“Ketika Segala Sesuatu Tampak Menyakitkan”

BACAAN KELUARGA 2025 (Edisi Anak-Anak)

Sekalipun Ia membunuhku, aku akan tetap percaya kepada-Nya, tetapi aku akan tetap hidup menurut jalanku di hadapan-Nya.” Ayub 13:15 KJV.

Kusta yang Terberkati!

Edwina adalah seorang gadis muda yang cantik dari keluarga kaya. Suatu hari, ia melihat beberapa bintik pucat di kulitnya. Seiring berjalannya waktu, bintik-bintik itu semakin terlihat. Akhirnya, Edwina menjadi khawatir dan pergi ke dokter untuk mendapatkan jawaban, tetapi ternyata ia menderita kusta!

Segera, Edwina dikirim ke rumah sakit kusta. (Rumah sakit kusta adalah tempat di mana penderita kusta dapat tinggal jauh dari orang lain sehingga penyakit tersebut tidak menyebar ke orang lain.) Di sana, terpisah dari rumah dan keluarganya, Edwina merasa sengsara. Ia memandangi kulitnya yang dulu bersih dengan jijik. Betapa jelek penampilannya sekarang! Edwina merasa benar-benar sendirian dan tidak berpikir ada orang yang dapat memahami apa yang sedang dialaminya.

Namun, seiring berjalannya waktu, Edwina mulai mengalihkan perhatiannya dari masalahnya sendiri dan mulai memperhatikan orang lain di rumah sakit kusta. Beberapa orang di sana tampak lebih parah daripada dirinya. Melihat kondisi mereka, hatinya dipenuhi belas kasih, dan ia melakukan apa pun yang ia bisa untuk membantu mereka merasa lebih baik. Ia dapat melihat bahwa banyak orang di sekitarnya membutuhkan lebih banyak bantuan daripada dirinya. Hari demi hari, ia dengan baik hati merawat luka-luka mereka dan menuliskan surat untuk mereka kepada keluarga mereka.

Setahun kemudian, dengan bantuan metode pengobatan baru untuk kusta, Edwina pun sembuh. Ia meninggalkan rumah sakit kusta dengan pandangan hidup yang baru. Ia tidak lagi tertarik pada masyarakat kelas atas tempat ia dulu tinggal, ia juga tidak ingin lagi melakukan sesuatu hanya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia memutuskan untuk menjalani sisa hidupnya dengan melayani mereka yang membutuhkan. Dengan membuat orang lain bahagia, ia menemukan kebahagiaan sejati untuk dirinya sendiri.

Ia yang tidak hidup untuk melayani, tidak layak untuk hidup.”

Kisah Edwina mengingatkan saya pada sesuatu petuah yang biasa dikatakan seorang perempuan tua, “Ia yang tidak hidup untuk melayani, tidak layak untuk hidup.” Perempuan tua yang malang ini adalah ibu sekaligus ayah bagi banyak anak tunawisma dan membantu meringankan penderitaan mereka yang sakit. Yang mengejutkan adalah ia bersedia membantu banyak orang meskipun ia juga menderita masalah kesehatan dan kesulitan keuangan. Dalam keinginannya untuk melihat wajah-wajah sedih kembali bahagia, ia mengesampingkan masalahnya sendiri. Maka dari itu saya bertanya, pernahkah kalian memikirkan banyaknya pengalaman sulit yang harus dilalui oleh para orang tua kita selama hidup mereka? Mengapa para kerabat kita yang lebih tua duduk di acara kumpul keluarga dan memperhatikan orang lain dengan penuh perhatian? Apakah mereka memiliki masalah yang membuat mereka terjaga di malam hari? Kemungkinan besar memang demikian, karena selama hidup mereka, banyak orang tua yang mengalami banyak hal. Namun, meskipun banyak masalah, mereka terus melangkah maju di jalan kehidupan.

Saat ini, ada orang-orang di dunia ini yang memandang orang tua kita sebagai orang yang tidak penting atau tidak berguna. Anak-anakku terkasih, kita tidak boleh menjadi bagian dari kelompok itu. Sebagai anak-anak Allah, kita harus menunjukkan rasa hormat kepada teman-teman dan anggota keluarga kita yang sudah lanjut usia. Kita harus mengingat kata-kata firman dalam Ayub 12:12, yang menyatakan,

Hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya.”

Bukankah menarik bahwa Tuhan Yesus sendiri memberi tahu kita bahwa saudara-saudari kita yang sudah lanjut usia itu ada di sini untuk mengajar kita tentang kehidupan? Mereka telah belajar banyak dari pengalaman baik dan buruk yang telah mereka alami dalam hidup mereka. Kita harus selalu berusaha mendengarkan dan belajar dari ajaran-ajaran mereka.

Ayub dan kesulitan-kesulitannya

Ayub 13:15 memberi tahu kita bahwa tidak peduli seberapa sulit suatu situasi, kita harus tetap tenang dan teguh, dan percaya kepada kehendak Tuhan kita Yesus. Ayub adalah orang yang tampaknya sempurna dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan, dan tidak pernah kehilangan kepercayaannya kepada Allah meskipun ia mengalami cobaan-cobaan sulit. Ia tahu bahwa Allahnya tidak akan meninggalkannya sendirian dan, betapapun buruknya situasi yang dihadapinya, Allah tidak akan pernah meninggalkannya. Ayub menanggung kematian anak-anaknya, kehilangan seluruh kekayaannya, dan penyakit yang mengerikan. Desas-desus dan kata-kata kasar yang dilontarkan oleh orang-orang di sekitarnya serta tuduhan dari teman-temannya sangat menyakitinya. Tidak banyak orang yang sanggup menanggung apa yang dilakukan Ayub atau memiliki kesabaran seperti yang dimilikinya. Pada akhirnya, Allah memberi upah kepada Ayub dan memberinya dua kali lipat dari apa yang telah hilang karena ia tetap teguh dan setia kepada Allah.

Sahabat terkasih, jika kalian ingin menjadi sebijaksana seperti beberapa orang tua yang kalian kenal, maka kalian harus mempelajari keterampilan yang telah mereka pelajari: ketaatan, perhatian, suka menolong, kemurahan hati, ketenangan, belas kasih, rasa hormat, kejujuran, kebaikan, dan yang terpenting, bagaimana menjadi pengikut Yesus yang sejati.

Sekarang, saya mengundang kalian untuk mendapatkan sendiri pengalaman belajar yang menyenangkan dengan mewawancarai tiga orang lanjut usia yang kalian kenal (baik dari jemaat maupun dari keluarga kalian). Untuk melakukan ini, kalian memerlukan pena atau pensil dan buku catatan atau tiga lembar kertas. Sebelum setiap wawancara, tuliskan nama kalian, nama orang yang akan kalian wawancarai, dan tiga pertanyaan di bawah ini:

1. Apa pengalaman terindah yang pernah engkau alami dalam hidup?

2. Apa pengalaman tersulit yang pernah engkau alami dalam hidup?

3. Bagaimana engkau berhasil mengatasi setiap rintangan dalam hidup?

Setelah kalilan menyelesaikan wawancara, ucapkan terima kasih atas waktu yang mereka berikan kepada kalian, dan mintalah mereka untuk bergabung dengan kalian dalam doa khusus untuk bersyukur kepada Allah atas kehidupan teman lanjut usia kalian itu. Akhiri waktu kalian bersamanya dengan memberi mereka buah-buahan atau hadiah kecil. Kemudian katakanlah, “Yesus mengasihimu!”

Diwaktu senggang kalian, tulislah ringkasan jawaban mereka di samping setiap pertanyaan di halamannya. Pada hari Sabat berikutnya, bawalah ketiga hasil survei kalian ke kelas Sekolah Sabat dan bagikan / ceritakan dengan kelas kalian. Bersama-sama kalian dapat berbicara tentang pengalaman yang dialami oleh orang-orang yang kalian telah wawancarai dan juga menceritakan tentang hadiah yang kalian berikan kepada mereka. Kalian juga dapat membagikan apa yang kalian pelajari dari orang-orang lanjut usia yang kalian wawancarai.

Jangan pernah lupa bahwa Yesus ingin agar kalian menjadi anak laki-laki dan perempuan dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang baik yang selalu ingat untuk memberi tahu lebih banyak orang tentang Dia. Semoga Tuhan memberkati kalian dan keluarga kalian dan semoga kalian pun dapat melayani orang lain dengan setulus hati. Amin.

***