TEMA SEMESTER: PARA NABI BERBICARA (BAGIAN 2 – “YEHEZKIEL & DANIEL”)
Pelajaran 19, Sabat 9 Mei 2026
GUA SINGA
“Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan.” Mazmur 37:37.
“Ketika Darius orang Media itu naik tahta yang sebelumnya diduduki oleh penguasa Babel, ia segera mengatur ulang pemerintahan. Ia ‘menunjuk seratus dua puluh pangeran untuk memerintah kerajaan;… dan tiga presiden untuk memimpin mereka; di antara mereka Daniel adalah yang pertama…. Kemudian Daniel ini diangkat lebih tinggi daripada para presiden dan pangeran, karena ia memiliki roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya sebagai penguasa seluruh kerajaan.’ (Daniel 6:2-4).” —Patriarchs and Prophets, hlm. 539.
| MINGGU |
1. Apa yang terjadi pada Daniel setelah Babel ditaklukkan oleh bangsa Media dan Persia?
Daniel 6:2-4 Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; 2(6-3)membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan. 3(6-4)Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya.
“Posisi Daniel bukanlah posisi yang nyaman. Ia berdiri di pucuk pimpinan kabinet yang tidak jujur, penuh tipu daya, dan tidak beriman, yang anggotanya mengawasinya dengan mata tajam dan iri hati, untuk mencari kekurangan dalam perilakunya. Mereka menempatkan mata-mata untuk mengawasinya, untuk melihat apakah mereka dapat menemukan sesuatu yang menentangnya dengan cara ini. Setan lalu menyarankan kepada orang-orang ini sebuah rencana agar mereka dapat menyingkirkan Daniel. Gunakan agamanya sebagai sarana untuk menghukumnya, kata si musuh.” —The Youth’s Instructor, 1 November 1900.
| SENIN |
2. Tidak lama kemudian, konspirasi apakah yang direncanakan dan dijalankan oleh para pejabat Media-Persia?
Daniel 6:5-10 Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya. 6Maka berkatalah orang-orang itu: “Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!” 7Kemudian bergegas-gegaslah para pejabat tinggi dan wakil raja itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ya raja Darius, kekallah hidup tuanku! 8Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa 9Oleh sebab itu, ya raja, keluarkanlah larangan itu dan buatlah suatu surat perintah yang tidak dapat diubah, menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.” 10Sebab itu raja Darius membuat surat perintah dengan larangan itu.
“Bagi orang-orang yang berkedudukan tinggi, menempuh jalan integritas yang teguh mungkin merupakan hal yang sulit, baik ketika menerima pujian maupun celaan. Namun, inilah satu-satunya jalan yang aman. Semua imbalan yang mungkin mereka peroleh dengan menjual kehormatan mereka hanyalah seperti hembusan napas dari bibir yang tercemar, seperti ampas yang akan terbakar dalam api. Barangsiapa yang memiliki keberanian moral untuk menentang kejahatan dan kesalahan sesama manusia—mungkin sesama mereka yang dihormati dunia—akan menerima kebencian, penghinaan, dan fitnah yang keji. Mereka mungkin akan digulingkan dari kedudukan tinggi mereka, karena mereka tidak mau dibeli atau dijual, karena mereka tidak dapat dibujuk dengan suap atau ancaman untuk menodai tangan mereka dengan kejahatan. Segala sesuatu di bumi mungkin tampak bersekongkol melawan mereka; tetapi Allah telah membubuhkan meterai-Nya pada pekerjaan-Nya sendiri. Mereka mungkin dianggap oleh sesama manusia sebagai lemah ataupun payah, tidak jantan, dan tidak layak memegang jabatan; tetapi betapa berbedanya pandangan Yang Mahatinggi terhadap mereka. Mereka yang menghina mereka adalah orang-orang yang benar-benar bodoh. Meskipun badai fitnah dan cercaan mungkin mengejar orang yang berintegritas sepanjang hidupnya, bahkan menghantam kuburnya, namun Allah telah menyiapkan yang “baik sekali” untuknya. Kebodohan dan kejahatan paling banter hanya akan menghasilkan kehidupan yang penuh kegelisahan dan ketidakpuasan, dan pada akhirnya bantal kematian yang penuh duri. Dan betapa banyak orang, ketika mereka melihat atau menyadari perbuatan mereka dan hasilnya, malah terdorong untuk mengakhiri karier mereka yang tidak terhormat dengan tangan mereka sendiri. Dan di luar semua ini menanti Penghakiman, dan hukuman terakhir yang tak dapat diubah menyatakan, Enyahlah kamu!” —Signs of the Times, 2 Februari 1882.
| SELASA |
3. Apakah yang dilakukan Daniel ketika dia mengetahui tentang rencana jahat itu?
Daniel 6:11-12 Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. 12Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.
“Musuh-musuh nabi mengandalkan keteguhan Daniel pada prinsip untuk keberhasilan rencana mereka. Dan mereka tidak salah dalam penilaian mereka terhadap tabiatnya. Ia dengan cepat memahami maksud jahat mereka dalam menyusun perintah itu, tetapi ia tidak mengubah perbuatannya sedikit pun. Mengapa ia harus berhenti berdoa sekarang, ketika ia justru sangat membutuhkan doa? Lebih baik ia menyerahkan nyawanya sendiri daripada melepaskan harapannya akan pertolongan dari Allah. Dengan tenang ia menjalankan tugasnya sebagai kepala para pangeran; dan pada saat berdoa ia pergi ke kamarnya, dan dengan jendela terbuka menghadap Yerusalem, sesuai dengan kebiasaannya, ia menyampaikan permohonannya kepada Allah di surga. Ia tidak berusaha menyembunyikan perbuatannya. Meskipun ia tahu betul konsekuensi dari kesetiaannya kepada Allah, semangatnya tidak goyah. Di hadapan mereka yang merencanakan kehancurannya, ia tidak akan membiarkan dirinya menampakkan bahwa hubungannya dengan Surga telah terputus. Dalam segala urusan di mana raja berhak memerintah, Daniel akan taat; tetapi baik raja maupun dekritnya tidak dapat membuatnya menyimpang dari kesetiaannya kepada Raja segala raja.” —Prophets and Kings, hlm. 540.
| RABU |
4 . Apakah yang segera dilakukan para konspirator, dan bagaimana reaksi raja terhadap pengaduan mereka?
Daniel 6:13-16 Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: “Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?” Jawab raja: “Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.” 14Lalu kata mereka kepada raja: “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.” 15Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya. 16Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!”
“Daniel di dalam gua singa adalah Daniel yang sama yang berdiri di hadapan raja sebagai kepala di antara para menteri negara dan sebagai nabi Yang Mahatinggi. Seseorang yang hatinya senantiasa tertuju kepada Allah akan tetap sama, di saat cobaan terberatnya sebagaimana di saat kemakmuran, ketika terang dan kasih karunia Allah dan manusia terpancar kepadanya. Iman menjangkau hal-hal yang tak terlihat, dan memahami kenyataan yang bersifat kekal.” —Prophets and Kings, hlm. 545.
| KAMIS |
5. Bagaimanakah raja bersimpati oleh keseluruhan situasi tersebut?
Daniel 6:17-20 Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!” 18Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa. 19Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur. 20Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa.
“Ketika raja mendengar kata-kata ini, ia pun segera menyadari jebakan yang telah dipasang untuk hamba setianya. Ia melihat bahwa bukan karena semangat untuk kemuliaan dan kehormatan raja, melainkan kecemburuan terhadap Daniel-lah, yang telah menyebabkan usulan dekrit kerajaan. ‘Sangat sedihlah ia’ karena perannya dalam kejahatan yang telah terjadi, ia ‘berusaha hingga matahari terbenam’ untuk menyelamatkan sahabatnya ini. Para petinggi, mengantisipasi upaya raja ini, datang kepadanya dengan kata-kata, ‘Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah.’ Dekrit itu, meskipun telah dibuat dengan tergesa-gesa, tidak dapat diubah dan harus dilaksanakan.” —Prophets and Kings, hlm. 543.
| JUMAT |
6. Apakah yang membuatnya lega setelah mengetahuinya keesokan paginya? Kemudian, bagaimana keadilan ditegakkan?
Daniel 6:21-25 dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: “Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?” 22Lalu kata Daniel kepada raja: “Ya raja, kekallah hidupmu! 23Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.” 24Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya. 25Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.
“Allah tidak mencegah musuh-musuh Daniel untuk melemparkannya ke dalam gua singa; Ia mengizinkan malaikat-malaikat jahat dan orang-orang fasik untuk mencapai tujuan mereka; tetapi dengan hal itu, justru agar Ia dapat membuat pembebasan hamba-Nya menjadi lebih nyata, dan kekalahan musuh-musuh kebenaran dan keadilan pun menjadi lebih sempurna…. Melalui keberanian orang ini yang memilih untuk mengikuti kebenaran daripada politik, Setan dikalahkan, dan nama Allah pun dimuliakan dan dihormati.” —Prophets and Kings, hlm. 543.
| SABAT |
7 . Apakah yang ditetapkan Darius, dan bagaimanakah nasib Daniel?
Daniel 6:26-29 Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: “Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! 27Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. 28Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa.” 29Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu.
“Kepatuhan yang ketat terhadap kehendak Surga adalah membawa berkat duniawi maupun rohani. Teguh dalam kesetiaannya kepada Allah, dan tak tergoyahkan dalam pengendaliannya atas diri sendiri, Daniel, dengan martabatnya yang mulia dan integritasnya yang teguh, ketika masih muda, memenangkan ‘kasih dan sayang’ dari perwira kafir yang bertanggung jawab atasnya. Daniel 1:9. Karakteristik yang sama tetap menandai kehidupan selanjutnya. Ia dengan cepat naik ke posisi perdana menteri kerajaan Babel. Melalui pemerintahan raja-raja yang berlanjut secara berturut-turut, kejatuhan bangsa itu, dan pendirian kerajaan dunia lainnya, hikmat dan kepemimpinannya begitu hebat, dan begitu sempurna taktiknya, kesopanannya, kebaikan hatinya yang tulus, dan kesetiaannya pada prinsip, sehingga bahkan musuh-musuhnya pun terpaksa mengakui bahwa ‘mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia.’ (Daniel 6:5).” —Patriarchs and Prophets, hlm. 546.
| UNTUK PEMBELAJARAN TAMBAHAN |
“Pembelajaran yang cermat tentang bagaimana maksud Allah terlaksana dalam sejarah bangsa-bangsa dan dalam pernyataan Firman tentang hal-hal yang akan datang, akan membantu kita untuk mengenali dan mengerti nilai sebenarnya dari hal-hal yang terlihat dan yang tidak terlihat, dan untuk mempelajari tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Dengan demikian, dengan memandang hal-hal duniawi dalam terang kekekalan, maka kita dapat, seperti Daniel dan teman-temannya, hidup untuk hal-hal yang benar, mulia, dan kekal. Dan dengan mempelajari prinsip-prinsip kerajaan Allah dan Juruselamat kita dalam hidup ini, yakni kerajaan yang diberkati yang akan kekal selama-lamanya itu, maka kita akan dapat dipersiapkan pada kedatangan-Nya untuk masuk bersama-sama dengan-Nya ke dalam kepemilikan-Nya.” —Prophets and Kings, hlm. 548.
***