Identitas Manusia Di Masa Krisis

BACAAN KELUARGA 2026

Bacaan 5 – Minggu, 10 Mei 2026

Oleh Str. Diane Mejías Linares (Curaçao)

Dalam banyak bahasa dan budaya, ungkapan “maskulinitas dalam krisis” dapat disalahartikan sebagai merujuk pada masalah seksual, impotensi, atau performa fisik semata. Padahal, krisis yang dihadapi manusia saat ini bukanlah krisis fisik saja, melainkan krisis dalam hal kerohanian, moral, dan identitas.

Kita sedang hidup di zaman di mana peran yang telah Allah tetapkan bagi laki-laki dan perempuan justru telah dipertanyakan, didefinisikan ulang, atau bahkan ditolak oleh ideologi, arus filosofis, dan model sosial yang menyimpang dari pernyataan firman dalam Alkitab. Hal ini telah menimbulkan kebingungan, rasa tidak aman, konflik dalam rumah tangga, dan melemahnya otoritas moral laki-laki serta keharmonisan dalam perkawinan.

Ketika seseorang kehilangan hubungannya dengan Allah, maka ia pun kehilangan tujuan hidupnya. Dan ketika ia kehilangan tujuan hidupnya, berarti ia memasuki krisis. Alkitab menyatakan hal ini dengan jelas: “Karena keinginan daging (pikiran duniawi) adalah maut, tetapi keinginan Roh (pikiran yang rohani) adalah hidup dan damai sejahtera.” Roma 8:6. Masalah manusia modern bukanlah karena ia adalah manusia, tetapi karena ia telah berhenti hidup mengikuti rancangan Allah yang telah ditentukan-Nya bagi kehidupan manusia.

1. Asal Usul Ilahi Manusia dan Identitasnya

Allah tidak menciptakan manusia secara kebetulan atau sebagai hasil dari kekuatan kuasa yang buta. Alkitab menyatakan: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, … Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Kejadian 1:26–27. Asal usul manusia inilah yang menentukan martabatnya. Ellen G. White menuliskan: “Meskipun Adam diciptakan dari debu, ia adalah ‘anak Allah.’” Lukas 3:38.

Dalam Patriarchs and Prophets, Adam digambarkan sebagai:

  • Ciptaan yang sempurna
  • Diberkati dengan martabat yang mulia
  • Mampu memahami hal-hal ilahi
  • Dalam persekutuan langsung dengan Allah
  • Dengan nafsu yang terkendali oleh akal sehat
  • Kudus dan berbahagia dalam ketaatan kepada Allah

Secara fisik dia:

  1. Berukuran tinggi semampai dan simetris sempurna.
  2. Wajahnya tampak merah merona, menandakan kesehatan, dan bersinar dengan cahaya serta kegembiraan hidup.
  3. Perawakan Adam jauh lebih baik daripada manusia yang sekarang mendiami bumi. Hawa sedikit lebih pendek daripada Adam; namun demikian, bentuk tubuhnya pun mulia dan penuh keindahan.

Manusia telah diciptakan untuk memerintah di bawah kendali Allah, dan bukan untuk mendominasi orang lain atau menjadi budak hawa nafsunya sendiri.

2. Perempuan: Penolong yang Sepadan, Bukan Bawahan

Allah sendiri yang telah memberi Adam seorang pendamping. Dia menyediakan baginya seorang “penolong yang sepadan dengan dia,” seseorang yang benar-benar sesuai dengannya, seseorang yang layak dan pantas menjadi pendampingnya, dan yang dapat bersatu dengannya dalam kasih dan simpati.

Hawa diciptakan dari tulang rusuk yang diambil dari sisi Adam; ini menandakan:

  • Bahwa dia (Hawa) tidak boleh memerintahnya (Adam) sebagai kepala keluarga,
  • Ia pun tak boleh dipermalukan dan diinjak-injak di bawah kakinya sebagai makhluk yang lebih rendah,
  • Dia harus berdiri di sisinya sebagai sosok yang setara dengannya, untuk dicintai dan dilindungi olehnya.

Sebagai bagian dari manusia, tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya, dia (Hawa) adalah diri keduanya (Adam); dan dengan demikian jelaslah terlihat ikatan yang erat dan penuh kasih sayang yang seharusnya ada dalam hubungan ini: “Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya.” “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Efesus 5:29; Kejadian 2:24) —Patriarchs and Prophets, hlm. 42.

3. Akar dari Krisis Modern

Kita harus bersyukur kepada Allah atas cara-Nya yang luar biasa dalam menciptakan laki-laki dan perempuan. Allah telah menempatkan masing-masing pada tempatnya, dengan fungsi yang berbeda. Namun, setelah dosa, kita membaca bahwa manusia, meskipun diciptakan dengan peran-peran yang telah ditentukan, tidak lagi puas dengan bagaimana Pencipta mereka menciptakan mereka. Di situlah krisis dimulai baik pada laki-laki maupun perempuan. Ketika manusia tidak lagi selaras dengan Allah, maka ketika itulah mereka berada dalam krisis.

Dalam sejarah Alkitab, kita membaca tentang laki-laki dan perempuan yang dipanggil Allah yang, karena tidak menaati perintah-Nya, mengalami krisis. Dewasa ini, di akhir zaman ini, krisis tersebut justru semakin intensif: para lelaki tidak lagi puas dengan peran mereka, dan begitu pula perempuan. Terjadi pula perubahan peran di rumah, di masyarakat, dan di tempat kerja, serta munculnya organisasi feminis yang mempromosikan pemberdayaan perempuan, dan juga homoseksualitas, yang semuanya telah menyebabkan hilangnya penghargaan yang sejati terhadap manusia sebagaimana Allah menciptakannya. Peran laki-laki dan perempuan sedang diserang. Tujuan sejati Allah dalam menciptakan manusia berada dalam bahaya di bawah standar dunia modern, seperti halnya pada zaman sebelum banjir dan di Sodom dan Gomora.

Setelah berbuat dosa, manusia berhenti merasa puas dengan tempat yang telah ditetapkan Allah bagi mereka. Saat ini hal itu terwujud dalam:

  • Kebingungan ataupun kekacauan dan kesimpangsiuran peran
  • Penolakan terhadap otoritas rohani
  • Ideologi yang mengadu domba kaum laki-laki dengan perempuan
  • Model keluarga yang asing bagi Alkitab (bertolak-belakang dengan Alkitab)

Ketika seseorang berhenti tunduk kepada Allah, maka ia memasuki krisis:

Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah.” Roma 8:7.

4. Yusuf: Maskulinitas yang Melindungi

Yusuf menunjukkan tabiat seorang laki-laki sejati ketika ia melindungi martabat Maria: “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” Matius 1:18–19. Menurut hukum Yahudi, Maria seharusnya dirajam, tetapi Yusuf tidak ingin mempermalukannya demikian. Ia memilih untuk tidak menuduhnya, melainkan menceraikannya secara diam-diam. Dengan demikian ia melindungi reputasi dan kehormatan Maria. Seorang laki-laki—sebagai ayah, anak, saudara, dan suami—adalah yang melindungi, membela, dan merawat keluarganya.

Orang yang berkenan di hati Allah akan senantiasa bersifat melindungi; ia tidak akan sembarangan menyingkapkan sesuatu.

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, … supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” Efesus 5:25–33.

5. Abraham: Iman yang Menunggu

Ketaatan dan kepercayaan Abraham kepada Allah: “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” Ibrani 11:8. Ketaatan Abraham yang tanpa syarat adalah salah satu bukti iman yang paling luar biasa dalam seluruh Kitab Suci. Dengan mempercayai janji ilahi, tanpa jaminan eksternal apa pun akan terpenuhinya janji itu, ia meninggalkan rumahnya, sanak keluarganya, dan tanah kelahirannya, dan pergi tanpa mengetahui ke mana ia akan pergi, setia pada tuntunan ilahi.

Oleh iman, ia berangkat ke tanah perjanjian, yakni ke negeri yang belum diketahuinya sebelumnya, tinggal di dalam kemah-kemah bersama Ishak dan Yakub, ahli waris bersama dia dari janji yang sama.” “Abraham telah menerima tanpa ragu janji akan seorang putra, tetapi ia sempat tidak menunggu Allah untuk memenuhi firman-Nya pada waktu dan cara-Nya sendiri. Penundaan sebenarnya telah diizinkan, untuk menguji imannya akan kuasa Allah; tetapi ia gagal menanggung ujian itu. Karena menganggap mustahil seorang anak akan diberikan kepadanya di usia tuanya, Sarah menyarankan, sebagai rencana agar tujuan ilahi dapat dipenuhi, agar salah satu hamba perempuannya diambil oleh Abraham sebagai istri kedua. Poligami telah menjadi begitu meluas sehingga tidak lagi dianggap sebagai dosa, tetapi itu tetap merupakan pelanggaran hukum Allah, dan berakibat fatal bagi kesucian dan kedamaian hubungan keluarga.” —Patriarchs and Prophets, hlm. 145.

Dalam kisah ini, Abraham, bapa orang beriman, telah gagal dalam ujian. Karena menganggap mustahil memiliki anak laki-laki di usia tuanya, dan mendengarkan Sarah dan bukannya berkonsultasi dengan Allah, ia mendatangkan masalah serius ke dalam rumahnya, dengan konsekuensi yang mengerikan bagi keturunannya. Abraham taat, tetapi ia gagal ketika ia berhenti menantikan Allah. Orang yang berada dalam krisis cenderung bertindak karena kecemasan; orang yang rohani percaya.

6. Salomo: Ketika Kekuatan Hilang

Salomo adalah contoh alkitabiah seorang laki-laki yang mengalami krisis moral dan rohani. Meskipun ia memulai pemerintahannya dengan kebijaksanaan dan kesetiaan kepada Allah, namun kemudian ia menyimpang dengan menjalin persekutuan dengan perempuan-perempuan kafir, mengadopsi kebiasaan asing dan penyembahan berhala. Hal ini melemahkan tabiatnya, imannya, dan pengendalian dirinya, mengubahnya menjadi raja yang tirani dan tidak bahagia. Kisahnya mengajarkan bahwa siapa pun yang menjauh dari Allah pasti akan kehilangan kekuatan dan martabat. Saat ini, banyak laki-laki yng sedang menghadapi masalah serupa, yakni kehilangan identitas, nilai-nilai, dan tujuan hidup dengan mengikuti model dunia modern, dimana kesuksesan dan kesenangan sedang menggantikan kebijaksanaan, kesetiaan, dan perhubungan rohani.

Dari salah satu raja terbesar yang pernah memegang tongkat kerajaan, Salomo menjadi seorang yang bejat, alat dan budak orang lain. Tabiatnya, yang dulunya mulia dan gagah berani, menjadi lemah dan tak berdaya. Imannya kepada Allah yang hidup telah digantikan oleh keraguan yang ateistik. Ketidakpercayaan ini merusak kebahagiaannya, melemahkan prinsip-prinsipnya, dan merendahkan hidupnya. Keadilan dan kemurahan hati di awal pemerintahannya berubah menjadi kesewenang-wenangan dan tirani. Kasihan, sungguh lemah sifat manusia! Allah tidak dapat berbuat banyak bagi manusia yang kehilangan rasa ketergantungan mereka kepada-Nya.” —Prophets and Kings, hlm. 58. Ketika manusia memisahkan diri dari Allah, maka ia kehilangan kendali diri dan martabat mulianya.

7. Simson: Kekuatan Tanpa Tabiat yang Teguh

Simson memang kuat, tetapi tidak disiplin. Kebiasaan dan perilaku orang tua, terutama ibu, secara langsung memengaruhi kesejahteraan fisik, mental, dan moral anak-anak mereka. Allah telah memberikan petunjuk khusus kepada ibu Simson untuk memastikan bahwa putranya memiliki kualitas yang diperlukan untuk pekerjaan yang akan dilakukannya. Ditekankan bahwa pengendalian diri, kesabaran, dan praktik hidup dari prinsip-prinsip yang baik sangat penting, dan bahwa ketidaksabaran atau kebiasaan buruk orang tua (seperti alkohol, tembakau, atau perilaku tidak senonoh) dapat ditularkan kepada keturunan mereka, memengaruhi kesehatan, tabiat, dan moral mereka. Oleh karena itu, orang tua memiliki tanggung jawab yang serius dan langsung dalam pertumbuhan dan penentuan takdir anak-anak mereka, dan harus mempertimbangkan dengan cermat bagaimana mereka seharusnya berperilaku bahkan sebelum anak-anak mereka terlahir. —Patriarchs and Prophets, bab 54.

Simson menunjukkan bagaimana kurangnya pengendalian diri, juga ketergantungan pada kesenangan serta keinginan yang salah arah dapat menyebabkan hilangnya kekuatan dan tujuan hidup seseorang. Meskipun kuat, ia berulang kali menyerah pada manipulasi Delila, mengabaikan peringatan Allah dan mengandalkan dirinya sendiri dan bukannya mengandalkan Allah. Akibatnya, ia dikhianati, dilemahkan, dan dipermalukan.

Lalu datanglah raja-raja kota orang Filistin kepada perempuan itu sambil berkata: “Cobalah bujuk dia untuk mengetahui karena apakah kekuatannya demikian besar, … Orang Filistin itu menangkap dia, mencungkil kedua matanya dan membawanya ke Gaza. Di situ ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan pekerjaannya di penjara ialah menggiling.” (Hakim-Hakim 16:5, 21). Orang yang tidak mengendalikan hatinya sendiri akan dikendalikan oleh orang lain.

Kesimpulan

Untuk Diperhatikan!

  1. Para ayah harus aktif berpartisipasi dalam pendidikan anak-anak mereka, terutama anak laki-laki, dengan memberikan teladan maskulin yang dipandu oleh Allah, tanpa menggunakan kekerasan ataupun sikap keangkuhan.
  2. Para ibu, berhati-hatilah agar tidak menularkan ide-ide feminis atau kemandirian yang anti-laki-laki kepada putri-putrimu. Allah menghendaki agar para ayah membimbing anak-anak mereka dalam iman dan ketaatan, dan agar para ibu menjadi penolong ideal mereka, dengan kepercayaan kepada Allah.

Krisis manusia modern bukanlah karena kurangnya maskulinitas, melainkan karena kurangnya hadirat Allah. Ketika seorang laki-laki mau berbalik kepada Allah, berarti ia memulihkan identitasnya, pengendalian dirinya, dan kepemimpinan rohaninya. Kiranya Allah membangkitkan manusia-manusia yang memiliki hati yang berkenan kepada Kristus. Amin.

***