Bacaan 8, Sabat 30 Mei 2026
Oleh Pr. Adalicio Fontes (Portugal)
“Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” Kisah 13:22.
Rasul Paulus mengenang kisah Daud dalam salah satu pernyataan paling luar biasa yang dibuat Allah tentang seorang manusia. Allah berkata: “Aku telah mendapat (menemukan) Daud…” — sebagai seseorang yang menemukan sesuatu yang langka dan berharga.

Allah tidak mencari gelar, takhta, atau penampilan. Dia tidak hanya mencari seorang raja, seorang pejuang, atau seorang pemimpin. Dia mencari hati — yakni hati yang akan mengasihi-Nya, mendengarkan-Nya, dan menaati-Nya.
Dalam pernyataan ini, Allah mengungkapkan apa yang benar-benar penting bagi-Nya: bukan karunia, kekuatan, atau kedudukan, tetapi hati yang mau menaati dan yang menyenangkan (dikenan) Allah.
Daud tidak sempurna — ia sempat gagal, jatuh, dan menangis — tetapi di tengah semua pergumulannya, ada sesuatu di dalam dirinya yang dihargai Allah: hati yang peka terhadap suara-Nya, sikap yang tulus, dan siap bertobat.
Daud tidak bebas dari kesalahan, tetapi ia selalu mencari persekutuan dengan Allah.
Jawaban mengapa Daud dianggap sebagai orang yang berkenan di hati Allah ada dalam ayat yang sama: Daud melakukan semua kehendak Allah. Hal ini menimbulkan pertanyaan: Bagaimana mungkin Allah menyebutnya demikian jika ia justru telah melakukan dosa-dosa serius seperti perzinahan dan pembunuhan?
Kita banyak belajar tentang karakter Daud dalam kitab Mazmur, di mana ia membuka jiwanya untuk diketahui semua orang. Hidupnya ditandai oleh keberhasilan dan kegagalan, dan Alkitab menjelaskan bahwa ia jauh dari sempurna.
Yang membedakannya adalah hatinya tertuju kepada Allah. Daud memiliki keinginan yang mendalam untuk mengikuti kehendak Allah dan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya.
Sejak masa mudanya—sebagai gembala, prajurit, dan buronan—kita dapat melihat bagaimana keberanian, kesetiaan, dan ketergantungannya kepada Allah.
Seorang laki-laki yang berkenan di hati Allah akan menghadapi tantangan, tetapi bukan dengan kesombongan; ia menghadapinya karena ia percaya kepada Allah dan tetap setia ketika orang lain gagal.
Kemauan untuk mengorbankan kehendak sendiri demi memenuhi kehendak Allah adalah ciri khas seorang laki-laki yang berkenan di hati Allah.
Tiga Hierarki Prioritas Alkitabiah
Dalam kehidupan Kristen terdapat hierarki tiga prioritas:
1. Allah
Prioritas pertama dan terpenting adalah Allah — untuk belajar dari-Nya, mengasihi-Nya, dan hidup untuk-Nya.
Ketika Kristus ditanya: “Guru, manakah perintah yang terbesar dalam Hukum Taurat?” Ia menjawab:
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” Matius 22:36-38.
Tidak diragukan lagi: inilah dasar dari segala sesuatu.
2. Keluarga
Prioritas kedua adalah keluarga.
“Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” 1 Timotius 5:8.
Firman Allah telah berbicara tentang orang yang setia dan tidak setia, tetapi di sini Paulus melangkah lebih jauh: orang yang tidak peduli pada keluarganya sendiri adalah “lebih buruk daripada orang kafir.”
Kata “murtad,” yang terkait dengan bahasa Yunani ἀπιστέω (apisteó), berarti “tidak percaya” atau “tidak beriman.” Meskipun “murtad” dalam terjemahan kita berasal dari bahasa Latin, akar konseptualnya menunjuk pada orang yang menolak iman dan hidup dalam ketidaktaatan.
Ayat-ayat lain memperkuat tanggung jawab ini adalah: “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat.” (Efesus 5:25).
Seorang laki-laki yang mengasihi Allah, yakni yang memimpin keluarganya seperti seorang imam ke mezbah dan membawa mereka setiap hari ke hadapan Allah, adalah seorang laki-laki yang berkenan di hati Allah.
“Rumah adalah sekolah tempat semua orang dapat belajar bagaimana seharusnya mereka bertindak di jemaat. Ketika semua orang menjadi bagian dari anggota keluarga kerajaan (sorgawi), maka akan ada kesopanan sejati dalam kehidupan rumah tangga. Setiap anggota keluarga akan berusaha membuat kehidupan menjadi menyenangkan bagi setiap anggota lainnya. Malaikat-malaikat Allah, yang melayani mereka yang akan menjadi ahli waris keselamatan, akan membantumu untuk menjadikan keluargamu sebagai teladan keluarga yang surgawi. Biarlah ada kedamaian di rumah, maka akan ada kedamaian di dalam jemaat.” —Manuscript 60, 1903.
Seorang laki-laki yang berkenan di hati Allah tidak melimpahkan peran rohaninya kepada istrinya, jemaatnya, ataupun kepada pendeta; ia sendiri yang akan membimbing, mengajar, dan berdoa bersama keluarganya. Allah sedang mencari sosok laki-laki yang mengasihi-Nya dan yang mengatur rumah tangga mereka sesuai dengan hati-Nya.
Kesuksesan sejati bagi seorang laki-laki bukanlah dalam karier, harta benda, atau penaklukan, tetapi dalam mencerminkan tabiat Allah di dalam keluarganya.
3. Pekerjaan
Seorang laki-laki memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan materi dan kerohanian keluarganya, serta melindungi mereka dari ancaman fisik dan emosional.
Alkitab juga memberikan panduan mengenai pekerjaan ini:
“Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” 2 Tesalonika 3:10.
Pekerjaan adalah suatu tanggung jawab yang rohani, sebagai cerminan kesetiaan kepada Allah dan keluarga.
Dengan mengamati hierarki ini — Allah, keluarga, dan pekerjaan — kita melihat contoh-contoh alkitabiah seperti Daud, sebagai seorang yang berkenan di hati Allah.
Meskipun begitu dekat dengan Allah, Daud pun sempat menghadapi kegagalan besar dalam kehidupan keluarga. Namun ia adalah seorang yang telah dikasihi dan dipilih oleh Allah.
Hal ini membawa kita pada suatu perenungan: Jika Daud, dengan segala kesalahannya, dapat dianggap sebagai seorang yang berkenan di hati Allah, maka mengapa kita tidak dapat mencari kasih karunia yang sama?
Allah sungguh mengetahui keterbatasan kita, tetapi Ia juga menghendaki ketulusan hati kita.
“Apa pun dosa yang menghantui mereka, betapapun rendahnya mereka telah jatuh, ketika dengan penyesalan mereka datang kepada Kristus, maka Dia menerima mereka.” —The Ministry of Healing, hlm. 178.
Menjadi pribadi yang berkenan di hati Allah berarti menempatkan Allah di pusat kehidupan, keluarga, dan pada keputusan-keputusan yang dibuat.
Seorang Laki-Laki yang Bertobat dan Berusaha Memperbaiki Hubungan
Ketika Daud berbuat dosa, ia merendahkan diri di hadapan Allah dan mengakui kesalahannya (Mazmur 51).
Di rumah, seorang laki-laki yang berkenan di hati Allah tidak akan malu untuk meminta maaf ataupun memohon pengampunan.
Para orang tua, ketika kalian berbuat salah, akuilah kesalahan itu kepada anak-anakmu. Ini akan mendapatkan lebih banyak rasa hormat daripada sikap keras kepala dan kesombongan.
Pertobatan yang tulus akan membawa penyembuhan bagi keluarga. Seorang ayah yang mengakui kesalahannya berarti mengajarkan kerendahan hati dan kebenaran kepada anak-anaknya.
Daud telah berbuat dosa besar, tetapi ia tidak mengeraskan hatinya. Ia merendahkan diri, mengakui kesalahannya, dan berdoa:
“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah.” Mazmur 51:12.
Ketulusan Daud dalam mengakui kesalahannya adalah sungguh luar biasa. Ketika dihadapkan padanya, ia menunjukkan integritas dan kerendahan hati dalam mengakui dosanya. Ia memahami pentingnya pertobatan sejati, yang membantunya memperbaiki perilakunya.
Namun, mengakui dosa dan meminta pengampunan hanyalah setengah dari proses; setengah lainnya adalah pertobatan yang menghasilkan perubahan dalam kehidupan. Mazmur 51, di atas segalanya, adalah doa pertobatan Daud:
“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” Mazmur 51:3-4.
“Pertobatan sejati adalah lebih dari sekadar penyesalan atas dosa. Itu adalah penolakan yang kokoh terhadap kejahatan.” —Patriarchs and Prophets, hlm. 557.
“Pertobatan sejati akan menuntun seseorang untuk menanggung sendiri kesalahannya dan mengakuinya tanpa tipu daya atau kemunafikan. Seperti pemungut cukai yang rendah hati, yang tidak berani mengangkat matanya ke langit, ia akan berseru, ‘Ya Allah, kasihanilah aku, seorang berdosa,’ dan barangsiapa yang mengakui kesalahannya akan dibenarkan, karena Yesus akan memohonkan darah-Nya untuk jiwa yang bertobat.” —Steps to Christ, hlm. 40.
Orang yang berkenan di hati Allah tidak akan membenarkan dirinya sendiri — ia adalah seorang yang telah diubahkan.
Orang yang benar-benar beriman kepada Allah tidak didefinisikan oleh kesalahan yang ia buat, tetapi oleh pertobatan yang tulus dan keinginannya untuk taat. Daud tidak sempurna. Ia terkadang tersandung ketika bertindak tanpa berkonsultasi dengan Allah. Namun terlepas dari dosa-dosanya yang serius, ia mau mengakui kesalahannya dan mengaku bersalah.
Seorang Laki-Laki yang Berkenan di Hati Allah adalah Ia yang Berani dan Setia
Daud mempercayai Allah dalam menghadapi rintangan besar dalam hidup (1 Samuel 17). Ia percaya bahwa Allah adalah lebih besar dari tantangan apa pun dan senantiasa ia mengutamakan Allah dalam segala hal.
Seorang laki-laki yang berkenan di hati Allah adalah seorang pemberani, bukan karena ia tak terkalahkan, tetapi karena ia percaya. Ia secara rohani melindungi rumahnya dari pengaruh yang menjauhkan dari Kristus.
Seorang laki-laki yang saleh tidak hanya menyediakan kebutuhan secara finansial—namun, ia juga akan mengawasi secara rohani: berdoa, dapat membedakan yang benar dengan yang salah, dan menetapkan batasan yang menjaga iman, kasih, dan kemurnian di rumah.
Tanggung jawab seorang suami dan ayah adalah untuk menjaga kemurnian moral dan rohani serta kesetiaan kepada Allah.
Ellen White menyatakan: “Kebutuhan terbesar dunia adalah kebutuhan akan manusia—manusia yang tidak dapat diperjual-belikan, yakni manusia yang di lubuk hatinya tulus dan jujur, manusia yang tidak takut menyebut dosa dengan namanya yang sebenarnya, manusia yang hati nuraninya setia pada kewajiban seperti jarum penunjuk arah yang senantiasa menunjuk ke kutubnya, yakni manusia yang akan membela kebenaran meskipun langit runtuh.” —Education, hlm. 57.
Seorang Laki-laki yang Berkenan di Hati Allah adalah Seorang yang Mengendalikan Diri dan Tahu Cara Memimpin
“Bukti tertinggi kemuliaan seorang Kristen adalah pengendalian diri. Barangsiapa yang mampu berdiri teguh di tengah badai cercaan adalah salah satu pahlawan Allah.” — Messages to Young People, hlm. 124.
“Dia telah menaklukkan dirinya sendiri—yang adalah musuh terkuat yang harus dihadapi manusia.” —Messages to Young People, hlm. 134.
Menjadi seorang “laki-laki yang berkenan di hati Allah” dalam keluarga berarti: menjadi pemimpin dalam hal rohani, pelayan yang penuh kasih, dan teladan iman.
Seorang laki-laki telah dipanggil untuk memimpin rumah tangganya secara rohani, membimbing istri dan anak-anaknya dalam kekudusan dan ketaatan kepada perintah-perintah Allah.
Seorang laki-laki yang berkenan di hati Allah tidak akan memimpin dengan paksaan, tetapi dengan kasih. Ia menghargai dan menghormati istrinya, berbagi tanggung jawab rumah tangga, menunjukkan kelemah-lembutan, kesabaran, dan semangat Kristen.
Teladan utamanya adalah Kristus, yang mengasihi Jemaat-Nya tanpa pamrih dan dengan penuh pengorbanan. Demikian pula, seorang laki-laki harus mengasihi istrinya dengan kasih yang sama — menghormati pribadinya dan berjalan bersamanya dalam keharmonisan, serta selalu mengupayakan kesejahteraan dan persatuan keluarga.
“Lingkaran keluarga di rumah harus dianggap sebagai tempat suci, simbol surga, cermin tempat kita merefleksikan diri.” —The Adventist Home, hlm. 156.
Rumah mencerminkan hati. Jika Kristus berdiam di dalam hati, maka Dia pun akan berdiam di dalam rumah.
Teladan Kita yang Agung
Alkitab mengatakan bahwa Daud dianggap sebagai “orang yang berkenan di hati Allah.” Namun ia hanyalah model manusia, yang penuh dengan kekurangan dan keterbatasan.
Jauh di atasnya, kita menemukan Yesus—teladan tertinggi kita. Dialah Raja yang dengan setia memenuhi kehendak Bapa dan hidup sempurna dalam segala jalan-Nya. Dari keturunan Daud lahirlah Yesus Kristus, Putra Allah—teladan sempurna dari seseorang yang berkenan di hati Bapa.
Kristus telah datang ke dunia untuk mengajari kita bagaimana hidup demikian: yakni menyenangkan Allah dalam segala hal.
Keinginan hati kita membentuk tabiat, gaya hidup, dan keputusan kita. Karena itu, ada baiknya bila kita merenung-renungkan hal-hal ini: Apakah kita benar-benar ingin menyenangkan Allah, dan mencari hal-hal surgawi? Untuk ini, kita membutuhkan teladan yang pasti—kita perlu mengenal dan menjadi lebih serupa dengan Yesus Kristus.
Untuk Para Laki-laki yang Hidup Sekarang ini
Allah masih mencari orang-orang yang berkenan di hati-Nya, seperti yang telah Ia temukan pada Daud.
Saudaraku, bangkitlah! Allah melihat pergumulanmu, tanggung jawabmu, dan bahkan ketakutanmu yang tersembunyi. Ia tahu beban yang sedang engkau pikul dalam diam dan Ia siap untuk menguatkanmu.
Menjadi orang yang berkenan di hati Allah bukan berarti sempurna atau tidak pernah gagal. Itu berarti memiliki hati yang diserahkan kepada Allah—yakni hati yang belajar untuk mengasihi, taat, bertobat, melayani, dan bangkit untuk memulai lagi.
Jika engkau gagal, mulailah lagi. Jika engkau lelah, beristirahatlah di dalam Allah. Jika engkau tersesat, izinkanlah Roh Kudus membimbingmu.
Orang yang berkenan di hati Allah adalah orang yang bangkit bahkan ketika ia jatuh. Yang mencari bimbingan bahkan ketika ia tidak tahu ke mana harus pergi. Yang mengasihi dengan berani, bahkan ketika dunia mengatakan untuk mengeraskan hati.
“Apa pun dosa yang menghantui mereka, betapapun rendahnya mereka jatuh, ketika dengan penyesalan mereka datang kepada Kristus, maka Dia akan menerima mereka… Jika mereka ingin bekerja untuk mengangkat orang lain dari jurang kehancuran dari mana mereka sendiri telah diselamatkan, maka berikanlah mereka kesempatan.” —Temperance, hlm. 116.
Engkau adalah bernilai penting bagi keluargamu, jemaatmu, dan generasimu. Dan Allah senang berjalan bersama orang-orang yang, seperti Daud, berkata:
“Ya Tuhan, inilah aku. Tuntunlah aku.” (Mazmur 139:23-24)
Laki-laki yang berdoa sebelum bertindak. Yang mengasihi Allah melebihi dunia. Yang mengasihi keluarga mereka dengan setia. Yang bangkit ketika jatuh. Yang membiarkan Allah membentuk tabiat mereka.
Para laki-laki, ayah, suami — Allah masih mencari hati yang seperti hati Daud. Apa yang telah menggantikan Allah dalam hidupmu? Apakah hatimu telah benar-benar tertuju kepada Allah? Dalam hal apakah engkau masih perlu lebih taat lagi? Bagaimana keadaan hatimu di hadapan Allah? Dapatkah Dia memandangmu dan berkata: “Aku telah menemukan-mu, seorang yang berkenan di hati-Ku”?
Semoga semakin banyak lagi, laki-laki dan perempuan yang berkenan di hati Allah yang hadir di setiap rumah, sehingga keluarga mereka mencerminkan Kerajaan Surga di Bumi. Amin.
***