Bacaan 7, Sabat 23 Mei 2026
Oleh Pr. Lauro Vasconcelos (Brazil / Paraguay)
Para pembaca yang terkasih: Kiranya damai sejahtera Kristus berkuasa di dalam hati kita.
Kita sedang hidup di dunia di mana standar perilaku seringkali terdistorsi dan nilai-nilai moral menjadi semakin relatif. Sebagai seorang Kristen, kita sedang dipanggil untuk suatu standar yang lebih tinggi: integritas, kesetiaan, dan keselarasan dengan prinsip-prinsip Allah. Filipi 2:15 mengingatkan kita bahwa kita telah dipanggil untuk menjadi “tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.”

Pembelajaran ini merupakan undangan khusus bagimu, (khususnya) para laki-laki (suami), untuk merenung-renungkan panggilan untuk hidup dengan moral yang lurus, dan mengambil kepemimpinan yang etis dan rohani di rumahmu, di jemaat, dan di masyarakat, menunjukkan bahwa Allah memiliki standar yang didasarkan bukan pada kekuatan fisik, kekayaan, atau status, tetapi pada kesetiaan kepada apa yang adil dan benar.
Saat engkau membaca halaman-halaman dalam bacaan ini, semoga hatimu tersentuh oleh Roh Kudus untuk mengambil peran yang semakin langka dan yang diperlukan di zaman kita ini.
Definisi Moralitas
Menurut Kamus Bahasa Portugis Aurélio, moralitas mengacu pada “seperangkat aturan dan prinsip perilaku individu atau kelompok; yakni seperangkat nilai yang membimbing perilaku manusia mengenai apa yang benar atau salah.” Sebagai orang Kristen, kita memahami bahwa sumber dari semua moralitas adalah berasal dari Allah sendiri, yang telah mengungkapkannya kepada kita melalui hukum-Nya: “Hukum adalah ungkapan kehendak-Nya, dan melalui ketaatan kepada hukum itulah Allah telah bermaksud untuk menerima anak-anak manusia sebagai putra dan putri-Nya…. Jika manusia menaati hukum Allah melalui iman kepada Kristus, maka harta surga akan tersedia baginya.” –Sons and Daughters of God, hlm. 45.
Meskipun hukum dan moralitas adalah terwujud dalam konteks sejarah, budaya, dan agama, namun moralitas yang diwahyukan oleh Allah adalah menunjukkan bagaimana kita seharusnya bertindak, memperlihatkan apa yang benar dan apa yang salah. Etika, menurut Ensiklopedia Filsafat (Editora Voces), berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti “tabiat” ataupun “karakter,” “kebiasaan,” atau “cara hidup.” Ini menyiratkan perubahan yang mendalam dalam hati dan tabiat, membuat kita memahami, menghayati, dan secara bebas mempraktikkan konsep-konsep moral yang dijelaskan dalam hukum Allah. Nabiah di akhir zaman (Ellen G. White) telah menyatakan penekanan tentang pentingnya untuk hidup selaras dengan etika yang berlaku, sambil merenung-renungkan perintah-perintah Allah:
“Hukum adalah ungkapan pikiran Allah; ketika diterima dalam Kristus, maka hukum itu akan menjadi pikiran kita. Hukum itu akan mengangkat kita di atas kuasa keinginan dan kecenderungan alami, dan di atas godaan yang mengarah kepada dosa… Hukum Allah itu sempurna, yang mengubahkan jiwa.” –The Desire of Ages, hlm. 308.
Ini menunjukkan bahwa etika dan moralitas adalah saling melengkapi: moralitas memberi kita jalan ataupun cara untuk praktik hidup kita sehari-hari, dan etika memberi kita alasan yang memperkuat dan mengubahkan tabiat kita untuk hidup selaras dengan Allah. Oleh karena itu, hidup bermoral luhur bukanlah sekadar mengikuti aturan; itu adalah suatu keputusan harian yang sepenuhnya mengubahkan segenap pikiran, perkataan, dan perbuatan. Integritas adalah meterai kehidupan Kristen sejati; itu adalah cerminan tabiat Kristus dalam diri kita.
Kehidupan yang bermoral luhur sangat memengaruhi semua aspek keberadaan dan semua hubungannya, menciptakan rantai pengaruh positif yang melampaui persepsi kita. Setiap saat kita memengaruhi dan dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, jika tujuan kita adalah untuk mewakili Kerajaan Allah, kita harus terus-menerus menumbuhkan integritas, tanggung jawab pribadi dan sosial, koherensi ataupun keselarasan makna dalam hidup, disiplin, dan pengendalian diri; bukan sebagai kualitas opsional, tetapi sebagai fondasi penting untuk mencerminkan terang Kristus di dunia yang membutuhkan pola moral yang absolut. Moralitas tidak hanya harus diterapkan di rumah, tetapi juga merupakan pilar utama dalam kehidupan di jemaat, di mana setiap keputusan orang yang jujur akan mempengaruhi iman umat dan stabilitas kerohanian jemaat.
“Kuatkanlah Hatimu dan Berlakulah seperti Laki-Laki”: Panggilan untuk Menjadi Manusia yang Bermoral Baik
Ketika Daud mendekati akhir hidupnya, ia tahu bahwa kata-kata terakhirnya akan memiliki bobot yang sangat besar, bukan hanya bagi putranya yang akan naik takhta, tetapi juga bagi seluruh bangsa. Ini bukan saatnya untuk sekedar petunjuk yang sepele, atau nasihat tentang strategi militer atau pelajaran tentang politik atau ekonomi. Sepanjang hidupnya, Daud telah belajar bahwa tidak ada kesuksesan materi atau pencapaian eksternal yang benar-benar dapat menopang sebuah keluarga atau kerajaan. Oleh karena itu, ketika memanggil putranya Salomo, ia tidak memberinya serangkaian perintah tentang cara memerintah, tetapi menawarkan kepadanya prinsip penting, seruan untuk integritas moral dan tanggung jawab pribadi, yang diringkas dalam kata-kata sederhana tetapi bermakna dalam: “Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki.” 1 Raja-raja 2:2.
Dalam konteks ini, menjadi seorang laki-laki berarti tidak terbatas pada kondisi biologis atau kemampuan untuk melakukan fungsi eksternal semata, tetapi di atas segalanya adalah panggilan rohani yang menyiratkan tanggung jawab, kepemimpinan yang ber-etika, dan keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Alkitab menggambarkan laki-laki sebagai pemimpin moral di rumah, yakni sosok yang harus menetapkan standar perilaku, yang membimbing dengan teladan, dan yang melindungi integritas kerohanian keluarganya. Seorang laki-laki yang bermoral luhur akan mencerminkan tabiat Allah dalam hidupnya, menjadi yang pertama menghidupkan apa yang Dia ajarkan, dan menerapkan dalam praktik prinsip-prinsip yang membimbing rumahnya, jemaatnya, dan komunitasnya. Ia adalah seorang imam di rumahnya dan di antara orang-orang yang berada di bawah pengaruhnya.
Ellen G. White menggambarkan kemuliaan sejati manusia dengan cara yang selaras langsung dengan panggilan ini:
“Kebesaran dan kemuliaan sejati manusia adalah diukur dari seberapa besar kemampuannya untuk menaklukkan perasaannya, bukan dari besarnya kemampuan perasaannya untuk menaklukkan dirinya.” –Counsels to Parents, Teachers, and Students, hlm. 222.
Ini berarti bahwa kebesaran seorang laki-laki bukanlah diukur dari kekuatan fisik, kekayaan materi, atau keterampilan administratifnya, tetapi dari konsistensi tabiatnya dan komitmennya terhadap kebenaran dan keadilan. Seorang laki-laki yang bermoral luhur bukanlah orang yang hanya berbicara tentang prinsip atau sekedar memenuhi formalitas keagamaan; ia adalah orang yang hidupnya mencerminkan keselarasan makna hidupnya dan kejujuran bahkan dalam keheningan (kesendirian), dalam keputusan yang tidak dilihat siapa pun, dan pilihan yang menentukan nasib keluarganya dan reputasi rohani jemaatnya.
Konteks sejarah periode Hakim-Hakim secara dramatis menggambarkan konsekuensi dari ketiadaan laki-laki yang jujur dan bertanggung jawab. Alkitab mencatat: “Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” Hakim-Hakim 21:25. Selama periode sekitar 350 tahun ini, Israel mengalami siklus kemurtadan, penyembahan berhala, sinkretisme (percampuran) agama, dan kekacauan sosial, di mana tidak ada kepemimpinan moral ataupun kerohanian yang kokoh. Ketiadaan laki-laki yang bersedia mengambil tanggung jawab untuk membimbing dengan memberi contoh membuka ruang bagi masyarakat untuk terpecah belah dan membuat moralitas menjadi melemah. Setiap orang mengikuti pandangan ataupun pengertian mereka sendiri tentang apa yang benar, dan tanpa standar yang tegas demikian, keluarga pun menjadi kehilangan titik acuannya, dan jemaat juga dapat menyaksikan bagaimana kesaksian rohaninya menjadi melemah. Sama seperti rumah yang dibangun tanpa fondasi pasti akan runtuh, komunitas yang kekurangan sosok yang bermoral tinggi akan menjadi tidak stabil dan rentan terhadap penyimpangan etika, kekacauan keluarga, dan keruntuhan kerohanian, itulah sebabnya hamba Allah telah menyatakan bahwa,
“Kebutuhan terbesar dunia adalah kebutuhan akan manusia—manusia yang tidak dapat diperjual-belikan, yakni manusia yang di lubuk hatinya tulus dan jujur, manusia yang tidak takut menyebut dosa dengan namanya yang sebenarnya, manusia yang hati nuraninya setia pada kewajiban seperti jarum penunjuk arah yang senantiasa menunjuk ke kutubnya, yakni manusia yang akan membela kebenaran meskipun langit runtuh.” –Education, hlm. 57.
Kompas itu merupakan suatu perumpamaan yang mengungkapkan tentang sesuatu yang mendasar: orientasi moral manusia tidak hanya bergantung pada petunjuk eksternal, tetapi pada prinsip internal yang membimbingnya secara konsisten dalam segala keadaan. Bagi manusia, ini berarti bahwa keputusan, gerak tubuh, dan kata-katanya haruslah mencerminkan iman dan nilai-nilainya, bahkan ketika tidak ada seorangpun yang tampak melihatnya, dan membangun keselarasan dalam makna hidupnya dan kebenaran sebagai pola yang aman sehingga sesamanya, temannya, saudaranya, juga istri, dan anak-anaknya—bahkan semua orang di sekitarnya—dapat mengenali kehadiran Allah dalam hidupnya. Inilah kebaikan terpenting yang akan menang di bumi ini, “Tabiat yang luhur adalah lebih berharga daripada emas Ofir.” —Patriarchs and Prophets, hlm. 223.
Oleh karena itu, integritas ataupun kejujuran adalah inti dari moralitas manusia dan kata sifat pertama yang diberikan kepada manusia dalam kitab suci: “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:1). Kata “jujur” yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani tamim ini adalah menunjukkan kesempurnaan yakni kelengkapan, keselarasan batin, dan harmoni yang seimbang antara pikiran, perkataan, emosi, dan perbuatan.
Orang yang jujur mungkin bukanlah orang yang sempurna, tetapi hidupnya tidak akan terbagi ataupun terpecah-pecah; ia tidak hanya didasarkan pada pencapaian lahiriah, tetapi pada kejujuran hidup batinnya, pada keselarasan antara apa yang ia pikirkan, rasakan, dan lakukan. Dengan demikian, ia sepenuhnya menghidupkan apa yang diajarkan Paulus—”laki-laki adalah kepala istrinya, sama seperti Kristus adalah kepala jemaat”—berawal dari dalam diri, menyadari kebutuhannya akan kasih karunia, dan membiarkan Roh Kudus membentuk tabiatnya. Dengan memupuk kerendahan hati dan ketergantungan kepada Allah setiap hari, Roh Allah pun sedang mengembangkan dalam dirinya suatu kemampuan untuk mengendalikan emosinya, mengendalikan ego, dan mempraktikkan kesetiaan yang teguh pada prinsip-prinsip iman. Dengan cara ini, ia akan memancarkan rasa aman, stabilitas, dan teladan hidup yang baik ketika di rumah maupun di gereja, menyelaraskan otoritas moral dan rohani yang menginspirasi orang-orang di sekitarnya dengan keyakinan iman.
Di rumah, perannya sebagai ayah dan pemimpin rohani terwujud dalam perbuatan-perbuatan yang nyata: ia berdoa bersama keluarganya, mengajarkan Firman, membimbing dengan penuh kelemah-lembutan, mendisiplinkan dengan kasih, dan menjalankan tanggung jawab sehari-hari dengan bijaksana. Di jemaat, tabiat dan keteguhannya tercermin dalam cara ia melayani, berpartisipasi, memimpin, dan berhubungan dengan saudara-saudara-nya seiman. Berkat keteguhan dan kesaksiannya, iman umat pun menemukan kestabilan, persatuan diperkuat, dan dengan demikian, jemaat dapat melanjutkan misinya. Masalah, dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit, dapat ditangani dan diselesaikan; inilah orang yang dewasa dalam iman, sebagaimana yang digambarkan oleh Paulus: “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” 1 Korintus 13:11.
Pada titik ini kita harus bertanya pada diri kita sendiri: Apakah saya sedang menjalani panggilan saya sebagai seorang yang sedang menerima panggilan untuk memulihkan dan memperkuat tabiat pribadi saya? Apakah keputusan, kata-kata, dan perbuatan saya memang telah mencerminkan kesetiaan moral dan keselarasan dengan prinsip-prinsip Allah di rumah saya, di tempat kerja saya, dan di lingkungan pertemanan saya? Apakah teladan saya tiap-tiap hari telah berkontribusi untuk melestarikan dan memperkuat kehidupan kerohanian dan moral keluarga saya dan jemaat?
Kesimpulan
Menerima panggilan untuk menjadi sesosok laki-laki berarti mengakui bahwa pengaruh kita adalah meluas melampaui rumah kita sendiri. Setiap keputusan, setiap kata, dan setiap tindakan adalah kesempatan untuk mencerminkan integritas Kristus dalam keluarga, jemaat, dan masyarakat. Panggilan bagi seorang laki-laki yang jujur membutuhkan keberanian untuk menetapkan standar etika, dan disiplin untuk menegakkannya, serta konsistensi, sehingga hidup kita menjadi kesaksian yang terus menerus akan kesetiaan kepada Allah. Menjadi seorang laki-laki berarti bukan hanya sekadar menduduki peran sosial, tetapi juga menjalankan otoritas moral dengan tanggung jawab dan keadilan.
Di rumah, panggilan ini diterjemahkan ke dalam kepemimpinan rohani dan dalam pendidikan bagi anak-anak yang berdasarkan pada prinsip-prinsip yang teguh. Seorang ayah yang bermoral jujur akan mengajar dengan memberi contoh, membimbing dengan sabar, dan melindungi integritas spiritual keluarganya. Konsistensi antara kata dan perbuatan adalah menciptakan lingkungan di mana iman dapat diresapi maknanya dan dibagi-bagikan kepada yang lainnya, dan di mana anak-anak belajar membedakan antara yang benar dan yang salah, serta mengembangkan tabiat dan tanggung jawab. Keluarga menjadi skenario pertama di mana moralitas dan integritas diamati.
Di jemaat, laki-laki yang jujur menempati tempat penting sebagai penuntun dan panutan. Kekompakan, keadilan, dan kesetiaannya, yang diperoleh melalui hidup bersama Roh Kudus, akan memperkuat komunitas, dan mempersatukan iman umat, dan memastikan bahwa prinsip-prinsip ilahi memang dimengerti dan dilakukan. Ketiadaan kepemimpinan moral menyebabkan banyak masalah hubungan di antara saudara-bersaudara di gereja kita, tetapi kehadiran orang-orang yang jujurlah yang membangun pola yang aman yang menginspirasi rasa hormat, kepercayaan, dan persatuan. Setiap perbuatan yang diambil di bawah komitmen terhadap kebenaran ini adalah bagai obat penenang yang memungkinkan jemaat untuk berjalan menuju menjadi cerminan Kerajaan Allah di bumi.
Sebagaimana yang dikatakan Daud kepada anaknya, maka kami pun hendak mendesak semua saudara untuk “Kuatkanlah Hatimu dan Berlakulah seperti Laki-Laki” untuk menjadi pilar stabilitas, penuntun, dan teladan di rumah, di jemaat, dan di masyarakat, dan kiranya dengan kerelaan hati mau memenuhi panggilan Allah untuk hidupmu. Amin.
***