Bacaan 6 – Sabat, 16 Mei 2026
Oleh Str. Sunny Kang (Korea Selatan)
Zaman yang Berubah Cepat dan Nilai-Nilai Kebajikan yang Terlupakan
Abad ke-21 adalah era di mana perubahan yang sangat cepat dalam hal ilmu pengetahuan ataupun sains, budaya, dan teknologi adalah melampaui apa pun yang pernah kita ketahui sebelumnya. Dengan ponsel pintar atau internet, kita dapat berbicara dengan seseorang di seluruh dunia dalam hitungan detik, berkumpul untuk beribadah dan bekerja di ruang virtual, dan menerima berita dari seluruh dunia secara real-time. Namun di balik kemajuan yang menakjubkan ini terdapat suatu masalah serius. Nilai-nilai yang membentuk dasar hubungan—yakni kesopanan, rasa hormat, rasa syukur, dan kebaikan—secara bertahap mulai dilupakan.
Sebagai gantinya, telah merayap sifat egois, kekasaran, perbandingan dan keluhan yang tak berkesudahan, ketidakpedulian, kekosongan, kekerasan hati, dan bahkan kekejaman. Alkitab telah menubuatkan zaman seperti itu, dan masih mengajarkan kita bahwa, sebagai umat Allah, kita harus mencerminkan karakter Yesus. Dalam Kisah 13:22, Allah berbicara tentang Daud sebagai “seorang yang berkenan di hati-Ku.” Secara pribadi, saya menyukai ayat ini. Jika Yesus yang kita kasihi berkata kepada saya, “Engkau adalah orang yang berkenan di hati-Ku,” maka, adakah sukacita yang lebih besar dari hal ini? Jika kita benar-benar memahami apa artinya diperkenankan oleh Allah, berapa banyak kesulitan yang dapat diatasi, dan berapa banyak kesedihan yang dapat diubah menjadi ucapan syukur? Di hari-hari terakhir ini, ketika peristiwa-peristiwa mengejutkan hampir tidak lagi membuat kita terkejut, seberapa sering kita ingat bahwa Allah masih memerintahkan kita untuk tidak pernah meninggalkan nilai-nilai yang Dia hargai?

1. Kesopanan – Penghargaan yang Berasal dari Hati
Kesopanan bukan sekadar perilaku lahiriah atau formalitas sosial. Kesopanan sejati muncul dari hati yang benar-benar menghargai orang lain. Filipi 2:3-4 (KJV) mengatakan: “Janganlah berbuat apa pun karena kepentingan diri sendiri atau kesombongan. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri, janganlah memikirkan kepentinganmu sendiri, tetapi masing-masing hendaklah memikirkan kepentingan orang lain.” Jika tidak ada rasa hormat di dalam hati, maka kesopanan hanyalah bagai cangkang kosong. Tetapi ketika kita dengan tulus menghormati orang lain sebagai yang berharga, maka sikap ini secara alami akan terungkap dalam nada suara, ekspresi, dan perbuatan kita.
Ellen G. White menuliskan:
“Mereka yang bekerja untuk Kristus haruslah murni, jujur, dan dapat dipercaya, dan mereka juga harus berhati lembut, penuh belas kasihan, dan sopan.” —To Be Like Jesus, hlm. 178.
Dia juga menambahkan: “Ada daya tarik tersendiri dalam interaksi dan percakapan orang-orang yang benar-benar sopan. Kata-kata yang baik, tatapan yang menyenangkan, dan sikap yang ramah, memiliki nilai yang sungguh tiada terkatakan.” —Gospel Workers, hlm.122.
Di rumah saya sendiri, saya telah melihat kekuatan kata-kata sopan santun yang sederhana kepada anak-anak saya. Ungkapan singkat seperti “tolong,” “terima kasih,” “maaf,” atau bahkan “Saya sangat bersyukur bahwa Allah telah memberikanmu kepadaku sebagai anakku” mungkin tampak sepele, tetapi seiring berjalannya waktu kata-kata sopan santun ini menciptakan rasa hormat dan penghargaan yang hangat di hati mereka. Hal yang sama pun berlaku di gereja. Membukakan pintu, memberikan tempat duduk, atau dengan lembut memegang tangan anggota jemaat yang lanjut usia mungkin tampak kecil, tetapi di dalam hal-hal ini terdapatlah roh Kristus.
2. Rasa Hormat – Penghargaan yang Berasal dari Rasa Syukur
Rasa hormat lahir dari pengakuan akan nilai tinggi yang telah Allah berikan kepada tiap-tiap orang. Kejadian 1:27 mengingatkan kita: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Setiap orang layak dihormati, bukan karena prestasi atau kemampuan mereka, tetapi karena mereka telah diciptakan menurut gambar Allah. Rasa hormat yang sejati dengan demikian tidak dapat dipisahkan dari rasa syukur. Ellen G. White menulis: “Kasih karunia Kristus adalah untuk mengendalikan amarah dan suara. Karya kasih karunia ini akan terlihat dalam kesopanan dan perhatian yang lembut yang ditunjukkan oleh dalam hubungan persaudaraan, dalam perkataan yang baik dan yang memberi semangat.” —Christ’s Object Lessons, hlm. 102.
Dahulu kala ada seorang perempuan muda yang bertugas sebagai pianis di jemaat kami. Ia sering kesulitan, dan musiknya tidak selalu mengalir dengan lancar. Kesalahan-kesalahan yang berulang kali dilakukannya bisa saja menuai kritik, tetapi sebaliknya, kepadanya malah disampaikan perkatakan ini: “Usahamu adalah berkat yang besar bagi jemaat. Kamu melakukannya dengan baik.” Satu kata penyemangat itu, yang dipenuhi rasa hormat dan syukur, memberinya kekuatan. Hingga hari ini ia terus melayani sebagai pengiring utama di Daerah Korea. Rasa hormat bukan hanya sekadar memberi pujian; itu adalah melihat orang lain melalui mata Tuhan, dan mengenali nilai sejati mereka.
Cara Mempraktikkan Rasa Hormat di Rumah
- Mendengarkan — Memilih untuk Mendengar Terlebih Dahulu
- Saat anak berbicara, letakkan ponselmu dan lakukanlah kontak mata.
- Saat pasanganmu berbicara, gantinya langsung menawarkan solusi, katakanlah: → “Saya mendengarkan. Silakan lanjutkan.”
- • Sekalipun engkau merasa ingin menyela, tunggu sampai mereka selesai dan rangkumlah: → “Jadi yang kamu maksud adalah… jadi begini ya perasaanmu.”
Mendengarkan adalah tindakan pertama dari cinta kasih kita.
- Berbicaralah dengan Baik — Memilih Kata-kata yang Lembut
- Saat mengoreksi seseorang, hindarilah bahasa yang kasar.
- Gantinya bereaksi secara emosional, maka berhentilah sejenak, dan bicaralah dengan tenang: → “Bisakah kamu ceritakan kepada saya tentang apa yang sedang kamu pikirkan saat itu?”
- Saat engkau merasa ingin memberi perintah, maka pilihlah permintaan yang sopan: → “Kalau kamu lagi sempat, bisakah kamu melakukan ini?”
Nada bicaramu akan menentukan suasana rumahmu.
- Hormatilah Ruang Pribadi dan Barang Milik Orang Lain — Pilihlah untuk Selalu Bertanya Terlebih Dahulu
- Jika engkau ingin membuka meja, laci, atau menggunakan barang milik seseorang, tanyakanlah terlebih dahulu: → “Apakah boleh saya menggunakan ini?”
- Hormatilah privasi—hindarilah memeriksa ponsel atau barang pribadi seseorang: → “Saya menghormati ruang pribadimu.”
- Bertanggung Jawab di Rumah — Menunjukkan Rasa Hormat Mulai dari Perbuatan-Perbuatan Kecil
- Pulanglah tepat waktu seperti yang dijanjikan.
- Setelah mencuci pakaian, pasangkan dan susunlah itu, bahkan kaus kaki, dengan rapi.
- Jika engkau melihat sampah, pungutlah tanpa diminta ataupun disuruh.
- Menerima Perbedaan dengan Cinta — Memilih untuk Tidak Memaksa
- Jika pendapat berbeda, hindari bersikeras pada pendapat pribadimu.
- Gantinya mengatakan:
→“Saya rasa ini yang benar. Idemu yang salah.”
Katakanlah:
→ “Saya ingin mendengar pendapatmu. Mungkin saja kamu melihat sesuatu yang tidak saya lihat.” - Saat sedang memutuskan bersama-sama (misalnya tentang makanan, atau rencana akhir pekan), maka cobalah: → “Mari kita cari jalan tengah yang cocok untuk kita berdua.”
- Hindari Menyalahkan atau Mengejek — Pilih untuk Mencari Solusinya, dan Bukan Bertengkar
- Saat seseorang melakukan kesalahan, jangan menertawakan, mengkritik, atau mempermalukan mereka. → “Tidak apa-apa. Mari kita pikirkan solusinya bersama-sama.”
- Saat emosi memuncak, jangan langsung bereaksi. → Coba Tuliskan, ataupun luangkan waktu 10 menit, dan bicaralah saat sudah tenang.
- Berdoa Bersama dan Saling Memaafkanlah — “Doa Mengakhiri Konflik”
- Sebelum tidur, berpegangan tanganlah sebagai keluarga dan saling percayakan satu sama lain kepada Tuhan. → “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menjaga kami hari ini. Berilah kami pengertian dan kasih sayang satu sama lain.”
- Ketika konflik muncul, berdoalah terlebih dahulu: → “Mari kita berdoa dan kemudian berbicara lagi. Mungkin aku tidak memahami isi hatimu. Aku minta maaf. Aku menyayangimu.”
- Saat mengakui kesalahan, bicaralah dengan rendah hati: → “Seharusnya saya memang lebih berhati-hati. Saya juga ingin terus menjadi lebih baik lagi.”
Doa melembutkan hati, dan pengampunan memulihkan hubungan.
3. Rasa Syukur — Akar yang Menghasilkan Kebaikan
Rasa syukur bukanlah sekadar emosi sesaat; itu adalah cara hidup yang secara alami mengarah pada kebaikan. 1 Tesalonika 5:18 mengatakan:
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
Ellen G. White menuliskan: “Rasa syukur mengalir dari bibir yang tulus; dan penyegaran yang diterima dari Yesus akan dinyatakan dalam kata-kata, dalam perbuatan kebajikan yang aktif, dan dalam pelayanan kepada orang lain ataupun dalam ibadah.” —Our High Calling, hlm. 233.
Dalam keluarga kami, setiap kali kami pergi ke gereja, maka kami memiliki kebiasaan untuk menyiapkan buah terbaik yang bisa kami temukan dan membagikannya ketika tiba waktu makan dalam persekutuan itu. Kami ingin mengungkapkan rasa syukur kami kepada Allah dengan menawarkan hal-hal terbaik yang kami miliki. Awalnya, orang lain hanya mengamati. Tetapi setelah beberapa bulan, kami memperhatikan bahwa anggota jemaat lain juga mulai turut membawa yang terbaik. Tak lama kemudian, seluruh jemaat berbagi makanan berlimpah bersama-sama, mengungkapkan rasa syukur dan saling menghibur. Apa yang dimulai sebagai rasa syukur satu keluarga menjadi semangat kebaikan dan ucapan syukur yang menyebar ke seluruh jemaat.
Contoh Ungkapan Syukur dalam Keluarga Kristen
Cara Praktis untuk Mempraktikkan Rasa Syukur di Rumah
- Bersyukur kepada Allah Setiap Hari
Ungkapkan rasa syukur bersama sebagai keluarga saat bangun tidur atau sebelum tidur.
Contohnya:
- “Tuhan, terima kasih telah melindungi kami hari ini.”
- “Terima kasih telah menyediakan segala kebutuhan keluarga kami.”
- “Terima kasih telah memberi kami sukacita dan tawa hari ini.”
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” 1 Tesalonika 5:18
- Mengungkapkan Rasa Terima Kasih atas Perbuatan Baik Yang Kecil Sekalipun
Ucapkanlah terima kasih dengan segera—bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun.
Contohnya:
- Jika istri menyiapkan makanan: → “Terima kasih sudah memasak. Rasanya enak sekali.”
- Jika suami membuangkan sampah atau membawakan barang yang berat, ucapkanlah: → “Terima kasih atas bantuannya. Saya sangat menghargai itu.”
- Jika seorang anak membersihkan ataupun merapikan mainannya atau mengerjakan PR-nya sendiri: katakanlah → “Wah, mantap, kamu telah berhasil melakukannya sendiri! Terima kasih!”
- Jika orang tua mengantarkanmu ke suatu tempat, katakanlah: → “Terima kasih telah mengantar saya. Saya sampai tepat waktu berkatmu.”
Rasa syukur akan mengakui usaha orang lain.
- Menunjukkan Rasa Terima Kasih Tidak Hanya dengan Kata-kata tetapi Juga dengan Perbuatan
Setelah mengucapkan “terima kasih,” ikutilah dengan perbuatan yang bermakna.
Contohnya:
- “Karena Ibu yang menyiapkan makanannya, jadi aku yang akan mencuci piring.”
- Jika anggota keluarga stres karena tidak dapat menemukan sesuatu: maka katakanlah → “Izinkan saya membantumu mencarinya.”
- Ketika seseorang tampak lelah: → “Istirahatlah. Aku akan membuatkanmu minuman segar.”
Rasa syukur bukan hanya perasaan—tetapi juga akan terlihat dalam perbuatan.
- Memilih Selalu Bersyukur Bahkan di Saat-Saat Sulit
Rasa syukur adalah keputusan iman, bukan reaksi terhadap keadaan.
Contohnya:
- Ketika masalah tak terduga muncul: katakanlah → “Ini memang sulit, tetapi Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang baik untuk kita.”
- Ketika seorang anak mengalami kegagalan: → “Yang penting sudah berusaha dan sudah berani melakukannya. Mari kita coba lagi bersama.”
Memilih untuk bersyukur akan mengubah suasana, dari rasa takut menjadi keyakinan iman.
5. Kebaikan — Kekuatan yang Menghidupkan Kembali Kesopanan, Rasa Hormat, dan Rasa Syukur
Kebaikan lebih dari sekadar tindakan; itu adalah kekuatan yang menghidupkan kembali dan memperkuat kebajikan lainnya. 1 Korintus 13:4 mengatakan: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Saya masih ingat pengalaman saya ketika pertama kali saya mengunjungi sebuah gereja di mana saya tidak mengenal siapa pun. Saya disambut dengan senyuman hangat dan jabat tangan yang lembut. Meskipun saya merasa malu dan canggung, tindakan kebaikan sederhana itu meluluhkan hati saya. Menyapa pengunjung dengan senyuman atau beberapa kata sambutan mungkin tampak tidak penting, tetapi bagi orang itu, itu bisa menjadi alasan mereka untuk datang kembali. Kebaikan adalah kunci yang membukakan pintu menuju Injil. Ellen G. White menekankan: “Tetapi ketika kita mempelajari pelajaran yang ingin Kristus ajarkan kepada kita, maka kita menjadi bagian dari sifat-Nya; mulai saat itu kita pun akan mempraktikkan hidup-Nya. Teladan Kristus yang luar biasa, kelemah-lembutan-Nya yang tak tertandingi, yang dengannya Ia memasuki perasaan orang lain, yang menangis bersama mereka yang menangis, dan bersukacita bersama mereka yang bersukacita, pasti memiliki pengaruh yang mendalam pada tabiat semua orang yang mengikuti-Nya dengan tulus.” —The Ministry of Healing, hlm. 157.
6. Empat Kebajikan yang Saling Terkait — Berakar pada Kasih
Kesopanan, rasa hormat, rasa syukur, dan kebaikan bukanlah sifat-sifat yang terpisah. Keempatnya adalah buah yang tumbuh dari satu akar, yaitu: kasih.
- Dari menghargai orang lain muncullah kesopanan.
- Kesopanan melahirkan rasa syukur.
- Rasa syukur diungkapkan melalui kebaikan.
- Dan kebaikan memperkuat kesopanan, rasa hormat, dan rasa syukur lagi.
Di Korea, setelah ibadah, kaum muda di jemaat seringkali diajarkan untuk mendahulukan kaum tua saat mengantri untuk makan bersama. Kesopanan kecil ini membuat para orang tua berkata: “Betapa berharganya kaum muda kita! Kita bersyukur kepada Allah atas mereka.” Jika dipraktikkan dan dipelihara, semangat ini mendekatkan antar generasi, menciptakan komunitas yang saling menghormati dan harmonis.
Kesimpulan — Misi Kita dalam Keluarga dan dalam Jemaat
Saat ini kita sedang hidup di dunia di mana percakapan telah menjadi kurang sopan santun, rasa syukur jarang ditemukan, dan kebaikan semakin memudar. Tetapi sebagai umat Allah, kita dipanggil untuk menempuh jalan yang berbeda. Ketika rasa hormat, rasa syukur, kebaikan, dan kasih sayang dihidupkan kembali di rumah kita, maka hal itu akan menjadi kesaksian bagi dunia. Keluarga menjadi jemaat kita yang pertama—yakni sebagai ladang misi yang pertama harus kita garap.
Dalam pelayanan musik saya, saya sering merasa tidak mampu dan takut. Tetapi berulang kali, orang-orang menyemangati saya: “Musikmu menghiburku. Allah menyertaimu. Aku berdoa untukmu.” Melalui ini, saya belajar sesuatu yang penting: Dorongan dan kebaikan memiliki kuasa. Keduanya berkuasa mengubahkan orang. Dan hal yang sama juga berlaku di dalam rumah. Setiap kata yang penuh hormat, setiap sikap bersyukur yang dinyatakan, dan setiap perbuatan kebaikan dalam keluarga kita akan menyatakan tabiat Kristus. Kebangunan rohani dalam keluarga akan menjadi kebangunan rohani di Jemaat. Dan kebangunan rohani di Jemaat pun akan menjadi terang bagi dunia. Amin!
***