Bacaan 4 – Sabat, 9 Mei 2026
Oleh Pr. Angel Andres Batista Portillo (Meksiko)
Tantangan bagi seseorang adalah untuk tetap dapat menetapkan tujuan, betapapun besar atau sulitnya, dan untuk tumbuh serta memperkuat dirinya dengan berusaha tiap-tiap hari. Ketika ia mencapai dan melampaui tujuan tersebut, maka ia akan memperoleh kepuasan pribadi; ia akan menyadari bahwa ia memiliki potensi dalam hidupnya yang mendorongnya setiap hari, dan melalui disiplin yang ketat, ia akan mencapai pembentukan tabiat yang kokoh.

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Filipi 3:13-14.
Paulus mencakup seluruh kehidupan masa lalunya; sekarang ia merujuk pada kondisinya terkininya ketika itu tanpa mengklaim telah mencapai keadaan kesempurnaan mutlak. Ia terus melanjutkan proses keselamatannya. Ia memusatkan pandangannya pada tujuan hidup kekal dan warisan di dunia kekal setelah kematian. Visi yang jelas tentang tujuan ini mendorong orang Kristen untuk dengan setia dan sukacita menjalani perlombaan yang telah ditetapkan di hadapan mereka. —SDA Bible Commentary.
Pertumbuhan Pribadi
Pertumbuhan akan terlihat pada orang yang memelihara persekutuan harian dengan Penciptanya melalui doa, mempelajari Firman-Nya, dan perenungan yang mendalam—yakni mengembangkan diri secara rohani dan mempraktikkan nasihat Allah untuk melayani sesama secara sosial dan rohani. Hal ini akan meningkatkan kehidupan orang lain dan dirinya sendiri. Ia akan memperoleh kepuasan pribadi dan akan meraih pencapaian tabiat yang diinginkan.
Seperti Rasul Paulus, setiap pemuda, orang dewasa, atau orang lanjut usia membutuhkan pengembangan diri, dan ini hanya dapat dicapai dengan menghadapi ujian-ujian terhadap kemampuan kita dan menghadapi tantangan yang memungkinkan kita untuk memperoleh tabiat yang menjadi bukti persekutuan kita dengan Yesus.
“Seringkali manusia tergoda untuk goyah di hadapan kesulitan dan rintangan yang mereka hadapi. Tetapi jika mereka tetap teguh pada keyakinan mereka hingga akhir, maka Allah akan meratakan jalan. Kesuksesan akan datang kepada mereka saat mereka berjuang melawan kesulitan.” —Prophets and Kings, hlm. 595.
Saudaraku, pertama-tama persembahkan dirimu kepada Allah; maka Dia akan membebaskanmu dari trauma masa lalu yang menghalangimu di masa muda-mu untuk membuat rencana masa depan. Mulailah dengan menghadapi kesulitan hidup, bukan dengan menghindari kewajiban. Baik sebagai anak laki-laki maupun laki-laki yang telah beranjak dalam usianya, kesulitan masa muda tetaplah lebih mudah diatasi daripada kesulitan seorang laki-laki yang sudah menikah. Seiring bertambahnya usia, masalah dan tantangan juga bertambah, dan kita harus menghadapinya. Jangan takut atau gentar; engkau harus bertumbuh tiap-tiap hari, sambil memegang tangan Allah.
Barangsiapa yang sudah menikah berarti bertanggung jawab di hadapan Allah atas anak-anak yang mereka miliki sebagai warisan dari Allah. Berusahalah tiap-tiap hari untuk memenuhi perananmu sebagai ayah ataupun suami, yang bertanggung jawab untuk menyediakan apa yang dibutuhkan keluarga: baik makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan yang terpenting, pelayanan kepada Allah pada setiap pagi dan petang. Tangani setiap kebutuhan atau masalah yang muncul dalam keluarga dengan pertolongan Allah. Ingatlah bahwa setiap laki-laki adalah kepala rumah tangga dan harus memimpin rumahnya menuju pelabuhan damai sejahtera dengan kasih dan dalam takut akan Allah.
Lalu apa yang dapat dikatakan tentang saudara-saudara kita yang telah melewati usia senja, yang rambutnya telah memutih dan telah pensiun? Kita harus mengingatkan mereka juga bahwa selagi kita masih hidup, maka perjuangan dan tantangan belumlah berakhir. Kita tidak boleh hanya berdiam diri dan menghabiskan waktu hanya untuk ber-santai atau hidup untuk hiburan sesaat. Marilah kita terus melayani Allah semaksimal mungkin—dengan memberi konseling ataupun dorongan semangat, mengunjungi orang sakit, membagikan selebaran, mengajar anak-anak atau cucu melalui pengalaman, bahkan kaum muda gereja, atau menulis karya sastra kecil. Sehingga ketika kita tidak lagi berada di bumi ini, maka kita terus berada di hati saudara-saudara dan orang-orang terkasih kita—mengetahui bahwa seperti matahari, setelah terbenam, ia terus menerangi kehidupan orang-orang yang menikmati pemandangan awan kemerahan yang diterangi oleh matahari yang telah tiada, tetapi telah meninggalkan kita bagai pemandangan matahari terbenam yang indah.
“Tabiat yang mulia adalah diperoleh melalui usaha pribadi oleh berkat jasa dan kasih karunia Kristus. Allah telah mengaruniakan talenta, kekuatan pikiran; dan bagian kitalah untuk membentuk tabiat. Tabiat dibentuk melalui perjuangan keras dan berat melawan diri sendiri. Konflik demi konflik harus diperjuangkan melawan kecenderungan bawaan. Kita harus mengkritik diri sendiri dengan cermat, dan tidak membiarkan satu pun sifat buruk untuk tinggal tetap tidak diperbaiki.” —Christ’s Object Lessons, hlm. 331.
Tantangan yang Dihadapi Yusuf
“Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun–jadi masih muda–biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, … Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya.” Kejadian 37:2.
Yusuf mengasihi dan takut akan Allah dan menginginkan saudara-saudaranya melakukan hal yang sama, tetapi mereka membenci Allah dan membenci Yusuf. Suatu hari, ayahnya menyuruhnya mencari saudara-saudaranya yang sedang menggembalakan domba mereka di Sikhem, tetapi ia menemukan mereka di Dotan. Ia merasa sangat gembira menemukan mereka; namun, setelah melihatnya datang, mereka malah membuat rencana untuk membuatnya menghilang selamanya. Mereka melemparkannya ke dalam sebuah sumur, dengan maksud agar ia mati kelaparan, tetapi segera sebuah kafilah pedagang yang sedang dalam perjalanan ke Mesir lewat, dan mereka menjual Yusuf sebagai budak.
Yusuf dan tuannya sedang dalam perjalanan ke Mesir. Saat kafilah berbaris ke selatan menuju perbatasan Kanaan, pemuda itu dapat melihat dari kejauhan bukit-bukit tempat kemah ayahnya berada. Ia menangis tersedu-sedu memikirkan kesepian dan penderitaan ayahnya yang penuh kasih. Kemudian pikirannya beralih kepada Allah ayahnya. Di sana, ia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah dan berdoa agar Penjaga Israel menyertainya di negeri tempat ia akan diasingkan. Hidupnya berubah secara tak terduga—dari seorang putra yang dicintai dan disayangi menjadi seorang budak tanpa tujuan yang pasti. Meskipun, tentu saja, Allah memegang segala sesuatu di bawah pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Setelah tiba di Mesir, kepala pengawal Firaun membeli Yusuf. Budak muda itu setia, karena ia telah bertekad demikian.
Tentu, saudaraku yang terkasih, tidak ada hal serupa yang pernah terjadi padamu—tetapi Yusuf mengatasinya dengan berdoa setiap saat. Kehidupan Yusuf tidak mudah, tetapi ia berhasil menakllukkan berbagai tantangan:
- Kebencian saudara-saudaranya.
- Istri Potifar, yang mencoba membujuknya untuk berzinah.
- Dan karena tetap setia, dia malah berakhir di penjara.
- Ia menafsirkan mimpi juru minuman dan juru roti.
- Kemudian, dia diperhadapkan ke hadapan Firaun.
- Meskipun Setan menyiksa hidupnya, ia memenuhi kehendak Allah.
- Di Mesir, ia menikah dan memerintah dengan bijaksana.
- Ia memiliki tabiat yang dewasa, dan ketika ia melihat saudara-saudaranya, ia tidak menyimpan dendam.
“Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kejadian 45:4-5). Allah memberikan mimpi pertama kepada Yusuf dan mempersiapkannya untuk memenuhi kehendak-Nya. Demikian Allah hendak melakukan hal yang sama bagi orang-orang yang berkerinduan untuk membentuk tabiat mereka, karena, tabiat adalah satu-satunya hal yang dapat mereka bawa dari bumi ini hingga kekekalan.
Tujuan Hidup
“Barangsiapa ingin meraih kesuksesan sejati dalam hidup, hendaknya senantiasa mengingat pada tujuan yang layak untuk diusahakannya.” —Education, hlm. 262.
“Hidup tanpa tujuan adalah kematian dalam hidup.” —The Review and Herald, 29 Juli 1884.
“Tujuan kita seharusnya bukanlah untuk menjadi yang terhebat. Hendaknya kita memfokuskan pandangan kita hanya pada kemuliaan Tuhan saja.” —The Review and Herald, 1 April 1909.
Apa artinya hidup tanpa tujuan?
Hidup tanpa tujuan berarti hidup merana sebagai pengembara, tanpa rumah tetap atau sumber penghidupan yang teratur. Itu berarti hidup tanpa makna dan tanpa tanggung jawab.
“Setiap orang hendaknya memiliki tujuan dan maksud hidupnya, dan kemudian menjadikan setiap pikiran dan perbuatannya sesuai dengan tujuan tersebut untuk mencapai apa yang diinginkannya. Pikiran harus dikendalikan. Harus ada keteguhan pada tujuan untuk melaksanakan apa yang sebenarnya hendak engkau lakukan.” —Our High Calling, hlm. 112
Anak yang Hilang
“Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.” Lukas 15:17-20. Ketika ia masih jauh dari rumahnya, ayahnya telah melihat pengembara itu, dan pikiran pertamanya adalah tentang putra pemberontak yang telah meninggalkannya bertahun-tahun sebelumnya, menyerahkan diri tanpa kendali kepada dosa.
“Manusia tidak boleh bermalas-malasan. Kemalasan adalah dosa.” —Letter 103, 1900.
Tantangan pertamanya adalah kembali kepada ayahnya. Dan engkau, saudaraku terkasih, maukah engkau kembali kepada Allah? Maukah engkau membuat perubahan nyata dalam hidupmu?
“Dan sekarang, sebagaimana pada zaman Israel, tiap-tiap orang muda harus dididik tentang tugas-tugas dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang harus memperoleh pengetahuan tentang beberapa cabang pekerjaan manual yang dengannya, jika perlu, ia bahkan dapat memperoleh penghidupan ataupun penghasilan untuk hidup.” -Messages to Young People, hlm. 177. Suatu keahlian dipelajari melalui pengamatan terhadap pendidik atau pelatihnya, melalui mempraktikkannya tiap-tiap hari, dan disiplin untuk mempraktikkan dengan baik apa yang dikehendaki atau yang dimintakan, serta memperoleh pengalaman tiap-tiap hari. Suatu profesi ataupun keterampilan pekerjaan adalah diperoleh melalui pembelajaran tiap-tiap hari, melalui pembelajaran teknis, ataupun melalui universitas, baik secara tatap muka maupun daring, dan akhirnya memperoleh lisensi profesional melalui ujian di akhir studi.
Saudaraku, penting bagimu untuk berhasil mempelajari satu atau lebih keahlian, dan jika memungkinkan, belajarlah untuk berkarir di bidang yang profesional, lalu menabung, membeli tanah, rumah, dan kemudian mencari pendamping hidupmu dalam doa. Setiap orang harus mengingat bahwa Allah telah berfirman bahwa tidak baik bagi manusia untuk hanya sendirian atau seorang diri saja. Sebagian besar dari kita tentu bermimpi memiliki rumah sendiri suatu hari nanti, dan itu benar, tetapi setiap orang harus berusaha untuk bertumbuh dalam kehidupan sosial, moral, dan kerohanian. Anggaplah itu sebagai suatu tujuan dalam hidup, yakni untuk menikah, untuk menjadi seorang Kristen yang baik, menjadi ayah yang baik, suami yang baik, dan mencapai stabilitas emosional dan—mengapa tidak—juga dalam hal finansial, yang memungkinkanmu untuk menjadi berkat bagi keluargamu, gereja, dan masyarakat, dan tidak menjadi beban bagi siapa pun.
Pengembangan Profesional
“Wahai orang-orang muda, apakah tujuan dan maksud hidup kalian? Apakah kalian berambisi untuk mendapatkan pendidikan agar memiliki nama dan kedudukan di dunia? Apakah kalian memiliki pemikiran yang tak berani kalian ungkapkan, bahwa suatu hari nanti kalian dapat berdiri di puncak kebesaran intelektual? Tidak ada yang salah dengan aspirasi ini. Kalian masing-masing dapat meninggalkan jejak. Kalian tidak boleh puas dengan pencapaian yang biasa-biasa saja. Bercita-citalah setinggi mungkin, dan jangan ragu untuk berusaha mencapai standar tersebut.” —Messages to Young People, hlm. 36.
Kisah Seorang Pemuda: A Suatu hari, seorang pemuda mengatakan kepada saya bahwa ia ingin berhenti kuliah untuk menjadi seorang kolportir (penjual buku-buku Kristen) di bidang yang sama dengan saya. Saya menyarankan agar ia mempertimbangkannya dengan matang; meninggalkan studi yang belum selesai akan memengaruhi tabiatnya, dan semua investasi yang telah dilakukan ibunya tidak akan membuahkan hasil. Kita memang membutuhkan kolportir, tetapi kita juga membutuhkan para profesional yang mendukung pekerjaan Allah. Ia mendengarkan saya, dan beberapa tahun kemudian, ia pun menjadi akuntan untuk Uni kami.
Kedisiplinan Orang Kristen
“Alkitab memberikan kepada pencari yang sejati suatu disiplin mental yang lebih maju, dan ia berasal dari perenungan akan hal-hal ilahi yang digabungkan dengan kemampuan yang diperkaya; dan dengan kerendahan hati, sementara Allah dan kebenaran-Nya yang dinyatakan pun ditinggikan… Alkitab berisi makanan berkualitas yang dibutuhkan orang Kristen agar ia dapat bertumbuh kuat dalam roh dan dalam akal budi.” —The Review and Herald, 21 Agustus 1888.
“Sesuai dengan kecenderungan kita, jika kita ingin melayani Allah, maka pikiran kita harus terlebih dahulu dididik, dilatih, dan didisiplinkan.” —Ye Shall Receive Power, hlm. 68.
Keagungan Rohani Daniel
Dalam Alkitab, istilah kerohanian adalah digunakan untuk menggambarkan keinginan kuat seseorang untuk hidup berkenan ataupun menyenangkan Allah dan berpikir seperti Dia. Orang yang rohani akan berusaha untuk hidup sesuai dengan standar Allah dan mengikuti bimbingan Roh Kudus-Nya.
“Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih.” Efesus 5:1.
“Tetapkanlah suatu waktu khusus, yakni suatu momen yang disiapkan untuk berdoa setidaknya tiga kali sehari. Pagi, siang, dan malam Daniel berdoa kepada Allahnya, meskipun ada dekrit raja dan ancaman gua singa yang menakutkan. Ia tidak malu atau takut untuk berdoa, tetapi dengan jendela terbuka ia berdoa tiga kali sehari. Apakah Allah melupakan hamba-Nya yang setia ketika ia dilemparkan ke dalam gua singa? Oh, tentu tidak. Ia menyertainya di sana sepanjang malam. Ia menutup mulut singa-singa yang lapar itu, dan mereka tidak dapat menyakiti hamba Allah yang sedang berdoa itu.” —The Youth’s Instructor, Maret 1856.
“Roh damai sejahtera adalah bukti hubungan mereka dengan surga. Aroma manis Kristus mengelilingi mereka.” —Sons and Daughters of God, hlm. 306.
“Kasih karunia Kristus di dalam hati akan selalu mendorong peningkatan dalam kehidupan rohani.” —The Review and Herald, 24 Mei 1892.
Paulus, Yusuf, dan Daniel telah memberikan teladan kesetiaan. Mereka menghadapi tantangan hidup dengan keberanian, dan mahkota kebenaran telah disiapkan untuk mereka. Demikian juga, kita yang takut akan Allah dapat menerima mahkota itu jika kita dengan teguh menghadapi tantangan hidup. Amin dan amin.
***