan perintah raja dan para pemimpin” (ayat 12),—perintah yang sesuai dengan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan melalui para nabi-Nya.
Peristiwa itu merupakan salah satu keuntungan terbesar bagi orang banyak yang berkumpul. Jalan-jalan kota yang dinodai dibersihkan dari kuil-kuil penyembahan berhala yang ditempatkan di sana selama pemerintahan Ahab. Pada hari yang ditentukan, Paskah dirayakan; dan minggu itu dihabiskan oleh orang-orang untuk mempersembahkan persembahan perdamaian, dan untuk mempelajari apa yang Allah ingin mereka lakukan. Setiap hari orang Lewi “mengajarkan pengetahuan yang baik tentang Tuhan;” dan mereka yang telah mempersiapkan hati mereka untuk mencari Allah, menemukan pengampunan. Sukacita yang besar menguasai orang banyak yang beribadah; “orang Lewi dan para imam setiap hari menyanyikan puji-pujian bagi Tuhan dengan segenap tenaga (bernyanyi dengan alat musik yang nyaring)” (ayat 22, 21); semua bersatu dalam kerinduan mereka untuk memuji Dia yang telah terbukti begitu murah hati dan penuh belas kasihan. Tujuh hari yang biasanya diberikan untuk perayaan Paskah berlalu begitu cepat, dan para penyembah memutuskan untuk menghabiskan tujuh hari lagi untuk mempelajari jalan Tuhan lebih dalam. Para imam pengajar melanjutkan pekerjaan mereka untuk memberikan pengajaran dari kitab hukum; setiap hari orang-orang berkumpul di bait suci untuk mempersembahkan pujian dan ucapan syukur; dan ketika pertemuan besar itu berakhir, jelaslah bahwa Allah telah bekerja dengan luar biasa dalam pertobatan orang-orang Yehuda yang murtad, dan dalam membendung gelombang penyembahan berhala yang mengancam untuk menyapu semua orang di hadapannya. Peringatan serius dari para nabi tidak diucapkan dengan sia-sia. “Maka besarlah kesukaan di Yerusalem; karena sejak Salomo bin Daud, raja Israel, tidak pernah terjadi peristiwa semacam itu di Yerusalem.” Ayat 26.
Waktunya telah tiba bagi para penyembah untuk kembali ke rumah mereka. “para imam Lewi bangun berdiri dan memberkati umat itu; suara mereka didengar Tuhan, dan doa mereka sampai ke tempat kediaman-Nya yang kudus di surga.” Ayat 27. Allah telah menerima mereka yang dengan hati hancur telah mengakui dosa-dosa mereka, dan dengan tujuan yang teguh telah berpaling kepada-Nya untuk memohon pengampunan dan pertolongan.
RH 29 April 1915, par. 2-6.

2 TAWARIKH 30

Hizkia merayakan Paskah

(1) Kemudian Hizkia mengirim pesan kepada seluruh Israel dan Yehuda, bahkan menulis surat kepada Efraim dan Manasye supaya mereka datang merayakan Paskah bagi TUHAN, Allah orang Israel, di rumah TUHAN di Yerusalem. (2) Raja bersama-sama para pemimpin dan seluruh jemaah di Yerusalem merancangkan untuk merayakan Paskah pada bulan kedua, (3) karena mereka tidak dapat merayakannya pada waktunya, sebab para imam belum menguduskan diri dalam jumlah yang cukup dan rakyat belum terkumpul di Yerusalem. (4)Rancangan itu diterima baik oleh raja dan seluruh jemaah. (5) Mereka memutuskan untuk menyiarkan maklumat di seluruh Israel, dari Bersyeba sampai Dan, supaya masing-masing datang ke Yerusalem merayakan Paskah bagi TUHAN, Allah Israel, karena mereka belum merayakannya secara umum seperti yang ada tertulis. (6) Maka berangkatlah pesuruh-pesuruh cepat ke seluruh Israel dan Yehuda membawa surat dari raja dan para pemimpin, dan mengatakan sesuai dengan perintah raja: “Hai, orang Israel, kembalilah kepada TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, maka Ia akan kembali kepada yang tertinggal dari pada kamu, yakni mereka yang terluput dari tangan raja-raja Asyur.(7) Janganlah berlaku seperti nenek moyangmu dan saudara-saudaramu yang berubah setia terhadap TUHAN, Allah nenek moyang mereka, sehingga Ia membuat mereka menjadi kedahsyatan seperti yang kamu lihat sendiri. (8) Sekarang, janganlah tegar tengkuk seperti nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada TUHAN dan datanglah ke tempat kudus yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya, serta beribadahlah kepada TUHAN, Allahmu, supaya murka-Nya yang menyala-nyala undur dari padamu. (9) Karena bilamana kamu kembali kepada TUHAN, maka saudara-saudaramu dan anak-anakmu akan mendapat belas kasihan dari orang-orang yang menawan mereka, sehingga mereka kembali ke negeri ini. Sebab TUHAN, Allahmu, pengasih dan penyayang: Ia tidak akan memalingkan wajah-Nya dari pada kamu, bilamana kamu kembali kepada-Nya!” (10) Ketika pesuruh-pesuruh cepat itu pergi dari kota ke kota, melintasi tanah Efraim dan Manasye sampai ke Zebulon, mereka ditertawakan dan diolok-olok. (11) Namun beberapa orang dari Asyer, Manasye dan Zebulon merendahkan diri, dan datang ke Yerusalem. (12) Di Yehuda nyata pula tangan Allah yang membulatkan hati mereka untuk melakukan perintah raja dan para pemimpin sesuai dengan firman TUHAN. (13) Maka berkumpullah di Yerusalem banyak orang, suatu jemaah yang sangat besar, untuk merayakan hari raya Roti Tidak Beragi pada bulan yang kedua. (14)Lalu bangunlah mereka menjauhkan mezbah-mezbah yang ada di Yerusalem; juga semua mezbah korban ukupan disingkirkan dan dibuang ke lembah Kidron. (15) Kemudian disembelihlah domba Paskah pada tanggal empat belas bulan kedua. Maka para imam dan orang-orang Lewi merasa malu, lalu menguduskan dirinya dan membawa korban bakaran ke rumah TUHAN. (16) Mereka berdiri pada tempatnya menurut peraturan yang berlaku bagi mereka masing-masing, sesuai dengan Taurat Musa, abdi Allah itu; para imam menyiramkan darah yang diterimanya dari orang-orang Lewi.(17) Sebab ada banyak di antara jemaah yang tidak menguduskan dirinya, sehingga menjadi tugas orang Lewi untuk menyembelih domba-domba Paskah bagi setiap orang yang tidak dapat menguduskannya bagi TUHAN karena ia tidak tahir. (18) Sebab sebagian besar dari rakyat terutama dari Efraim, Manasye, Isakhar dan Zebulon tidak mentahirkan diri. Namun mereka memakan Paskah, walaupun tidak sesuai dengan apa yang ada tertulis. Tetapi Hizkia berdoa untuk mereka, katanya: “TUHAN, yang baik itu, kiranya mengadakan pendamaian bagi semua orang, (19) yang sungguh-sungguh berhasrat mencari Allah, yakni TUHAN, Allah nenek moyangnya, walaupun ketahiran mereka tidak sesuai dengan tempat kudus.” (20) TUHAN mendengar Hizkia dan membiarkan bangsa itu selamat. (21) Tujuh hari lamanya orang Israel yang berada di Yerusalem merayakan hari raya Roti Tidak Beragi dengan kesukaan yang besar, sedang orang-orang Lewi dan para imam setiap hari menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN dengan sekuat tenaga. (22)Hizkia mengucapkan kata-kata pujian kepada semua orang Lewi yang menunjukkan akal budi yang baik dalam melayani TUHAN. Demikianlah orang memakan makanan perayaan selama tujuh hari, sambil mempersembahkan korban keselamatan dan mengucapkan syukur kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. (23) Kemudian seluruh jemaah sepakat untuk berhari raya tujuh hari lagi. Lalu mereka berhari raya tujuh hari lagi dengan sukaria.(24) Sebab Hizkia, raja Yehuda, telah menyumbangkan kepada jemaah seribu ekor lembu jantan dan tujuh ribu kambing domba. Juga para pemimpin menyumbangkan kepada jemaah seribu ekor lembu jantan dan sepuluh ribu ekor kambing domba. Dan sebagian besar para imam telah menguduskan diri. (25)Seluruh jemaah Yehuda bersukaria, juga para imam dan orang-orang Lewi, dan seluruh jemaah yang datang dari Israel, serta orang-orang asing, baik yang datang dari tanah Israel, maupun yang tinggal di Yehuda. (26) Maka besarlah kesukaan di Yerusalem, karena sejak Salomo bin Daud, raja Israel, tidak pernah terjadi peristiwa semacam itu di Yerusalem. (27)Sesudah itu para imam Lewi bangun berdiri dan memberkati rakyat. Suara mereka didengar TUHAN dan doa mereka sampai ke tempat kediaman-Nya yang kudus di sorga.

(For many years the Passover had not been observed as a national festival. The division of the kingdom after the close of Solomon’s reign had made this seem impracticable. But the terrible judgments befalling the ten tribes were awakening in the hearts of some a desire for better things, and the stirring messages of the prophets were having their effect. The invitation to the Passover at Jerusalem was heralded far and wide… and the royal couriers found some who were ready to respond. The bearers of the gracious invitation were usually repulsed. The impenitent “laughed them to scorn, and mocked them. Nevertheless divers of Asher and Manasseh and of Zebulun,” eager to seek God for a clearer knowledge of his will, “humbled themselves, and came to Jerusalem.” 2 Chronicles 30:10, 11.
In the land of Judah the response was very general; for upon them was “the hand of God,” “to give them one heart to do the commandment of the king and of the princes” (verse 12),—a command in accord with the will of God as revealed through his prophets.
The occasion was one of the greatest profit to the multitudes assembled. The desecrated streets of the city were cleared of the idolatrous shrines placed there during the reign of Ahab. On the appointed day the Passover was observed; and the week was spent by the people in offering peace offerings, and in learning what God would have them do. Daily the Levites “taught the good knowledge of the Lord;” and those who had prepared their hearts to seek God, found pardon. A great gladness took possession of the worshiping multitude; “the Levites and the priests praised the Lord day by day, singing with loud instruments” (verses 22, 21); all were united in their desire to praise him who had proved so gracious and merciful.
The seven days usually allotted to the Passover feast passed all too quickly, and the worshipers determined to spend another seven days in learning more fully the way of the Lord. The teaching priests continued their work of instruction from the book of the law; daily the people assembled at the temple to offer their tribute of praise and thanksgiving; and as the great meeting drew to a close, it was evident that God had wrought marvelously in the conversion of backsliding Judah, and in stemming the tide of idolatry which threatened to sweep all before it. The solemn warnings of the prophets had not been uttered in vain. “There was great joy in Jerusalem: for since the time of Solomon the son of David king of Israel there was not the like in Jerusalem.” Verse 26.
The time had come for the return of the worshipers to their homes. “The priests the Levites arose and blessed the people: and their voice was heard, and their prayer came up to his holy dwelling place, even unto heaven.” Verse 27. God had accepted those who with broken hearts had confessed their sins, and with resolute purpose had turned to him for forgiveness and help. (RH April 29, 1915, par. 2-6).

Leave a comment