SEKOLAH PERTAMA SEORANG ANAK
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Amsal 22:6.
“Setiap orangtua Kristen memiliki kewajiban yang sakral untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya yang akan menuntun mereka untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah dan menjadi pengambil bagian dalam kodrat ilahi melalui ketaatan kepada kehendak dan jalan Allah. Sekolah pertama bagi seorang anak seharusnya adalah rumahnya. Pembimbing pertamanya seharusnya adalah ayahnya dan ibunya. Pelajaran pertamanya seharusnya adalah pelajaran tentang rasa hormat, ketaatan, kepatuhan, dan pengendalian diri. Jika ia tidak diajar dengan benar oleh orangtuanya, maka Setan akan mengajarinya dalam kejahatan melalui perantara yang paling tidak menyenangkan. Maka, betapa pentingnya sekolah di rumah! Di sinilah tabiat pertama kali dibentuk. Di sinilah takdir jiwa sering kali sangat dipengaruhi. Bahkan orangtua yang telah berusaha melakukan yang terbaik sekalipun sebenarnya masih belum memiliki seperseratus bagian dari kesadaran yang seharusnya mereka miliki tentang nilai jiwa manusia.” 18LtMs, Ms 54, 1903, par. 10.
“Train up a child in the way he should go: and when he is old, he will not depart from it.” Proverbs 22:6.
“Upon every Christian parent there rests the solemn obligation of giving to his children an education that will lead them to gain a knowledge of the Lord and to become partakers of the divine nature through obedience to God’s will and way. A child’s first school should be his home. His first instructors should be his father and his mother. His first lessons should be the lessons of respect, obedience, reverence, and self-control. If he is not instructed aright by his parents, Satan will instruct him in evil through agencies that are most objectionable. How important, then, is the school in the home! Here the character is first shaped. Here the destiny of souls is often largely influenced. Even the parents who are endeavoring to do their best have not a hundredth part of the realization they should have of the value of a human soul.” 18LtMs, Ms 54, 1903, par. 10.
***