Bacaan 3 – Jumat, 8 Mei 2026
Oleh Pr. Everardo Sandoya (Panama / Dominika)
Kekerasan verbal, psikologis, moral, dan fisik terhadap kaum laki-laki sebagai kepala rumah tangga.
“TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan.” Mazmur 11:5.

Di zaman kita sekarang, peningkatan kekerasan ataupun perbuatan pelecehan adalah sangat mengkhawatirkan sehingga dapat memengaruhi rumah tangga keluarga Kristen, dan banyak anggota gereja yang justru sedang tidak menyadari penderitaan yang diam-diam sedang melukai begitu banyak keluarga ini.
“Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.” Amsal 14:1.
Ada empat jenis kekerasan ataupun pelecehan, yang digunakan oleh perempuan (istri) tertentu untuk secara diam-diam menghancurkan laki-lakinya (suami) sebagai kepala rumah tangga:
- Pelecehan (Kekerasan) Verbal.
- Pelecehan (Kekerasan) Psikologis.
- Pelecehan (Kekerasan) Moral.
- Pelecehan (Kekerasan) Fisik.
1. Pelecehan (Kekerasan) Verbal:
Ini adalah kebiasaan menyakiti orang lain melalui kata-kata.
Alkitab sendiri menunjukkan kepada kita bahwa ‘tidak ada seorang pun yang pernah hidup dan tidak pernah menimbulkan pelanggaran.’ Pengkhotbah 7:10 KJV. Seorang perempuan bisa saja merupakan pemimpin yang berbakat dalam mengajarkan firman Allah, namun pada waktu-waktu tertentu ia pun mungkin tanpa sengaja menyinggung suaminya. Pelanggaran yang tidak disengaja seperti ini tidak boleh dianggap sebagai pelecehan verbal.
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Efesus 4:31-32.
Allah telah menempatkan suami sebagai kepala rumah tangga untuk memimpin keluarganya dengan bijaksana sesuai dengan prinsip-prinsip kasih Kristus. Namun, ada juga perempuan-perempuan dengan bakat dan kemampuan yang nampak dominan yang ingin mengambil tempat yang telah Allah berikan kepada laki-laki, dan perempuan-perempuan itu menggunakan pelecehan verbal untuk mempermalukan laki-laki dan memaksakan kehendak mereka dengan paksa. Tujuan pelecehan verbal terhadap laki-laki adalah agar perempuan-perempuan ini mendapatkan dominasi atau agar segala sesuatunya dilakukan sesuai keinginan mereka.
Pelecehan verbal biasanya terjadi ketika perempuan-perempuan ini terbiasa marah-marah atau kesal ketika suami-nya tidak melakukan apa yang mereka inginkan, dan mereka malah menghabiskan sebagian besar waktu untuk berteriak, memarahi, menghina, mengkritik, atau menggunakan kekerasan atau kata-kata yang tajam ketika berbicara kepada suaminya sebagai kepala rumah tangga. Seringkali, mereka bahkan mempermalukan suaminya ini di depan umum untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa ‘merekalah yang berkuasa’.
Sayangnya, banyak perempuan telah menjadi ‘berkuasa’, dan beberapa dari mereka—yang didukung oleh hukum dan organisasi feminis—telah menggunakan mekanisme penindasan terhadap rencana Allah yang telah menetapkan laki-laki sebagai pemimpin atau kepala rumah tangga. Tragisnya, sebagian besar pernikahan di mana perempuan melakukan pelecehan verbal terhadap suami mereka berakhir dengan perceraian.
Seorang perempuan yang terus-menerus melakukan pelecehan verbal kemudian akan menjadi perempuan yang suka bertengkar.
“Seorang isteri yang suka bertengkar serupa dengan tiris yang tidak henti-hentinya menitik pada waktu hujan. Siapa menahannya menahan angin, dan tangan kanannya menggenggam minyak.” Amsal 27:15-16.
“Lebih baik tinggal pada sudut sotoh rumah dari pada diam serumah di rumah megah dengan perempuan yang suka bertengkar.” Amsal 21:9 KJV.
Alkitab mengatakan bahwa seorang suami harus mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri, dan seorang istri harus menghormati suaminya.
“Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” Efesus 5:33.
Jika kita ingin rumah kita terlindungi dari Setan, maka kita harus menjunjung tinggi prinsip-prinsip alkitabiah Kristus ini di dalam keluarga kita. Laki-laki adalah kepala rumah tangga, dan perempuan harus menghormati tatanan ilahi tersebut.
2. Pelecehan (Kekerasan) Psikologis:
Hal ini terjadi ketika seorang perempuan (istri) menunjukkan perilaku dan sikap yang bertujuan untuk mengendalikan, mendominasi, memanipulasi, dan mempermalukan seorang laki-laki (suami) melalui intimidasi, rasa takut, rasa malu, rasa bersalah, dan penyangkalan terhadap kenyataan. Pada akhirnya, ketika seorang perempuan melakukan pelecehan psikologis, berarti ia mengabaikan identitas laki-laki (suami) yang berada di sisinya.
Ciri Perempuan yang Memanipulasi Laki-laki Secara Psikologis
- Mereka memiliki rasa percaya diri yang berlebihan (kepercayaan diri yang bermasalah).
- Seseorang yang melakukan kekerasan psikologis memiliki rasa diri penting yang berlebihan dan secara kebiasaan memprioritaskan kepentingan dan kebutuhannya sendiri di atas kepentingan dan kebutuhan orang lain.
- Mereka sering mendambakan kekaguman, atau puji-pujian yang sia-sia.
- Sama seperti anak manja yang merusak mainannya, perempuan-perempuan yang senang dipuji ini justru menghancurkan harga diri dan reputasi suami yang menolak dimanipulasi oleh mereka. Perempuan jenis ini tahu bagaimana cara menyamarkan niatnya untuk mengendalikan orang lain dengan terampil.
- Di rumah, mereka tidak memperlakukan suami mereka sebagai pribadi yang memiliki nilai setara. Sebaliknya, mereka malah memanipulasi suami mereka agar selalu melakukan hal-hal apapun sesuai keinginan mereka—dengan cara apa pun—bahkan ketika hal itu harus mengikis identitas sang suami (melukai nilai pribadinya).
Rasa cinta diri yang berlebihan itu mencerminkan tabiat Setan yang sedang bekerja di balik perempuan yang bersifat manipulatif tersebut.
Alkitab menunjukkan bagaimana Izebel secara psikologis memanipulasi Raja Ahab dan telah mengabaikan identitasnya sebagai kepala keluarga.
Raja Ahab menyaksikan mukjizat Allah ketika api turun dari surga atas firman nabi Elia, dan ia menaati nabi itu ketika Allah menurunkan hujan setelah tiga tahun enam bulan kekeringan. Dan ketika ia kembali ke rumah, istrinya, Izebel, mendengar kabar tentang Elia dan mukjizat-mukjizat dahsyat yang telah Allah lakukan melalui nabi-Nya. Tetapi Izebel yang jahat menghasut suaminya dan memutarbalikkan hatinya, dan ia sendiri pun memberi perintah untuk membunuh nabi Elia, memaksakan kehendak perempuan atas laki-laki di istana kerajaan.
- Mereka cenderung memanfaatkan orang lain untuk keuntungan pribadi mereka.
Perempuan-perempuan ini kurang dalam empati dan memandang orang lain bukan sebagai pribadi, melainkan semata sebagai alat untuk mencapai tujuan mereka.
- Mereka kurang peka terhadap perasaan orang lain.
Mereka tidak peduli dengan kerugian yang mereka timbulkan atau orang-orang yang mereka hancurkan. Mereka memanfaatkan kelemahan orang lain, dan bahkan jika pun mereka telah menyakiti atau menghancurkan orang lain, mereka tidak merasa bersalah atau menyesal atas kerusakan yang telah mereka lakukan.
Jikapun ada—jarang sekali—mereka terlihat mengakui kesalahan mereka kepada orang lain untuk mencari pemulihan hubungan dan perdamaian. Di mata mereka, selalu orang lain yang salah. Dengan kata lain, orang-orang ini selalu percaya bahwa mereka benar, dan jika mereka berada di posisi berwenang, mereka bahkan akan mengelilingi diri mereka dengan pribadi-pribadi yang dapat mereka pergunakan untuk memberikan tekanan kepada sesama mereka dan dengan demikian mencapai tujuan mereka untuk mendominasi orang lain.
- Mereka seperti predator di hutan belantara.
Mereka mempelajari orang-orang di sekitar mereka, menemukan atupun mengetahui kelemahan mereka, dan menggunakan pengetahuan itu untuk memanipulasi korban mereka—khususnya orang yang telah mereka putuskan untuk nikahi.
Mereka memiliki kemampuan berbicara yang sangat berkembang dengan kemampuan untuk menyimpangkannya untuk membuat orang yang tidak bersalah malah menjadi merasa bersalah.
Bahkan ketika buktinya sangat meyakinkan pun, perempuan-perempuan ini sangat terampil dalam memanipulasi keadaan menjadi sedemikian efektifnya sehingga mereka dapat membuat laki-laki (suami) yang tinggal bersama mereka menjadi merasa bersalah.
Alkitab menggambarkan orang seperti ini sebagai berikut:
“Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.” Yesaya 5:20.
Perempuan-perempuan yang demikian ini mampu memutarbalikkan makna dan arti dari suatu peristiwa serta memanipulasi situasi atau keadaannya untuk kepentingan pribadi mereka sendiri.
Ini adalah taktik lain yang digunakan untuk menghancurkan harga diri dan kepercayaan diri korbannya: dia memutarbalikkan fakta sehingga semua orang terpaksa beradaptasi dengan cara pandangnya terhadap realitas. Keadaan menjadi lebih buruk ketika korban bahkan menjadi meragukan ingatan dan kemampuannya sendiri, karena manipulator telah mengubah fakta dan berbohong dengan sangat terampil sehingga korbannya menjadi sepenuhnya bergantung padanya.
- Mereka ahli dalam menanamkan rasa takut pada korban mereka untuk kemudian memanipulasi mereka.
Manipulator melebih-lebihkan bahaya atau ancaman untuk menakut-nakuti korban, sehingga memaksa laki-laki tersebut untuk bertindak dengan cara tertentu.
Dalam pernikahan, seorang istri yang demikian mungkin akan mengancam suaminya dengan perceraian dan atau mengambil anak-anak, lalu mengatakan kepadanya bahwa kecuali dia melakukan ini atau itu, dia akan ditinggalkan sendirian.
Di tempat kerja, bila sebagai atasan, maka dia akan membuat karyawan merasa bahwa jika mereka tidak melakukan ini atau itu, mereka berisiko kehilangan pekerjaan, dll.
Dalam beberapa kasus, orang yang bersifat manipulatif yang demikian mungkin juga justru berperan sebagai korban untuk membangkitkan rasa iba dari korbannya, sehingga orang lain akan menyerah pada tuntutannya.
Setan berada di balik segala jenis pelecehan psikologis, dalam usahanya untuk menghancurkan rumah tangga dan menjauhkan jiwa-jiwa dari Allah.
3. Pelecehan (Kekerasan) Moral:
“Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama (bersatu), supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.” 1 Korintus 7:3-5.
Istilah ‘kewajiban perkawinan’ paling sering digunakan untuk menggambarkan tanggung jawab timbal balik yang harus dipenuhi pasangan suami istri dalam pernikahan, terutama dalam hal hubungan intim. Namun, seringkali, rencana yang ditetapkan Allah sejak awal dunia ini tidaklah terpenuhi.
Kesalahan besar adalah gagal memuaskan pasangan dengan menolak untuk menjadi satu tubuh.
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Kejadian 2:24. Allah telah menetapkan kenikmatan seksual dalam pernikahan; menolak untuk memuaskan pasangan dapat menyebabkan godaan dan perzinahan. 1 Korintus 7:4-5
Dalam 23 tahun pelayanan saya, saya berulang kali mengetahui adanya para saudari di gereja yang menolak untuk memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan Allah dalam Firman-Nya terhadap suami mereka, dan sayangnya, para laki-laki ini menemukan pada perempuan lain apa yang ditolak oleh istri mereka sendiri. Saat ini, rumah tangga tersebut hancur. Kita harus meniru Kristus dan mempraktikkan sikap tanpa pamrih dalam semua aspek kehidupan. Seseorang yang dipenuhi dengan kasih Allah akan berusaha untuk memuaskan dan melindungi pasangannya. ‘Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.’ Amsal 22:3.
Seseorang yang dipenuhi dengan kasih Allah akan berusaha untuk memuaskan orang yang dicintainya dan akan merawat pasangannya agar mereka tidak terpapar godaan iblis.
4. Pelecehan (Kekerasan) Fisik:
Kekerasan fisik biasanya terjadi ketika kekerasan verbal dan psikologis gagal. Seseorang dengan cinta diri yang bersifat satanik akan menggunakan kekerasan fisik ketika mereka tidak dapat memanipulasi pasangannya dengan cara lain. Pemerkosaan atau pelecehan seksual harus segera dilaporkan. Perpisahan tepat dilakukan dalam situasi berbahaya demikian. Tetapi jika memang harus berpisah, maka “…ia harus tetap hidup tanpa suami (atau istri), (tidak boleh menikah lagi)…” 1 Korintus 7:11.
Bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Pribadi yang manipulatif harus mencari terapi yang berpusat pada Kristus, mengakui dosa-dosa mereka, dan menunjukkan buah pertobatan sebelum perdamaian kembali dapat dimungkinkan.
“Dan (jika) umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” 2 Tawarikh 7:14.
Kiranya Allah mengasihani keluarga-keluarga yang sedang menderita akibat segala bentuk pelecehan ataupun kekerasan, dan saya berdoa kiranya Dia berkenan menyelamatkan keluarga-keluarga yang hancur itu, dalam nama Yesus Kristus. Amin.
***