“Hidup Terus Berlanjut”

BACAAN KELUARGA 2025: MAHKOTA KEHORMATAN

Bacaan 5, Minggu 11 Mei 2025

Pagi itu udaranya sejuk dengan sedikit tanda-tanda fajar menyingsing. Di lingkungan yang hangat, seorang ibu menahan sakit yang menyiksa saat melahirkan. Jam-jam berlalu dengan lambat di rumah pedesaan yang sederhana itu. Di bagian belakang ruangan, terlihat sosok seorang bidan yang berkeringat deras karena usahanya. Akhirnya, pada dini hari, Rosulita lahir, menangis keras saat pertama kali bersentuhan dengan dunia luar. Ia kelelahan sekaligus gembira. Namun, setelah melahirkan bayinya, ibunya—yang telah memiliki empat orang anak—menjadi sakit keras dan meninggal tak lama kemudian. Kehidupan terus berlanjut, penuh dengan kejutan yang tak terduga. Pada usia empat tahun, ayahnya menitipkannya kepada seorang guru. Hal ini membuat Rosulita merasa sedih dan bingung, karena ia tidak pernah menyangka bahwa tindakan seperti itu akan dilakukan oleh ayahnya sendiri. Namun, dengan keberanian yang besar, ia berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya.

Masa depan memberinya lebih banyak tantangan. Pada usia sebelas tahun, ia melarikan diri dari kampung halamannya karena bahaya pribadi. Dengan sedikit tabungan, ia pergi ke kota Cali, di Kolombia, di mana ia menghadapi diskriminasi rasial saat mencari pekerjaan. Itu adalah tahun-tahun yang sulit, dan pada usia tiga belas tahun, ia memiliki anak perempuan pertamanya; pada usia tujuh belas tahun, anak keduanya; dan pada usia dua puluh, anak ketiganya.

Sebagai perempuan yang beriman dan berdoa, dia menjalani setiap tahap kehidupannya dengan kasih, keberanian, dan ketabahan. Di masa dewasanya, dia pun menjadi percaya Injil dan menikah, dan mengalami kebahagiaan untuk sementara waktu. Sayangnya, tragedi terjadi lagi ketika, pada suatu malam musim panas, suaminya menghilang dari rumah. Mengatasi kesepian dan kesedihan atas ketidakhadirannya terbukti sangat sulit, karena dia mendedikasikan dua puluh tahun hidupnya untuk mencarinya, percaya bahwa dia telah diculik. Akhirnya, setelah dua dekade menunggu, dia menerima konfirmasi kematian suaminya. Setelah pengalaman yang menyayat hati ini, tantangan lain muncul: putri bungsunya didiagnosis dengan penyakit kronis, dan menderita selama enam tahun sebelum akhirnya meninggal dunia. Terlepas dari pengalaman menyakitkan ini, Rosulita, sekarang telah menjadi seorang perempuan tua yang bersemangat, ia tidak membiarkan penderitaan dan kesepian membuatnya menjadi apatis. Sebaliknya, dia belajar untuk mengisi kekosongan emosionalnya dan menemukan pelipur lara di kaki salib Kalvari.

Kisah ini sejalan dengan statistik global yang menunjukkan bahwa kesepian adalah emosi yang dialami oleh orang-orang dari semua demografi—tanpa memandang usia, kepercayaan, jenis kelamin, atau pendidikan. Sementara sebagian orang memandang kesepian sebagai kesempatan yang menyakitkan tetapi berharga untuk pertumbuhan rohani, bagi yang lain, kesepian menjadi periode intoleransi, frustrasi, dan isolasi terus-menerus, yang menyebabkan hilangnya kepercayaan pada orang lain dan berkurangnya kegembiraan dalam hidup.

Kesepian karena Kehilangan Seorang Anak

Seperti yang dibahas, kesepian dapat menyentuh siapa pun dan pada tahap kehidupan apa pun. Roh nubuat mengingatkan kita bahwa

Anak-anak adalah warisan Allah” … “Anak-anak dipercayakan kepada orang tua mereka sebagai amanah yang berharga, yang suatu hari nanti akan diminta Allah dari tangan mereka.” –The Adventist Home, hlm. 159, 161.

Namun, sejak dosa memasuki dunia, manusia diselimuti oleh luka ataupun penyakit tertentu. Hampir setiap rumah tangga menghadapi tantangan, ada yang memiliki anak yang sakit, baik yang menderita kanker, stroke, multiple sclerosis, atau penyakit menular seperti cacar monyet dan penyakit pernapasan seperti wabah COVID-19. Kondisi ini dapat menghancurkan kehidupan dalam waktu singkat.

Hamba Allah telah menyatakan, “Setan adalah sumber penyakit; dan para tabib ataupun dokter berperang melawan pekerjaan dan kuasanya. Penyakit pikiran pun merajalela di mana-mana.” –Mind, Character, and Personality, jilid 1, hlm. 12. Selain itu, Firman Allah menyoroti tentang Raja Daud yang adalah orang yang berkenan di hati Allah (Kisah 13:22). Ia rendah hati, penuh perhatian, setia, penuh hormat, dan suka menolong. Namun, di saat-saat kelemahan, ia malah sempat menjadi korban tipu daya dan perzinahan, bahkan mengatur pembunuhan prajurit setianya, Uriah. Ia mengkhianati persahabatannya dan menunjukkan ketidakpedulian terhadap penderitaan Uriah dengan menempatkannya di garis depan pertempuran sambil menarik dukungan pasukannya.

Namun, meskipun setiap dosa memiliki konsekuensi yang pasti, Allah memilih untuk menyelamatkan Daud dari kehancuran total. Ia mengutus nabi Natan untuk menyampaikan pesan yang akan mendorong raja untuk merenungkan tindakannya dan bertobat atas kesalahannya (2 Samuel 12:7-25). Alkitab menyatakan dalam Roma 5:20-21 sebagai berikut, “di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” “Selama setahun penuh setelah kejatuhannya, Daud hidup dalam keamanan yang nyata; tidak ada bukti lahiriah tentang ketidaksenangan Allah.” –Patriarchs and Prophets, hlm. 723. Setelah masa belas kasihan ilahi ini, anaknya jatuh sakit parah.

Itulah saat-saat yang menegangkan di istana. Di dalamnya, terdapat seorang pria yang sedang terkapar di tanah, berpuasa dan mengenakan kain kabung, merintih dan menangis sejadi-jadinya. Ia memiliki sumber keuangan yang besar untuk mencari dokter ataupun tabib terbaik bagi putranya. Banyak yang didatangkan, tetapi tidak ada yang dapat menyembuhkan anak laki-laki kecil itu. Penyakit ini berbeda jenisnya, yang hanya Allah saja yang dapat menyembuhkannya. Hari demi hari berlalu tanpa kabar baik, dan pada akhir minggu, putranya pun meninggal.

Pengalaman pahit minggu itu, yang dipenuhi dengan kesedihan dan kesepian yang mendalam, menjadi momen pertobatan Daud. Dia menyerahkan dirinya kepada Allah dengan sepenuh hati, dan Yesus menjadi Juruselamatnya yang penuh kasih, seperti yang dinyatakan dalam Firman Allah. Mazmur 32:3-5 mengatakan, “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; … Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela.” Dalam perkataannya, hanya kedamaian yang nyata. Tidak ada penghakiman terhadap Allah, ataupun ungkapan keluhan tentang ketidakadilan hidup. Dia tidak menyalahkan atau menyindir siapa pun, bahkan ibu dari putranya, seperti yang umumnya terjadi dalam beberapa kasus. Dia tidak terus menyalahkan dirinya sendiri atas dosanya yang besar. Di kaki Juruselamatnya, dia belajar untuk memohonkan pengampunan, untuk merelakan, dan untuk memaafkan bahkan dirinya sendiri. Dia lalu mandi dan berurap (memakai minyak wangi-wangian) dan bertukar pakaian, menemukan kepuasan dalam kasih karunia ilahi.

Kesepian juga bisa disebabkan oleh hilangnya barang-barang material dan teman-teman.

Namun hidup terus berjalan, dan dunia masih mengalami penderitaan yang terus-menerus; perang pun meletus di mana-mana. Setiap saat, ribuan orang binasa karena konflik internal yang melanda negara mereka. Berita itu membuktikan penggenapan Firman nubuat: “Beginilah firman TUHAN: Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang pahit pedih: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur karena anak-anaknya, sebab mereka tidak ada lagi. Beginilah firman TUHAN: Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata, sebab untuk jerih payahmu ada ganjaran, demikianlah firman TUHAN; mereka akan kembali dari negeri musuh. Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah firman TUHAN: anak-anak akan kembali ke daerah mereka.” Yeremia 31:15-17.

Ambisi untuk mendapatkan kekuasaan tanpa batas muncul karena dua alasan: yang pertama adalah mengejar uang. “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10). Alasan kedua terjadi ketika manusia berhenti menghormati Allah sebagai Juruselamat, Pencipta, dan Pemelihara segala sesuatu yang ada.

Meskipun ada orang-orang yang tamak, kisah Alkitab mengisahkan juga tentang seorang pria yang sangat kaya bernama Ayub, yang tinggal di Uz. Meskipun Ayub kaya secara materi, kebahagiaannya yang sejati berasal dari dedikasinya dalam pelayanan. Ia menghormati Allah dengan segala harta miliknya, yang meliputi “tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur.” Ayub 1:3.

Ayub meninggikan Juruselamatnya dengan menolong orang lain: “Karena aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak ada penolongnya; aku mendapat ucapan berkat dari orang yang nyaris binasa, dan hati seorang janda kubuat bersukaria.” Ayub 29:12, 13. Ia juga membimbing anak-anaknya dalam mencari jalan hidup kekal. Ayub menguduskan anak-anaknya. “Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” Ayub 1:5. Kesaksian iman Ayub tetap bertahan bahkan setelah ia kehilangan harta benda, anak-anak, teman-temannya, hamba-hambanya, dan kesehatannya. Pengalaman-pengalamannya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang sedang mengabdikan hidup mereka kepada Allah. Di masa-masa pencobaan, banyak yang justru menemukan hubungan yang lebih dalam dengan Pencipta mereka dan bangkit dari pergumulan mereka dengan kekuatan. Allah melakukan mukjizat dalam pertobatan sejati jiwa mereka, dan memenuhi mereka dengan sukacita dan kedamaian.

Allah berjanji kepada semua orang, baik pria dan wanita yang lebih tua, “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” Matius 19:29. Allah tidak berbohong kepada anak-anak-Nya; Dia pasti menggenapi Firman-Nya pada waktu-Nya dan dengan cara-Nya. Dia meyakinkan, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” Yesaya 46:4.

Ayub menerima warisannya baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang. Oleh karena itu, orang-orang tua yang terkasih harus memahami bahwa Allah tentu menopang anak-anak-Nya yang terkasih, Ia mengetahui setiap rasa sakit dan penderitaan mereka, baik dari bencana alam, kebakaran, kecelakaan, ataupun kejahatan. Jika bukan karena cobaan-cobaan seperti itu, kita mungkin tidak benar-benar mengenal Allah kasih yang agung yang kita miliki. Ayub mempelajari hal ini, sewaktu saat-saat sulitnya memurnikannya, memberikan jawaban atas keragu-raguannya dan mempersiapkannya melalui Roh Kudus untuk kekekalan.

Sebagai rangkuman, saya ingin menekankan bahwa Bapa surgawi kita menderita kematian Putranya sendiri karena kasih kepada Saudara-Saudari, hai para orang tua yang terkasih. Demikian pula, Yesus mengalami kesepian yang mendalam karena perpisahan ketika Dia menanggung beban dosa-dosa manusia. Mereka telah memberi teladan bagi jalan kita; dengan demikian, engkau pun harus meletakkan kesepian dan rasa sakitmu di kaki salib Kalvari, sebagaimana yang dilakukan Rosulita, Raja Daud, dan Ayub. Engkau dapat menjadi lebih dari seorang pemenang dan akan menang melalui kuasa yang datang dari Allah.

TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!” Mazmur 138:8. Amin.

* * * * *

BACAAN KELUARGA 2025: MAHKOTA KEHORMATAN