Renungan Petang 9 September 2024

Ayat Bacaan 2 TAWARIKH 31, 32

Sekarang tinggal satu pekerjaan penting yang harus dilakukan oleh mereka yang kembali ke rumah mereka, dan penyelesaian pekerjaan ini menjadi bukti kesungguhan pekerjaan pembaharuan yang dilakukan….
Hizkia dan rekan-rekannyamengadakan pembaharuan dalam berbagai aspek untuk membangun kepentingan rohani dan jasmani kerajaan….
Pemerintahan Hizkia ditandai oleh serangkaian pemeliharaan luar biasa yang menyingkapkan kepada bangsa-bangsa di sekitarnya bahwa Allah Israel menyertai umat-Nya. Keberhasilan bangsa Asyur dalam merebut Samaria dan dalam menyebarkan sisa-sisa sepuluh suku yang hancur di antara bangsa-bangsa, selama bagian awal pemerintahannya, membuat banyak orang mempertanyakan kuasa Allah orang Ibrani. Didorong oleh keberhasilan mereka, orang Niniwe telah lama mengesampingkan pesan Yunus dan menjadi penentang dalam pertentangan mereka terhadap tujuan-tujuan Surga. Beberapa tahun setelah jatuhnya Samaria, pasukan yang menang muncul kembali di Palestina, kali ini mengarahkan pasukan mereka melawan kota-kota Yehuda yang dipagari, dengan beberapa keberhasilan; tetapi mereka mengundurkan diri untuk sementara waktu karena kesulitan yang timbul di bagian lain wilayah kekuasaan mereka. Beberapa tahun kemudian, menjelang akhir pemerintahan Hizkia, barulah ditunjukkan kepada bangsa-bangsa di dunia apakah dewa-dewa orang kafir akhirnya akan atau tidak….
Di tengah-tengah pemerintahannya yang makmur, Raja Hizkia tiba-tiba terserang penyakit yang mematikan….
Sejak zaman Daud, tidak ada raja yang memerintah yang telah bekerja sekuat tenaga untuk membangun kerajaan Allah di masa kemurtadan dan keputusasaan seperti Hizkia. Penguasa yang sedang sekarat itu telah melayani Allahnya dengan setia, dan telah memperkuat kepercayaan rakyat kepada Yehuwa sebagai Penguasa Tertinggi mereka….dia pun memohon kesembuhan dalam doa….
Setelah pulih dari kekuatannya yang biasa, raja Yehuda mengakui dalam kata-kata nyanyian tentang belas kasihan Yehova, dan bersumpah untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam pelayanan yang rela kepada Raja segala raja. Pengakuannya yang penuh rasa syukur atas perlakuan penuh belas kasihan Allah kepadanya merupakan inspirasi bagi semua orang yang berkerinduan untuk menghabiskan tahun-tahun mereka untuk kemuliaan Sang Pencipta….
Namun, kesombongan dan kesia-siaan kemudian menguasai hati Hizkia, dan dalam meninggikan diri, ia memperlihatkan kepada mata yang tamak harta yang dengannya Allah telah memperkaya umat-Nya…..
Seandainya Hizkia memanfaatkan kesempatan yang diberikan kepadanya untuk menjadi saksi atas kuasa, kebaikan, dan belas kasihan Allah Israel, maka laporan para duta besar itu akan menjadi seperti terang yang menembus kegelapan. Namun, ia malah meninggikan dirinya di atas Tuhan semesta alam…
Kisah kegagalan Hizkia untuk membuktikan kesetiaannya pada saat kunjungan para duta besar itu sarat dengan pelajaran penting bagi semua orang. Jauh lebih dari yang kita lakukan, kita perlu berbicara tentang bagian-bagian yang berharga dalam pengalaman kita, tentang belas kasihan dan kasih sayang Allah, tentang kedalaman kasih Juruselamat yang tiada tandingannya….
(PK 338-348).

2 TAWARIKH 31

(1) Setelah semuanya ini diakhiri, seluruh orang Israel yang hadir pergi ke kota-kota di Yehuda, lalu meremukkan segala tugu berhala, menghancurkan segala tiang berhala, dan merobohkan segala bukit pengorbanan dan mezbah di seluruh Yehuda dan Benyamin, juga di Efraim dan Manasye, sampai musnah semuanya. Kemudian pulanglah seluruh orang Israel ke kota-kotanya, ke miliknya masing-masing.

Hizkia mengatur sumbangan untuk para imam dan orang Lewi

(2) Hizkia menetapkan rombongan para imam dan orang-orang Lewi, rombongan demi rombongan, masing-masing menurut tugas jabatannya sebagai imam atau sebagai orang Lewi, untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, untuk mengucap syukur dan menyanyikan puji-pujian dan untuk melayani di pintu-pintu gerbang di tempat perkemahan TUHAN. (3)Raja memberi sumbangan dari harta miliknya untuk korban bakaran, yakni: korban bakaran pada waktu pagi dan pada waktu petang, korban bakaran pada hari-hari Sabat dan pada bulan-bulan baru dan pada hari-hari raya, yang semuanya tertulis di dalam Taurat TUHAN. (4) Ia memerintahkan rakyat, yakni penduduk Yerusalem, untuk memberikan sumbangan yang menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi, supaya mereka dapat mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat TUHAN. (5) Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar. (6) Orang Israel dan orang Yehuda yang tinggal di kota-kota Yehuda juga membawa persembahan persepuluhan yang terdiri dari lembu sapi dan kambing domba, dan persembahan persepuluhan yang terdiri dari persembahan kudus yang telah dikuduskan bagi TUHAN Allah mereka. Semuanya itu diletakkan mereka bertimbun-timbun. (7) Mereka mulai membuat timbunan itu pada bulan yang ketiga, dan mereka selesai pada bulan yang ketujuh. (8) Hizkia dan para pemimpin datang melihat timbunan itu, dan mereka memuji TUHAN dan umat-Nya, orang Israel. (9) Hizkia menanyakan para imam dan orang-orang Lewi tentang timbunan itu, (10) dan dijawab oleh Azarya, imam kepala keturunan Zadok demikian: “Sejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah TUHAN, kami telah makan sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab TUHAN telah memberkati umat-Nya, sehingga tinggal sisa yang banyak ini.” (11) Kemudian Hizkia menyuruh menyediakan bilik-bilik di rumah TUHAN dan mereka menyediakannya. (12) Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus itu ke sana. Konanya, seorang Lewi, mengawasi semuanya, dan Simei, saudaranya, adalah orang kedua,(13) sedang Yehiel, Azazya, Nahat, Asael, Yerimot, Yozabad, Eliel, Yismakhya, Mahat dan Benanya adalah penilik di bawah Konanya dan Simei, saudaranya itu, sesuai dengan petunjuk raja Hizkia dan Azarya, kepala rumah Allah. (14)Dan Kore bin Yimna, seorang Lewi, penunggu pintu gerbang di sebelah timur, mengawasi pemberian-pemberian sukarela untuk Allah, serta membagi-bagikan persembahan khusus yang untuk TUHAN dan persembahan-persembahan maha kudus. (15) Di kota-kota imam ia dibantu dengan setia oleh Eden, Minyamin, Yesua, Semaya, Amarya dan Sekhanya dalam pembagian itu kepada saudara-saudara mereka menurut rombongan, kepada orang dewasa dan anak-anak, (16) kecuali kepada setiap orang yang masuk ke rumah TUHAN, menurut hari-hari yang ditetapkan, menurut tugas jabatan yang ditugaskan kepadanya, dan menurut rombongannya, yakni mereka yang tercatat dalam daftar sebagai laki-laki yang berumur tiga tahun ke atas. (17) Para imam dicatat dalam daftar menurut puak-puak mereka, sedang orang-orang Lewi yang berumur dua puluh tahun ke atas dicatat menurut tugas dan rombongan mereka. (18) Para imam terdaftar dengan seluruh keluarga mereka, yakni isteri, anak laki-laki dan perempuan, seluruh kaum itu, karena dengan setia mereka menguduskan diri untuk persembahan kudus. (19) Bagi keturunan Harun, yakni imam-imam, yang tinggal di padang-padang penggembalaan sekitar kota-kota mereka, di setiap kota ada orang-orang yang ditunjuk dengan disebut namanya, untuk mengadakan pembagian kepada setiap orang laki-laki dari keluarga imam dan kepada setiap orang Lewi yang terdaftar. (20)Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya. (21) Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.

2 TAWARIKH 32

Yerusalem dikepung oleh Sanherib

(1) Setelah peristiwa yang menunjukkan kesetiaan Hizkia itu datanglah Sanherib, raja Asyur, menyerbu Yehuda. Ia mengepung kota-kota berkubu, dan berniat merebutnya. (2) Ketika Hizkia mengetahui, bahwa Sanherib datang hendak memerangi Yerusalem, (3) ia berunding dengan para panglima dan pahlawannya untuk menutup segala mata air yang terdapat di luar kota dan mereka itu bersedia membantunya.(4) Maka berkumpullah banyak orang. Mereka menutup semua mata air dan sungai yang mengalir dari tengah-tengah negeri itu. Kata mereka: “Mengapa raja-raja Asyur harus mendapat banyak air, kalau mereka datang?” (5) Dengan sekuat tenaga Hizkia membangun kembali seluruh tembok yang telah terbongkar, mendirikan menara-menara di atasnya dan tembok yang lain di luarnya. Ia memperkuat juga Milo di kota Daud dan membuat lembing dan perisai dalam jumlah yang besar. (6)Ia mengangkat panglima-panglima perang yang mengepalai rakyat, menyuruh mereka berkumpul kepadanya di halaman pintu gerbang kota dan menenangkan hati mereka dengan kata-kata: (7)“Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. (8) Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu, rakyat mendapat kepercayaannya kembali. (9) Sesudah itu Sanherib, raja Asyur, yang sedang mengepung Lakhis dengan seluruh kekuatan tentaranya, mengutus beberapa pegawai ke Yerusalem, kepada Hizkia, raja Yehuda, dan kepada semua orang Yehuda yang ada di Yerusalem, dengan pesan:(10) “Beginilah titah Sanherib, raja Asyur: Apakah yang kamu harapkan, maka kamu tinggal saja di Yerusalem yang terkepung ini?(11) Bukankah Hizkia memperdayakan kamu, supaya kamu mati kelaparan dan kehausan, dengan mengatakan: TUHAN, Allah kita, akan melepaskan kita dari tangan raja Asyur? (12) Bukankah Hizkia ini yang menjauhkan segala bukit pengorbanan dan mezbah TUHAN itu, dan berkata kepada Yehuda dan Yerusalem: Hanya di depan satu mezbah kamu harus sujud menyembah dan membakar korban di atasnya? (13) Tidakkah kamu ketahui apa yang aku dan nenek moyangku lakukan terhadap semua bangsa negeri-negeri lain? Apakah para allah bangsa-bangsa segala negeri itu pernah berhasil melepaskan negeri mereka dari tanganku? (14) Siapa dari pada semua allah bangsa-bangsa yang sudah ditumpas nenek moyangku itu dapat melepaskan bangsanya dari tanganku? Masakan Allahmu dapat melepaskan kamu dari tanganku? (15) Sekarang, janganlah Hizkia memperdayakan dan membujuk kamu seperti ini! Janganlah percaya kepadanya, karena tidak ada allah dari bangsa atau kerajaan manapun yang dapat melepaskan bangsanya dari tanganku dan dari tangan nenek moyangku, lebih-lebih lagi Allahmu itu takkan dapat melepaskan kamu dari tanganku!”(16) Dan masih banyak lagi yang diucapkan pegawai-pegawai Sanherib itu menentang TUHAN Allah dan menentang Hizkia, hamba-Nya. (17) Ia menulis juga surat yang penuh cela dan hujat terhadap TUHAN, Allah Israel, bunyinya: “Sebagaimana para allah bangsa-bangsa segala negeri lain tidak dapat melepaskan bangsanya dari tanganku, demikian pula Allah Hizkia takkan dapat melepaskan bangsa-Nya dari tanganku.” (18)Dan mereka berseru dengan suara nyaring dalam bahasa Yehuda kepada rakyat Yerusalem yang ada di atas tembok, untuk menakutkan dan mengejutkan mereka, supaya mereka dapat merebut kota itu. (19)Mereka berbicara tentang Allah Yerusalem seperti tentang para allah bangsa-bangsa di dunia, adalah buatan tangan manusia.

Yerusalem luput dari tangan Sanherib

(20) Tetapi oleh karena itu raja Hizkia dan nabi Yesaya bin Amos berdoa dan berseru kepada sorga.(21) Lalu TUHAN mengirim malaikat yang melenyapkan semua pahlawan yang gagah perkasa, pemuka dan panglima yang ada di perkemahan raja Asyur, sehingga ia kemalu-maluan kembali ke negerinya. Kemudian ia ditewaskan dengan pedang oleh anak-anak kandungnya sendiri ketika ia memasuki rumah allahnya. (22)Demikianlah TUHAN menyelamatkan Hizkia dan penduduk Yerusalem dari tangan Sanherib, raja Asyur, dan dari tangan semua musuhnya. Dan Ia mengaruniakan keamanan kepada mereka di segala penjuru. (23)Banyak orang membawa persembahan ke Yerusalem untuk TUHAN dan barang-barang berharga untuk Hizkia, raja Yehuda itu. Sejak itu ia diagungkan oleh semua bangsa.

Tahun-tahun terakhir dari pemerintahan Hizkia

(24) Pada hari-hari itu Hizkia jatuh sakit, sehingga hampir mati. Ia berdoa kepada TUHAN, dan TUHAN berfirman kepadanya dan memberikannya suatu tanda ajaib.(25) Tetapi Hizkia tidak berterima kasih atas kebaikan yang ditunjukkan kepadanya, karena ia menjadi angkuh, sehingga ia dan Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka. (26) Tetapi ia sadar akan keangkuhannya itu dan merendahkan diri bersama-sama dengan penduduk Yerusalem, sehingga murka TUHAN tidak menimpa mereka pada zaman Hizkia. (27) Hizkia mendapat kekayaan dan kemuliaan yang sangat besar. Ia membuat perbendaharaan-perbendaharaan untuk emas, perak, batu permata yang mahal-mahal, rempah-rempah, perisai-perisai dan segala macam barang yang indah-indah,(28) juga tempat perbekalan untuk hasil gandum, untuk anggur dan minyak, dan kandang-kandang untuk berbagai jenis hewan besar dan kandang-kandang untuk kawanan kambing domba. (29) Ia mendirikan kota-kota, memperoleh banyak kambing domba dan lembu sapi, karena Allah mengaruniakan dia harta milik yang amat besar.(30) Hizkia ini juga telah membendung aliran Gihon di sebelah hulu, dan menyalurkannya ke hilir, ke sebelah barat, ke kota Daud. Hizkia berhasil dalam segala usahanya. (31) Demikianlah juga ketika utusan-utusan raja-raja Babel datang kepadanya untuk menanyakan tentang tanda ajaib yang telah terjadi di negeri, ketika itu Allah meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi hatinya. (32) Selebihnya dari riwayat Hizkia dan perbuatan-perbuatannya yang setia, sesungguhnya semuanya itu tertulis dalam penglihatan nabi Yesaya bin Amos, dalam kitab raja-raja Yehuda dan Israel. (33)Kemudian Hizkia mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan dikuburkan di pendakian ke pekuburan anak-anak Daud. Pada waktu kematiannya seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem memberi penghormatan kepadanya. Maka Manasye, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.

(There now remained an important work in which those who were returning to their homes must take an active part, and the accomplishment of this work bore evidence to the genuineness of the reformation wrought….
Hezekiah and his associates instituted various reforms for the upbuilding of the spiritual and temporal interests of the kingdom….
The reign of Hezekiah was characterized by a series of remarkable providences which revealed to the surrounding nations that the God of Israel was with His people. The success of the Assyrians in capturing Samaria and in scattering the shattered remnant of the ten tribes among the nations, during the earlier portion of his reign, was leading many to question the power of the God of the Hebrews. Emboldened by their successes, the Ninevites had long since set aside the message of Jonah and had become defiant in their opposition to the purposes of Heaven. A few years after the fall of Samaria the victorious armies reappeared in Palestine, this time directing their forces against the fenced cities of Judah, with some measure of success; but they withdrew for a season because of difficulties arising in other portions of their realm. Not until some years later, toward the close of Hezekiah’s reign, was it to be demonstrated before the nations of the world whether the gods of the heathen were finally to prevail….
In the midst of his prosperous reign King Hezekiah was suddenly stricken with a fatal malady….
Since the days of David there had reigned no king who had wrought so mightily for the upbuilding of the kingdom of God in a time of apostasy and discouragement as had Hezekiah. The dying ruler had served his God faithfully, and had strengthened the confidence of the people in Jehovah as their Supreme Ruler…and he could now plead….
Restored to his wonted strength, the king of Judah acknowledged in words of song the mercies of Jehovah, and vowed to spend his remaining days in willing service to the King of kings. His grateful recognition of God’s compassionate dealing with him is an inspiration to all who desire to spend their years to the glory of their Maker….
But pride and vanity took possession of Hezekiah’s heart, and in self-exaltation he laid open to covetous eyes the treasures with which God had enriched His people…..
Had Hezekiah improved the opportunity given him to bear witness to the power, the goodness, the compassion, of the God of Israel, the report of the ambassadors would have been as light piercing darkness. But he magnified himself above the Lord of hosts…
The story of Hezekiah’s failure to prove true to his trust at the time of the visit of the ambassadors is fraught with an important lesson for all. Far more than we do, we need to speak of the precious chapters in our experience, of the mercy and loving-kindness of God, of the matchless depths of the Saviour’s love. (PK 338-348).